TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Para siswa Yudistira Music 2026 tampil dalam konser tahunan bertajuk ‘Young Virtuosi: A Journey Begins’.
Dalam konser tersebut, Yudistira Music juga menghadirkan kolaborasi antara siswa dan sejumlah musisi profesional dari Jakarta.
Jari-jari kecil bergerak di atas tuts piano, menghadirkan karya-karya piano klasik dalam sejumlah format, mulai dari piano solo hingga permainan musik kamar atau chamber music.
Hal itu diperlihatkan dalam konser tahunan Yudistira Music 2026 bertajuk "Young Virtuosi: A Journey Begins" di Radjawali Semarang Cultural Center, Kota Semarang, Minggu (30/8/2026).
Dalam konser itu, para siswa tampil dalam berbagai susunan, seperti piano dan violin, dua violin dan piano, serta chamber music dalam format trio, quartet, dan quintet.
Bagi siswa, permainan dalam kelompok membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan permainan rekan, menjaga tempo, dan menyesuaikan peran dalam sebuah komposisi.
Salah satu siswa yang tampil adalah Katelyn Janette. Dalam konser kali ini, Katelyn membawakan karya Wolfgang Amadeus Mozart.
Karya yang dimainkan Katelyn merupakan bagian dari repertoar musik klasik yang dipelajari para siswa.
Founder Yudistira Music, Midya Wirawan mengatakan, proses belajar piano tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memainkan sebuah karya.
"Belajar piano bukan hanya tentang memainkan nada dengan indah. Kami berkomitmen membangun dasar bermain piano klasik dengan teknik yang benar,” kata Midya kepada Tribun Jateng.
“Fondasi yang kuat adalah bekal yang sangat berharga dalam perjalanan bermusik mereka," sambungnya.
Fondasi tersebut, kata dia, dibangun melalui latihan yang dilakukan secara bertahap.
Siswa mempelajari teknik permainan, membaca dan memahami karya, kemudian mengembangkan kemampuan untuk membawakan repertoar di hadapan orang lain.
Dalam proses itu, menurut Midya, musik klasik juga memberikan pengalaman yang berkaitan dengan disiplin, ketekunan, konsentrasi, dan kesabaran.
Anak-anak tidak selalu langsung mendapatkan hasil dari latihan yang mereka lakukan.
Pengalaman tampil menjadi salah satu bagian dari proses tersebut.
Siswa harus mempersiapkan repertoar, berlatih secara rutin, dan kemudian memainkan karya di hadapan penonton.
Di atas panggung, permainan solo memberikan kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan hasil latihan sekaligus menghadapi pengalaman tampil secara langsung.
Kolaborasi
Pada tahun ini, Yudistira Music juga menghadirkan kolaborasi antara siswa dan sejumlah musisi profesional dari Jakarta.
Menurut Midya, kolaborasi dengan musisi profesional memberikan pengalaman yang berbeda.
Dalam permainan chamber music, setiap pemain memiliki bagian masing-masing yang harus dimainkan secara bersama-sama agar komposisi dapat berjalan dengan baik.
Midya mengatakan, pengalaman belajar tersebut tidak harus berakhir dengan pilihan untuk menjadi musisi profesional.
Setiap anak dapat memiliki hubungan yang berbeda dengan musik ketika mereka dewasa.
"Mungkin suatu hari nanti ada yang menjadi pianis profesional, ada yang memilih profesi lain, dan ada yang menjadikan piano sebagai teman setia untuk mengisi waktu dan menenangkan hati. Apa pun pilihan mereka kelak, semua yang mereka pelajari saat ini tidak akan pernah sia-sia," tuturnya.
Oleh karena itu, menurutnya, konser tahunan Yudistira Music tidak ditempatkan sebagai kompetisi untuk menentukan siapa yang memainkan karya dengan paling sempurna.
Fokusnya adalah memberikan ruang bagi siswa untuk menunjukkan perkembangan mereka setelah melalui proses latihan.
"Hari ini adalah momen bagi putra-putri kita untuk menunjukkan hasil dari latihan, usaha dan keberanian mereka. Hari ini adalah perayaan dari setiap proses yang telah dilalui," imbuhnya. (Idayatul Rohmah)