Adu Dingin Kota Wisata: Menakar Pundi-Pundi Realisasi PAD Bukittinggi vs Pagar Alam
Yandi Triansyah September 01, 2026 08:27 AM

SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Sama-sama berdiri anggun di punggung Bukit Barisan, Kota Bukittinggi di Sumatra Barat dan Kota Pagar Alam di Sumatra Selatan adalah dua surga dataran tinggi yang menawarkan lanskap menawan.

Jika Bukittinggi megah dengan nostalgia Jam Gadang, eksotisme Ngarai Sianok, serta denyut budaya Minangkabau, maka Pagar Alam berdiri kokoh di hamparan kebun teh yang menyejukkan di kaki Gunung Dempo.

Namun, di balik sejuknya angin pegunungan dan daya pikat pariwisatanya, bagaimana kedua kota wisata ini menguji ketangguhan "kas dapur" mereka?

Data Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kemenkeu per 31 Agustus 2026 mencatat gambaran menarik dari potret Pendapatan Asli Daerah (PAD) kedua kota pesona ini.

Bukittinggi: Target Raksasa yang Masih Merangkak

Sebagai salah satu pusat ekonomi dan sejarah Sumatra Barat, Kota Bukittinggi memasang target PAD yang terbilang jumbo untuk tahun anggaran 2026, yakni mencapai Rp352 miliar.

Meski demikian, hingga pengujung Agustus 2026, laju serapan pundi daerahnya masih menghadapi tantangan cukup besar.

Realisasi yang terkumpul baru menyentuh angka Rp84 miliar atau sekitar 23,8 persen dari total target.

Penopang utama pemasukan Bukittinggi bertumpu seimbang pada dua sektor:

Pajak daerah: Rp35 miliar

Retribusi daerah: Rp35 miliar

Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan: Rp9 miliar

Lain-lain PAD yang sah: Rp4 miliar

Dominasi angka retribusi dan pajak daerah menggambarkan betapa kencangnya perputaran jasa, retribusi pariwisata, dan geliat usaha di kota ikonik ini.

Hanya saja, sisa waktu di akhir tahun menjadi ajang pembuktian apakah target raksasa tersebut mampu terkejar.

Pagar Alam: Target Terukur, Realisasi Lebih Lincah

Menyeberang ke Sumatra Selatan, Kota Pagar Alam mengambil langkah yang lebih terukur.

Dengan potensi perkebunan teh, air terjun, dan wisata alam yang asri, Pagar Alam menetapkan target PAD 2026 sebesar Rp101 miliar.

Meski secara nominal targetnya berada di bawah Bukittinggi, efektivitas penyerapan kas daerah Pagar Alam justru tampak lebih lincah.

Hingga akhir Agustus, realisasi PAD Pagar Alam sudah menembus Rp59 miliar atau mencapai 58,4 persen dari target tahunan.

Postur penerimaan Pagar Alam memiliki komposisi yang unik:

Lain-lain PAD yang sah: Rp37 miliar (kontributor terbesar)

Pajak daerah: Rp10 miliar

Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan: Rp8 miliar

Retribusi daerah: Rp2 miliar

Meluncurnya pundi-pundi dari pos Lain-lain PAD yang sah menjadi penggerak utama yang menjaga napas APBD Pagar Alam tetap stabil di pertengahan tahun ini.

Secara nominal target, Bukittinggi memang tampil sebagai "pemain besar" berkat padatnya aktivitas jasa dan pariwisata kota.

Namun dari segi persentase ketercapaian pertengahan tahun, Pagar Alam membuktikan efisiensinya dalam mengamankan lebih dari separuh target yang ditetapkan.

Kedua daerah ini terus berpacu: memanfaatkan keindahan alam demi menggerakkan roda ekonomi warga sekaligus mengencangkan ikat pinggang demi memenuhi kas daerah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.