BPS Bongkar Pemicu Inflasi Bengkulu Agustus 2026: Harga Ayam Tertinggi, Kontrakan-Laundry Ikut Naik
Hendrik Budiman September 01, 2026 03:54 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU -  Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu mencatat inflasi sebesar 0,31 persen secara month-to-month (m-to-m) pada Agustus 2026 dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan harga tersebut dipengaruhi oleh sejumlah komoditas dan jasa yang mengalami peningkatan harga. Di antaranya daging ayam ras, beras, kontrak rumah, ongkos binatu atau laundry, serta ikan tongkol atau ikan ambu-ambu.

Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Bengkulu, Reni Puspasari, mengatakan secara tahunan atau year-on-year (y-o-y), inflasi Bengkulu pada Agustus 2026 mencapai 3,99 persen.

"Secara month-to-month untuk Agustus 2026 mengalami inflasi sebesar 0,31 persen," kata Reni saat diwawancarai wartawan, Selasa (1/9/2026).

Daging Ayam Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar

Berdasarkan kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu kelompok yang paling besar mendorong inflasi Bengkulu pada Agustus 2026.

Kelompok tersebut memberikan andil inflasi sebesar 0,33 persen.

Sementara kelompok transportasi justru menahan laju inflasi dengan memberikan andil deflasi sebesar 0,16 persen.

Baca juga: Kualitas Udara Bengkulu Memburuk Pagi Hari, BMKG Ungkap Dugaan Asap Karhutla dari Luar Daerah

Dari sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga, daging ayam ras menjadi penyumbang terbesar dengan andil inflasi mencapai 0,40 persen.

Selain daging ayam ras, kenaikan harga juga terjadi pada beras dengan andil 0,03 persen, kontrak rumah 0,03 persen, ongkos binatu 0,03 persen, serta ikan tongkol atau ikan ambu-ambu sebesar 0,02 persen.

Tahun Ajaran Baru Picu Kenaikan Harga Kontrakan

Kenaikan harga kontrak rumah menjadi salah satu komponen yang turut menyumbang inflasi Bengkulu pada Agustus.

Reni menjelaskan, kondisi tersebut salah satunya berkaitan dengan momentum tahun ajaran baru.

Pada periode tersebut, terjadi perubahan penghuni rumah atau tempat tinggal, terutama di kawasan yang banyak dihuni pelajar maupun mahasiswa.

Perubahan penghuni tersebut menjadi salah satu momentum bagi pemilik rumah untuk melakukan penyesuaian tarif sewa.

"Pada awal tahun ajaran baru biasanya penghuninya juga berbeda. Ini menjadi salah satu momen kenaikan tarif sewa kontrak rumah," jelasnya.

Selain kontrakan, tarif jasa laundry juga mengalami kenaikan pada Agustus 2026.

Menurut Reni, peningkatan ongkos binatu berkaitan dengan kenaikan sejumlah biaya operasional yang harus ditanggung pelaku usaha.

Salah satunya biaya produksi, termasuk kebutuhan plastik yang digunakan dalam layanan laundry.

"Kenaikan laundry ini juga karena beberapa biaya operasional, seperti biaya produksi termasuk plastik. Ini masih merupakan dampak dari beberapa waktu yang lalu," ujarnya.

Angkutan Udara hingga Cabai Merah Justru Turunkan Inflasi

Di tengah kenaikan sejumlah harga, beberapa komoditas justru memberikan tekanan deflasi sehingga menahan laju inflasi Bengkulu.

Angkutan udara menjadi komoditas dengan andil deflasi terbesar, yakni 0,16 persen.

Selanjutnya, cabai merah memberikan andil deflasi 0,12 persen, bawang merah 0,06 persen, tomat 0,05 persen, dan bawang putih 0,03 persen.

Menurut Reni, pergerakan harga komoditas yang berbeda-beda tersebut kemudian dihitung secara keseluruhan sehingga menghasilkan inflasi 0,31 persen pada Agustus.

"Komoditas ada yang naik dan ada yang turun. Ketika diagregatkan secara keseluruhan, terjadilah inflasi sebesar 0,31 persen," katanya.

Inflasi Tahun Berjalan Capai 2,32 Persen

BPS juga mencatat inflasi Bengkulu secara tahun kalender atau year-to-date (y-t-d) sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai 2,32 persen.

Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi nasional yang ditetapkan pemerintah, yakni 2,5 persen dengan toleransi plus atau minus 1 persen.

Dengan inflasi tahun berjalan sebesar 2,32 persen hingga Agustus, Bengkulu masih memiliki ruang sekitar 1,12 persen agar inflasi tetap berada dalam batas atas sasaran inflasi nasional.

Meski demikian, BPS mengingatkan pemerintah daerah dan pihak terkait untuk tetap mewaspadai potensi kenaikan harga hingga akhir 2026.

Pasalnya, masih terdapat empat bulan yang perlu menjadi perhatian, yakni September, Oktober, November, dan Desember.

Periode tersebut juga berdekatan dengan sejumlah momentum hari besar keagamaan nasional (HBKN) yang berpotensi meningkatkan permintaan masyarakat terhadap berbagai kebutuhan.

"Masih ada sekitar empat bulan lagi, September, Oktober, November, dan Desember. Artinya, kita perlu mewaspadai penyebab-penyebab inflasi, terutama pada HBKN," ungkap Reni.

Pengendalian harga terus dilakukan agar laju inflasi Bengkulu tetap terkendali dan berada dalam rentang sasaran yang telah ditetapkan.

Sementara itu, secara tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi salah satu penyumbang utama inflasi Bengkulu.

Kelompok tersebut memberikan andil inflasi sebesar 1,78 persen terhadap inflasi tahunan Bengkulu yang tercatat 3,99 persen pada Agustus 2026.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.