TRIBUNJATENG.COM, BLORA – Diah Sri Suyati (48), petani asal Dukuh Gayam, Desa Kedungwungu, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, memasang plastik pada jagung yang mulai tumbuh besar di lahannya.
Dengan telaten, satu per satu tongkol jagung dibungkusnya menggunakan plastik.
Itulah salah satu cara yang dicoba oleh Diah, untuk menyelamatkan tanaman jagungnya dari serangan hama tikus.
Serangan tikus tahun ini membuat Diah harus melakukan cara yang sebelumnya tak pernah dilakukannya.
"Kalau saya, jagung usia dua bulan mulai dibungkus plastik. Baru tahun ini saya pakai cara seperti ini karena serangan tikusnya parah," kata Diah saat ditemui di lahan jagungnya, Sabtu (22/8/2026).
Lebih lanjut, Diah mengatakan, serangan tikus sudah terjadi sejak awal tanaman jagung ditanam.
Akibatnya, pertumbuhan tanaman menjadi tidak seragam dan jarak antartanaman terlihat renggang karena sebagian tanaman rusak bahkan mati.
"Jagung yang sudah dibungkus plastik aman. Tapi kemarin kan belum selesai bungkus plastiknya, malamnya sudah diserang tikus. Ini saya lanjutin lagi. Kalau yang sudah dibungkus, insyaallah tidak diserang," ujarnya.
Menurut dia, waktu serangan tikus berbeda-beda.
Ketika tanaman masih kecil, tikus bisa menyerang bagian batang.
Sementara ketika tanaman mulai besar dan memasuki fase berbunga hingga muncul jagung muda atau yang biasa disebut "kobot", tikus mulai menyasar bagian jagung.
Serangan kali ini juga terasa berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Diah mengaku tidak pernah memberikan perlakuan khusus pada tanaman jagungnya seperti memasang plastik pembungkus sebelum tahun ini.
"Baru tanam ini saja. Tahun-tahun sebelumnya enggak pernah seperti ini," katanya.
Berbagai cara dilakukan petani di sekitar lahannya untuk menghalau hama pengerat tersebut.
Selain membungkus jagung dengan plastik, ada petani yang menggunakan botol air mineral, gelas plastik bekas, hingga racun tikus.
Ada pula yang memasang plastik berbentuk menyerupai ular.
Cara tersebut dipercaya dapat membuat tikus takut dan menjauh dari tanaman.
Namun, penggunaan racun dinilai cukup memberatkan karena membutuhkan biaya tambahan.
Untuk mengantisipasi serangan pada malam hari, sebagian petani juga melakukan penjagaan di sawah.
Mereka berkeliling sambil membawa petasan untuk mengusir tikus.
"Kalau kata bapak-bapak serangan itu biasanya magrib sama subuh. Kalau malam ada yang menjaga sekitar jam sembilan sampai tengah malam, pakai petasan dan keliling," tuturnya.
Diah sendiri tidak bisa ikut berjaga di malam hari.
Sebab dirinya harus berjualan nasi goreng untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Meski demikian, ia tetap berusaha menyelamatkan tanaman jagungnya dengan metode membungkus tongkol menggunakan plastik.
"Metode ini ya kita coba-coba sendiri," katanya.
Tahun ini, Diah bersyukur persoalan air bukan menjadi kendala.
Ketersediaan air di wilayahnya relatif lancar.
"Kalau air, alhamdulillah, tahun ini lancar. Yang jadi tantangan serangan hama tikus," ujarnya.
Diah mengaku khawatir, apabila serangan tersebut terus terjadi hingga masa panen.
Terlebih, menurut dia, sejumlah petani di desa-desa sekitar Todanan bahkan sudah mengalami gagal panen akibat serangan tikus.
"Ya khawatir sih ada. Desa-desa sekitar Todanan itu sudah ada yang enggak bisa panen karena serangan hama tikus ini," katanya.
Di tengah kekhawatiran itu, Diah berharap, ada perhatian terhadap petani, terutama apabila tersedia bantuan untuk pengendalian hama tikus.
"Kalau ada bantuan obat tikus atau apa ya alhamdulillah. Tapi yang gratis begitu bantuannya," ucapnya.
Racun hama
Sementara itu di Desa Jukung, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang, hama tikus mengancam sekitar 2 hektare lahan tanaman jagung milik anggota Kelompok Tani (Poktan) Ngudi Lestari.
Mengantisipasi gagal panen total, Poktan Ngudi Lestari melayangkan surat permohonan bantuan rodentisida melalui Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Bulu dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) setempat.
Ketua Poktan Ngudi Lestari, Dwi Harsono, mengapresiasi kecepatan birokrasi dan tindakan dinas terkait yang segera menurunkan bantuan logistik racun hama.
"Alhamdulillah, responsnya sangat cepat. Kami langsung mendapatkan obat pembasmi hama sesuai pengajuan, dan hari itu juga kami bersama anggota langsung melakukan tindakan pengendalian di kebun demi memutus rantai persebaran tikus ke persawahan sekitar," ujar Dwi.
Untuk meminimalkan dampak kerusakan yang lebih luas, Dintanpan Rembang memastikan ketersediaan logistik bantuan obat dan pestisida berada dalam status aman berkat pasokan rodentisida dari POPT Provinsi Jawa Tengah.
Bantuan racun tikus tersebut telah didistribusikan ke kantong-kantong serangan aktif, dibarengi imbauan sanitasi lingkungan, pembersihan semak, dan opsi "gropyokan" massal.
Anung menegaskan agar para petani tidak terlambat berkoordinasi dengan petugas di lapangan demi efektivitas penanganan.
"Petani harus rutin melakukan pengamatan mandiri di lahan masing-masing. Segera laporkan ke PPL atau petugas POPT begitu mendeteksi indikasi awal hama, agar gerakan pengendalian bersama bisa langsung dieksekusi. Jangan menunggu sampai tanaman telanjur habis," imbuhnya. (M Iqbal Shukri/Mazka Hauzan Naufal)