Oleh: Agustinus Gereda Tukan
Dosen, peneliti, dan penulis, tinggal di Merauke, Papua Selatan.
POS-KUPANG.COM - Dinding media sosial hari ini kian sesak oleh jemari keyboard warrior dan algoritma yang terus memantik api polarisasi, menjebak ruang publik dalam lingkaran debat kusir keagamaan yang bising namun miskin makna.
Di tengah hiruk-pikuk ini, kita perlu mengaktifkan kembali “seni masa bodoh”: sebuah keberanian untuk mengacuhkan riuh perselisihan identitas agar energi hidup tidak habis menguap dalam kesia-siaan.
Kuncinya terletak pada keberanian melampaui sekat formalitas, sebagaimana pesan abadi Gus Dur: “Kalau kamu berbuat baik, orang tidak perlu tanya apa agamamu.”
Baca juga: Opini: Seni Masa Bodoh di Era Digital
Melalui kacamata antropologi sosial, kebaikan autentik tidak pernah membutuhkan legitimasi dogmatis; ia menembus batas identitas dan bekerja secara senyap sebagai bahasa universal yang langsung menyentuh esensi kemanusiaan kita.
Dunia digital hari ini kerap memerangkap kita dalam arus hyper-reality ala Jean Baudrillard (Simulacra and Simulation, 1981), di mana pencitraan visual secara perlahan menggeser kedalaman realitas.
Fenomena kesalehan simulasi tumbuh subur ketika ruang siber dibanjiri narasi kesucian sepihak, menyebarkan narsisme spiritual melalui fitur unggahan maupun kutipan kitab suci yang terus dipamerkan.
Sebagai contoh, seorang pengguna media sosial tekun memproduksi konten bagi-bagi sembako demi mengumpulkan jutaan tanggapan netizen, namun membiarkan tetangga terdekatnya yang sedang menderita krisis ekonomi tanpa kepedulian nyata.
Ketika ruang publik virtual menyempitkan ajaran luhur menjadi sekadar komoditas politik identitas, nilai-nilai transenden bergeser fungsi menjadi atribut sosial untuk menandai batas kelompok.
Penganut kepercayaan terjebak dalam transaksi simbolis demi mengamankan status sosial di ranah maya, sementara kepekaan batin antarmanusia perlahan tergerus oleh kejaran algoritma.
Realitas ini tampak saat musibah banjir bandang melanda suatu daerah, atau gempa tektonik mengguncang Flores, beberapa pengguna internet justru sibuk memperdebatkan keyakinan para korban di kolom komentar ketimbang menggalang bantuan logistik secara riil.
Melalui lensa antropologi budaya, komodifikasi identitas ini mencabut spiritualitas dari akar sosiologisnya sebagai perekat rasa persaudaraan.
Ritual keagamaan yang seharusnya mengasah empati kini terdistorsi menjadi panggung performatif yang garing dari nilai kemanusiaan universal.
Padahal, kebaikan sejati tidak pernah membutuhkan kamera ponsel atau atribut komoditas untuk membuktikan keberadaannya di tengah jerat penderitaan sesama.
Secara antropologis, struktur sosial masyarakat Nusa Tenggara Timur memang dibangun di atas pilar ikatan kekeluargaan lintas iman yang kokoh.
Berbagai kajian budaya lokal selalu mencatat bahwa ikatan darah dan rahim kekerabatan ditempatkan jauh lebih tinggi daripada sekat doktrin.
Fenomena ini terlihat nyata dalam tradisi perkawinan adat di Flores Barat atau Alor, di mana keluarga Muslim dan Kristen bahu-membahu menanggung beban pesta serta ritual adat tanpa canggung.
Bagi warga NTT, etika tidak berhenti sebagai teori abstrak di layar gawai, melainkan wujud nyata living ethics yang dihidupi sehari-hari.
Ketika perayaan Hari Raya Idulfitri tiba di Manggarai, pemuda gereja berdiri menjaga keamanan halaman masjid, begitu pula pemuda Muslim mengawal jalannya Misa Paskah.
Praktik kepedulian spontan ini menegaskan bahwa kebaikan sosial telah menyatu dalam denyut nadi kebudayaan lokal, jauh sebelum media sosial mempopulerkan narasi keberagaman.
Kehangatan relasi ini diperkuat pula oleh prinsip-prinsip kearifan lokal seperti tolo di Sumba atau sola di Rote yang menekankan kesalingan tanpa pandang latar belakang.
Dalam praktiknya, saat kemarau panjang memicu krisis pangan, warga antarwilayah saling berbagi hasil panen tanpa pernah menanyakan dogma agama sang tetangga.
Baca juga: Opini: Paradoks Pembangunan Manusia Flores
Rasa persaudaraan melintasi batas institusi formal, menjelma menjadi jaring pengaman sosial alami yang menjaga keutuhan komunitas di tengah kondisi geografis yang menantang.
Di sinilah pesan Gus Dur menemukan “inang budaya” atau rumah spiritualnya yang paling alami.
Nilai kemanusiaan yang menembus batas identitas bukan lagi wacana asing, melainkan napas hidup yang sudah lama diwariskan oleh para leluhur Flobamora.
Masyarakat NTT membuktikan bahwa belas kasih tanpa pandang label adalah cara bertahan hidup yang paling bermartabat di tengah keberagaman.
Dalam perspektif etika eksistensial, tindakan menolong sesama memancarkan kebaikan universal yang berdiri mandiri tanpa bergantung pada syarat ideologis.
Sebagaimana digagas oleh Emmanuel Levinas dalam Totality and Infinity (1961), perjumpaan dengan Wajah Liyan (orang lain yang sedang menderita) menggugah tanggung jawab etis paling murni sebelum pikiran kita sempat menyematkan label dogmatis.
Ketika seorang nelayan menyelamatkan korban kapal tenggelam di tengah samudra lepas, nuraninya bergerak melintasi sekat keyakinan tanpa sempat menanyakan suku maupun agama sang korban.
Penghormatan terhadap martabat kemanusiaan menempatkan setiap individu pada derajat yang setara di hadapan Sang Pencipta.
Tuhan tidak diukur dari seberapa keras kita memenangkan perdebatan doktrinal, melainkan hadir dalam setiap helai napas mahluk-Nya yang kita selamatkan dari keputusasaan.
Seorang dokter yang mendedikasikan hidupnya merawat pasien kurang mampu di pedalaman tanpa membedakan latar belakang pada hakikatnya sedang mengamalkan bentuk penghambaan tertinggi yang melampaui sekat institusi keagamaan.
Kesadaran etis ini membongkar sekat egoisme spiritual yang sering kali mengerdilkan pesan suci menjadi sekadar pembenaran kelompok.
Saat bencana atau krisis sosial melanda, aksi nyata relawan kemanusiaan yang membagikan makanan di posko pengungsian tanpa memutus rantai bantuan berdasarkan identitas korban adalah cermin kepedulian yang murni.
Dalam relasi antarmanusia yang saling menopang ini, kebaikan mengalir tanpa syarat, membuktikan bahwa ketulusan batin jauh lebih nyaring bersuara daripada sebatas klaim kebenaran di media sosial.
Pada titik inilah, membela hak-hak hidup manusia menjadi jalan paling autentik untuk memuliakan Tuhan. Menjangkau tangan mereka yang terpinggirkan tanpa mempersoalkan asal-usul adalah perwujudan iman yang hidup dan membebaskan.
Ketika keadilan dan belas kasih menjadi bahasa bersama, kita tidak lagi menyembah sekat-sekat perbedaan, melainkan merayakan keagungan Sang Pencipta melalui pemuliaan atas seluruh ciptaan-Nya.
Pada akhirnya, sudah saatnya kita mengalihkan sisa energi dari perdebatan ruang cyber yang melelahkan menuju kerja-kerja kemanusiaan yang nyata di bumi nyata.
Kebijaksanaan dari tanah Flobamora dan pemikiran Gus Dur mengingatkan kita bahwa kebaikan sejati tidak pernah membutuhkan pengeras suara maupun tepuk tangan khalayak.
Ia bekerja bagaikan arus tenang di kedalaman samudra, hadir dalam kesenyapan, namun dampaknya mampu meretakkan tembok prasangka serta menghangatkan jiwa siapa saja yang tersentuh oleh keikhlasannya. (*)