TRIBUNTRENDS.COM - Seekor orangutan ditemukan dalam kondisi lemas di tengah perkebunan sawit milik warga di Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Orangutan yang kemudian diberi nama Sampurna itu diduga mengalami gangguan pernapasan akibat terpapar asap pekat dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti kawasan habitatnya selama beberapa hari.
Video penyelamatan Sampurna sempat viral di media sosial, dalam rekaman tersebut, terlihat sejumlah petugas mengevakuasi orangutan yang tampak tidak berdaya dan memberikan bantuan oksigen.
Berdasarkan penelusuran Tribunnews.com, video tersebut diunggah oleh sejumlah akun Instagram, salah satunya @fakta.indo.
Hingga Selasa, 1 September 2026, video itu telah ditonton ratusan ribu kali dan mengundang keprihatinan warganet.
Baca juga: Motif Nyeleneh Pelaku Karhutla: Bakar Kebun Tebu Supaya Rasanya Lebih Manis, 17 Orang Jadi Tersangka
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, melalui Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, membenarkan adanya penyelamatan tersebut.
Staf SKW I Ketapang BKSDA Kalimantan Barat, Sarbandi, mengatakan pihaknya menerima laporan dari masyarakat mengenai keberadaan orangutan di sekitar perkebunan.
Setelah menerima laporan, tim BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) langsung menuju lokasi.
Tim kemudian menemukan Sampurna dalam kondisi lemas.
"Pagi kami menerima informasi dari masyarakat mengenai keberadaan orangutan di sekitar perkebunan,
Kami langsung melakukan pengecekan di lapangan dan menemukan orangutan tersebut dalam kondisi lemas," kata Sarbandi dalam keterangan tertulis yang diterima Tribunnews.com, Selasa, 1 September 2026.
Sampurna diduga masuk ke area perkebunan setelah bergeser dari habitatnya akibat kebakaran hutan dan lahan.
Kondisi tersebut diperparah dengan asap pekat yang menyelimuti kawasan selama beberapa hari terakhir.
Sehari sebelum proses penyelamatan, kebakaran dilaporkan terjadi cukup parah di sekitar lokasi. Ketika tim melakukan evakuasi, asap masih terlihat tebal di kawasan tersebut.
"Diduga akibat kebakaran hutan dan lahan. Orangutan bergeser dari habitatnya dan kemudian berada di area perkebunan," ujar Sarbandi.
Tim gabungan kemudian melakukan evakuasi dengan mempertimbangkan keselamatan orangutan, petugas, serta masyarakat di sekitar lokasi.
Dalam proses penyelamatan, tim bersama dokter hewan YIARI memberikan penanganan medis awal kepada Sampurna.
Orangutan tersebut diberikan bantuan oksigen dan infus karena mengalami gangguan pernapasan.
Meski kondisinya lemas, pemeriksaan awal tidak menemukan adanya luka terbuka maupun luka bakar pada tubuh Sampurna.
Dokter hewan YIARI, Komara, menjelaskan bahwa paparan asap karhutla dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan orangutan, terutama pada sistem pernapasan.
Paparan asap dalam konsentrasi tinggi dan berlangsung selama beberapa hari dapat menyebabkan gangguan pernapasan hingga kekurangan oksigen atau hipoksia.
Kondisi tersebut diduga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan Sampurna ditemukan dalam keadaan lemas.
Setelah mendapatkan penanganan awal di lokasi, Sampurna kemudian dievakuasi ke pusat penyelamatan dan rehabilitasi orangutan YIARI di Sungai Awan Kiri.
Di tempat tersebut, Sampurna akan menjalani pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh.
Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kemungkinan dampak paparan asap terhadap paru-paru serta organ dalam lainnya.
Hasil pemeriksaan nantinya akan menjadi dasar bagi tim medis untuk menentukan penanganan lanjutan terhadap Sampurna.
Sampurna juga tercatat sebagai orangutan ketujuh yang diselamatkan dalam periode tersebut.
Kasus ini kembali menunjukkan dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap satwa liar, terutama ketika asap dan kebakaran memaksa satwa keluar dari habitat alaminya untuk mencari tempat yang lebih aman.
(TribunTrends.com)