Laporan Wartawan TribunGayo.com Asnawi Luwi | Aceh Tenggara
TRIBUNGAYO.COM, KUTACANE - Harga komoditas kakao kering fermentasi berkualitas baik (eksportir) di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh, tembus Rp 170.000 per kilogram.
Kakao fermentasi tersebut diekspor ke negara Jepang dan Mesir.
Harga itu dihitung berdasarkan kurs rupiah, lalu ditambah 30 persen dari nilai tersebut sebagai patokan harga kakao dunia untuk kualitas kelas tertentu.
Pelaku usaha eksportir kakao dari PT Sanghyang Ayu di Desa Lawe Dua Gabungan, Kecamatan Bukit Tusam, Aceh Tenggara, Linda Yanti, mengatakan bahwa kualitas kakao daerahnya sangat bagus.
Baca juga: Harga Kakao Kering di Aceh Tenggara Masih Bertahan Rp 95.000/Kilogram
Namun, ia menilai banyak pihak belum mengetahui potensinya karena 99 persen kakao yang diekspor masih berupa produk non-fermentasi.
"Sepekan lalu pada 30 Agustus 2026, baru kita mengekspor kakao kering fermentasi ke Osaka, Jepang. Jumlahnya tidak banyak karena khusus untuk pameran Tokyo Foodex," jelas Linda Yanti kepada TribunGayo.com, Selasa (1/9/2026).
Ia menambahkan, PT Sanghyang Ayu hanya mengekspor ke Jepang dan Mesir. Namun, lewat sub-pedagang sudah dikirim ke mana-mana.
"Dalam kurun waktu setahun, sudah melakukan ekspor sebanyak 4 hingga 6 kali melalui Gudang Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara," terangnya.
Menurut Linda, tujuan utama pengembangan kakao kering fermentasi ini agar kakao asal Aceh Tenggara semakin dikenal oleh pembeli (buyer).
Selain itu, ia berharap ke depan produk ini memiliki Indikasi Geografis (IG) sebagai bentuk kekayaan intelektual daerah.
IG, lanjutnya, sangat penting bukan sekadar untuk menaikkan harga jual, melainkan melindungi identitas dan reputasi kakao Aceh Tenggara.
Baca juga: Harga Kakao Kering di Aceh Tenggara Stabil di Angka Rp 95.000 per Kilogram
Dengan adanya IG, karakteristik kakao lokal memiliki perlindungan hukum, lebih mudah dikenal pembeli internasional, memiliki nilai tambah, serta tidak mudah diklaim oleh daerah lain.
“Jangan terlalu cepat mengatakan kakao Aceh Tenggara adalah yang terbaik atau masuk peringkat dunia jika kita sendiri belum memiliki Indikasi Geografis. Karena IG bukan sekadar label, melainkan pelindung identitas dan karakteristik asal produk,” tegasnya.
Ia menambahkan, membangun dan memperjuangkan IG jauh lebih penting daripada sekadar membuat klaim peringkat atau kualitas.
Tujuannya adalah membangun identitas kakao Aceh Tenggara yang diakui secara nasional maupun internasional, serta menjadi warisan ekonomi bagi generasi mendatang. (*)