TOBOALI, BABEL NEWS - Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan kesehatan masyarakat di wilayahnya saat musim kemarau panjang ini. Kondisi udara yang kering, debu yang mudah beterbangan hingga paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena dapat mengganggu saluran pernapasan. Di sisi lain, kebiasaan masyarakat menampung air selama kemarau juga berpotensi meningkatkan risiko penyakit lain seperti demam berdarah dengue (DBD) dan diare.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Bangka Selatan, Slamet Wahidin, berujar dampak yang paling terlihat saat ini adalah peningkatan kasus ISPA. "Faktor penyebab tiga penyakit itu bisa kita lihat dari kondisi dan situasi cuaca yang ekstrem pada saat ini, yaitu musim kemarau," ujar Slamet Wahidin, Senin (31/8).
Slamet Wahidin menyebut kemarau panjang juga dapat meningkatkan risiko DBD karena masyarakat cenderung menampung air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penampungan air yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi tempat berkembangnya jentik nyamuk dan berpotensi meningkatkan kasus DBD. Namun hingga saat ini, pihaknya belum melihat adanya peningkatan kasus DBD dan masih lebih melihat kenaikan pada kasus ISPA.
Selain ISPA dan DBD, kebersihan air, makanan serta lingkungan juga perlu diperhatikan untuk mengantisipasi gangguan kesehatan seperti diare selama kemarau. Keterbatasan air dapat membuat masyarakat menampung atau menggunakan air dalam waktu lebih lama sehingga kebersihan tempat penyimpanan dan kualitas air harus tetap dijaga.
Pemerintah daerah mendorong masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sebagai langkah pencegahan berbagai penyakit. "Prinsipnya satu, perilaku hidup bersih dan sehat, itu yang pertama," jelas Slamet Wahidin.
Hingga kini, pihaknya terus memantau perkembangan kasus melalui fasilitas pelayanan kesehatan di daerah tersebut. Seluruh fasilitas kesehatan diminta mencatat dan melaporkan kasus ISPA pada seluruh kelompok usia, mulai dari balita hingga lansia, sehingga perkembangan kasus dapat diketahui secara berkala.
Pemantauan juga menjadi bagian dari kesiapsiagaan menghadapi potensi dampak kesehatan apabila kemarau panjang terus berlangsung. "Kami akan menyiapkan seluruh faskes untuk mencatat dan melaporkan semua kasus ISPA pada semua usia, mulai dari balita sampai dengan lansia," pungkas Slamet Wahidin. (u1)