PCNU Bangkalan Beri Pesan untuk Gus Kikin : Rangkul Semua Kader NU
Titis Jati Permata September 01, 2026 09:32 AM

 

SURYA.co.id, BANGKALAN - Tantangan kepemimpinan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak hanya berkaitan dengan konsolidasi organisasi, tetapi juga bagaimana nilai-nilai yang diwariskan para pendiri NU dapat diterima generasi muda.

Ketua PCNU Kabupaten Bangkalan, KH Makki Nasir, secara khusus menitipkan perhatian terhadap generasi Z kepada Gus Kikin setelah terpilih sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, Senin (31/8/2026).

Menurut Kyai Makki, ajaran KH Hasyim Asy'ari perlu diterjemahkan ke dalam bahasa dan pola pikir generasi masa kini agar tidak berhenti sebagai warisan sejarah.

"Pentingnya ajaran-ajaran Kyai Hasyim Asy'ari bisa ditransfer ke generasi penerus sekarang, sehingga bisa terbaca oleh alam pikiran generasi sekarang. Itu salah satu tugas beliau sebagai katalisator, sebagai penghubung," tegas Kyai Makki kepada SURYA.co.id, Senin (31/8/2026).

Ucapan Selamat untunk Gus Kikin 

Kyai Makki juga menyampaikan ucapan selamat sekaligus doa untuk Gus Kikin yang terpilih menahkodai PBNU periode 2025-2031.

Ia berharap Gus Kikin mendapat rahmat, pertolongan, serta kelancaran dalam menjalankan amanah sebagai pimpinan jam'iyyah NU.

"Semoga mendapatkan rahmat, pertolongan dari Allah dalam berkhidmat di PBNU, dan diberi kelancaran," ungkapnya.

Gus Kikin merupakan cicit KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU sekaligus pengasuh pertama Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Sejak 2020, Gus Kikin juga dipercaya meneruskan kepemimpinan pesantren tersebut setelah wafatnya KH Salahuddin Wahid atau Gus Solah.

Garis Keturunan dan Pesantren Jadi Modal Kepemimpinan

Kyai Makki menilai latar belakang Gus Kikin sebagai pengasuh pesantren besar serta bagian dari keluarga pendiri NU menjadi modal penting dalam memimpin PBNU.

Namun, ia mengingatkan bahwa seorang pemimpin tetap membutuhkan masukan dari banyak pihak.

"Beliau mempunyai potensi dan kompetesi, Gus Kikin juga pengasuh dan leader (pemimpin) dari pesantren besar. Namun sebagai manusia biasa, tentu beliau ada titik lemah dan membutuhkan masukan-masukan," terang Kyai Makki.

Karena itu, dukungan dari berbagai elemen NU dinilai penting agar kepemimpinan Gus Kikin dapat berjalan lebih kuat, terutama dalam menghadapi perubahan di era global.

Peran Rais Aam Dinilai Sangat Penting

Di sisi lain, Kyai Makki menyoroti posisi Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar yang kembali terpilih.

Menurutnya, Rais Aam memiliki peran strategis dalam memberikan arah moral dan keagamaan bagi organisasi.

"Nah ini yang harus menjadi perhatian dari berbagai kader NU agar Gus Kikin bisa mengisi kekosongan atau kekurangan (kelemahan sebagai manusia) tadi dengan hal-hal yang bagus. Terlebih di era global seperti sekarang ini," tegasnya.

Kolaborasi antara Ketua Umum dan Rais Aam diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan organisasi dengan nilai-nilai keagamaan yang menjadi pijakan NU.

Gus Kikin Diminta Rangkul Semua Kader

Selain regenerasi, Kyai Makki berharap kepemimpinan Gus Kikin menjadi momentum rekonsiliasi setelah dinamika yang muncul selama proses Muktamar Ke-35 NU.

Ia meminta seluruh potensi kader, termasuk mereka yang sebelumnya mencalonkan diri sebagai Ketua Umum maupun berada di kubu pendukung masing-masing kandidat, dapat dirangkul dalam kepengurusan dan perjuangan NU ke depan.

Menurutnya, persatuan tersebut penting agar NU dapat kembali fokus menjalankan amanah organisasi berdasarkan nilai-nilai yang diwariskan KH Hasyim Asy'ari.

Qonun Asasi Harus Dihidupkan di Generasi Sekarang

Kyai Makki menegaskan, Qonun Asasi yang disusun KH Hasyim Asy'ari tidak semestinya hanya menjadi dokumen sejarah atau bacaan dalam forum-forum NU.

Nilai yang terkandung di dalamnya, kata dia, harus diwujudkan dalam kehidupan organisasi dan ditransfer kepada generasi muda.

"Gus Kikin harus bisa melanjutkan hal itu. Qonun Asasi tidak hanya sekadar sebagai teori atau bacaan, namun harus betul-betul bisa ditransfer nilai-nilainya kepada generasi sekarang," pungkas Kyai Makki.

Pesan tersebut sekaligus menjadi harapan agar kepemimpinan baru PBNU tidak hanya memperkuat konsolidasi internal, tetapi juga mampu menjembatani warisan keilmuan pesantren dengan kebutuhan generasi muda di tengah perubahan zaman.

Jejak Syaikhona Kholil dan KH Hasyim Asy'ari

Hubungan historis antara Bangkalan dan berdirinya NU turut mewarnai pesan Kyai Makki.

KH Hasyim Asy'ari diketahui merupakan salah satu murid Syaikhona Kholil Bangkalan.

Dalam sejarah berdirinya NU, pesan spiritual Syaikhona Kholil kepada KH Hasyim Asy'ari melalui tongkat dan tasbih yang disampaikan lewat KHR As'ad Syamsul Arifin kerap dikenang sebagai bagian dari rangkaian perjalanan spiritual menuju lahirnya NU pada 1926.

Selain KH Hasyim Asy'ari, sejumlah murid Syaikhona Kholil juga memiliki peran penting dalam sejarah NU.

Di antaranya KH Abdul Wahab Chasbullah, pendiri Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, serta KH Bisri Syansuri, pendiri Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif, Jombang.

Dengan latar sejarah tersebut, Kyai Makki berharap kepemimpinan Gus Kikin dapat menjadi jembatan yang menyatukan warisan para ulama terdahulu dengan kebutuhan NU dan generasi penerus di masa mendatang.

Gus Kikin Ketua Umum PBNU

Ia terpilih secara mufakat oleh AHWA setelah KH Miftachul Akhyar lebih dahulu ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU.

Keputusan tersebut menjadi puncak dari rangkaian proses pemilihan dalam Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Senin (31/8/2026) pagi.

"Setelah melakukan musyawarah dari lima nama calon, maka AHWA secara mufakat memilih KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menjadi Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026-2031," kata KH Anwar Iskandar, perwakilan AHWA, saat membacakan hasil keputusan.

Terpilihnya Gus Kikin melalui forum AHWA sekaligus mengukuhkan namanya sebagai sosok yang sejak awal telah mendapat dukungan kuat dari peserta muktamar.

Unggul Sejak Tahap Penjaringan

Jauh sebelum keputusan AHWA diumumkan, Gus Kikin sudah menunjukkan posisi yang menonjol dalam tahap penjaringan calon Ketua Umum PBNU.

Dalam tabulasi yang diikuti 552 pemilik suara, setiap peserta berhak mengusulkan maksimal lima nama calon.

Dari proses tersebut, Gus Kikin memperoleh 472 suara, unggul jauh dibandingkan kandidat lainnya.

Besarnya dukungan itu kemudian menjadi salah satu modal penting ketika lima nama hasil penjaringan dibawa ke forum AHWA untuk dimusyawarahkan.

Kekuatan Gus Kikin tidak hanya terlihat dari dukungan dalam forum muktamar.

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, ia juga memiliki modal kultural yang kuat, terutama karena keterkaitannya dengan sejarah keluarga besar NU.

Gus Kikin merupakan cicit Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, salah satu pendiri NU.

Dari garis ibu, ia merupakan cucu Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, putri sulung Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy'ari.

Sementara dari garis ayah, nasabnya tersambung kepada KH Anwar bin Alwi, pendiri Pesantren Tarbiyatun Nasyi'in Paculgowang.

Gus Kikin merupakan putra KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma'shum.

Modal Kultural Berpadu dengan Pengalaman

Latar belakang keluarga tersebut menempatkan Gus Kikin dalam garis yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah awal perkembangan Nahdlatul Ulama. 

Modal kultural itu berpadu dengan pengalaman panjangnya dalam kepemimpinan pesantren dan organisasi.

Gus Kikin tercatat sebagai Ketua PWNU Jawa Timur sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Ia dipercaya melanjutkan kepemimpinan Tebuireng setelah KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah wafat.

Bahkan, sejak 2016, Gus Sholah telah mempersiapkan Gus Kikin melalui musyawarah keluarga besar keturunan Tebuireng.

Di bawah kepemimpinan Gus Kikin, jaringan Pesantren Tebuireng terus berkembang.

Hingga kini, pesantren tersebut tercatat memiliki 15 cabang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.