Rayakan Kemerdekaan Pakai Cara Unik, Desa Jokerten Sukses Nguri-uri Budaya Lewat Pentas Rakyat
Hari Susmayanti September 01, 2026 07:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM - Warga Desa Jokerten, Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, memiliki cara tersendiri dalam merayakan bulan kemerdekaan. 

Tak sekadar menggelar lomba tradisional atau malam tirakatan yang biasa dilakukan, mereka menyelenggarakan sebuah acara bertajuk Jokerten Gelar Budaya. 

Berlangsung pada Sabtu (29/8/2026) sore hingga malam hari, perayaan ini secara unik memadukan semangat kemerdekaan dengan upaya nguri-uri budaya atau pelestarian kesenian lokal. 

Jokerten Gelar Budaya dikemas secara padat dan terbuka gratis untuk umum, menampilkan ragam pertunjukan mulai dari teater, tari flashmob Gugur Gunung, hingga suguhan musik Tribute to Koes Plus. 

Acara ini bukan sekadar hiburan, melainkan medium komunikasi antarwarga. 

Melalui persiapan selama satu bulan penuh, panitia memastikan perayaan ini dapat dinikmati secara gratis oleh seluruh kalangan, mulai dari balita hingga lansia. 

Langkah tersebut sekaligus dirancang sebagai momen untuk menyatukan warga dari dua Rukun Tetangga (RT) ke dalam satu identitas, yakni Desa Jokerten. 

Menghadapi Keresahan Sosial Melalui Pendekatan Seni

Di balik kemeriahan panggung, terdapat keresahan sosial yang menjadi pendorong acara ini. 

Panitia (Karang Taruna Tunas Mandiri) mengamati adanya pergeseran perilaku, khususnya pada generasi muda dan anak-anak, yang semakin individualis akibat paparan gawai. 

Terdapat satu momen ironis yang menjadi sorotan panitia, ketika kampung mengalami pemadaman listrik, anak-anak tetap asyik bermain game Mobile Legends tanpa mempedulikan lingkungan sekitarnya. 

Keresahan ini melahirkan konsep teater bertajuk “Layar Sumunar, Tradisi Tetep Ginelar” dan “Tata Krama, Tata Rasa, Tata Cara Manungsa”. 

Melalui lakon tersebut, panitia menghadirkan karakter ‘Joko’ yang menjembatani kebiasaan masa lalu seperti bermain jamuran dan cublak-cublak suweng dengan realitas anak zaman sekarang. 

Lebih dari sekadar kritik sosial, acara ini merupakan upaya untuk merekatkan kembali hubungan antargenerasi yang sempat berjarak. 

Gustaf, salah satu panitia acara, mengungkapkan tantangan dalam menyatukan pandangan masyarakat terkait pelestarian seni tradisional. 

"Tujuan utamanya sih lebih merangkulkan antara generasi tua dan generasi muda ya karena kan generasi tua generasi muda itu masih ada agak gimana ya kalau tentang budaya itu masih belum bisa terlalu sreg gitulah," jelasnya.

Acara ini turut melibatkan relawan mahasiswa dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta untuk melatih para penampil. 

Rifal, selaku Ketua Panitia, menekankan bahwa lunturnya budi pekerti di tengah arus modernisasi harus direspons dengan menanamkan kembali nilai-nilai kehidupan bermasyarakat. 

Ia menyoroti pentingnya tata krama agar kehidupan sosial warga desa tidak kehilangan arah. 

"Urip kan kudu ono tatanane, ono carane lah. nek urip ki ora meng waton kowe sekedar turu, tangi, madang, turu meneh. urip kan kudu ono laku tumindak sing becik mas (Hidup kan harus ada peraturannya, ada caranya lah, kalau hidup ini tidak hanya sekadar kamu tidur, bangun, makan dan tidur lagi, hidup kan harus ada perilaku yang terpuji mas)," ujar Rifal.

Baca juga: 20 Tangki Air Astra Motor Yogyakarta bagi Warga Gunungkidul yang Berjuang Menghadapi Kekeringan

Gotong Royong dan Kemandirian Ekonomi Warga

Keunikan lain dari Jokerten Gelar Budaya terletak pada kemandirian finansial dan pelibatan ekonomi warganya. 

Menyelenggarakan acara kebudayaan berskala kampung dengan tata panggung yang layak tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. 

Kepanitiaan menghadapi tantangan besar terkait pendanaan, mengingat mereka harus mengelola anggaran yang awalnya berada di bawah dua digit (10 juta rupiah). 

Alih-alih membebankan biaya sepenuhnya kepada warga melalui iuran wajib, panitia memilih strategi mencari sponsor luar. 

Selain pertunjukan seni, panitia juga memberdayakan UMKM setempat.

Terdapat lima penyewa stan yang memeriahkan area acara, dengan rincian dua dari warga Jokerten dan tiga dari wilayah luar seperti Maguwoharjo. 

Biaya sewa stan pun dibuat sangat terjangkau, yakni hanya sebesar Rp25.000. 

Kebijakan ini memiliki tujuan untuk menghidupkan roda perputaran ekonomi warga selama acara berlangsung tanpa memberikan beban modal yang berat bagi para pedagang kecil. 

Pengaturan ruang penonton juga dipikirkan secara matang. 

Panitia memplot area duduk sedemikian rupa agar warga lokal, sesepuh desa, pemuda, hingga penonton umum dari luar desa bisa menikmati acara dengan nyaman dan aman.

Upaya keras pemuda ini mendapat apresiasi penuh dari tokoh masyarakat setempat. 

Arifin, selaku warga sekitar, menyoroti esensi dari seluruh dedikasi panitia dalam mengorganisir acara ini. 

"Tujuannya adalah bagaimana supaya warga di sini itu kompak aja sih," ungkapnya.

Pada akhirnya, Jokerten Gelar Budaya membuktikan bahwa peringatan kemerdekaan dapat dikemas menjadi momen refleksi kebudayaan. 

Kolaborasi lintas generasi antara Karang Taruna, warga sepuh, dan seniman lokal tidak hanya menghasilkan tontonan yang menghibur, tetapi juga merawat guyub sosial berlandaskan gotong royong dan tata krama masyarakat Jawa. 

(MG Fauzan Ardana)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.