Berantas Bank Emok, Bank Jakarta Salurkan Rp 48 Miliar untuk Pedagang Pasar Kramat Jati
Dwi Rizki September 01, 2026 10:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Akses pembiayaan formal dinilai menjadi salah satu solusi bagi pedagang pasar untuk terbebas dari ketergantungan terhadap pinjaman harian atau yang dikenal dengan istilah bank emok.

Forum Pemuda Peduli Jakarta (FPPJ) menilai skema pembiayaan Bank Jakarta dapat memberikan pilihan permodalan yang lebih sehat bagi pedagang kecil.

Ketua Umum FPPJ Endriyansyah mengapresiasi kolaborasi Bank Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan Perumda Pasar Jaya yang menyalurkan pembiayaan senilai Rp48 miliar kepada pedagang di Pasar Induk Kramat Jati.

“FPPJ mengapresiasi langkah ini sebagai solusi nyata dari Bank DKI untuk pedagang kecil,” ujar Endriyansyah kepada Wartakotalive.com, Selasa (1/9/2026).

Menurut Endriyansyah, praktik pinjaman harian masih diminati pedagang karena menawarkan proses pencairan yang cepat dan persyaratan relatif mudah.

Namun, kemudahan tersebut kerap diikuti dengan bunga tinggi serta kewajiban membayar cicilan setiap hari.

Kondisi tersebut, lanjut dia, dapat membuat jumlah pembayaran menjadi jauh lebih besar dari nilai pinjaman yang diterima.

Akibatnya, keuntungan pedagang ikut tergerus karena sebagian pendapatan harus dialokasikan untuk membayar cicilan.

Tidak hanya mengurangi keuntungan, beban cicilan juga dinilai dapat menghambat perputaran modal usaha.

Dalam kondisi tertentu, pedagang bahkan kesulitan mengembangkan usahanya karena pendapatan yang diperoleh lebih banyak terserap untuk memenuhi kewajiban pinjaman.

Baca juga: Pramono Resmikan Lokbin Kramat Jati, Ratusan Pedagang Ikan dan Sayuran Direlokasi

FPPJ menilai pembiayaan formal Bank Jakarta sebagai alternatif yang lebih sehat bagi pelaku usaha kecil.

Dengan skema pembiayaan yang jelas dan terukur, pedagang memiliki kesempatan memperoleh tambahan modal sekaligus mengembangkan usahanya tanpa terjebak pinjaman berbunga tinggi.

“Langkah ini menstimulasi perekonomian secara langsung di pasar tradisional. Ketika pedagang memiliki modal yang sehat, mereka bisa menambah stok barang, meningkatkan omzet, dan menggerakkan roda ekonomi rakyat,” katanya.

Pembiayaan yang digelontorkan di Pasar Induk Kramat Jati tersebut kini telah menjangkau ratusan pedagang dengan total plafon sekitar Rp48 miliar.

Pada akad massal terbaru, akses permodalan kembali diperluas melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan non-KUR yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pelaku UMKM.

FPPJ berharap langkah serupa dapat diperluas Bank DKI ke sejumlah pasar tradisional lainnya di Jakarta.

Menurut Endriyansyah, sebagai bank pembangunan daerah, Bank Jakarta memiliki peran penting dalam memastikan akses pembiayaan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat kecil yang menjadi penggerak ekonomi ibu kota.

“Bank DKI terus berbuat dan hadir untuk pedagang. Ini bukan sekadar menyalurkan kredit, melainkan investasi bagi pertumbuhan ekonomi kerakyatan dan masa depan UMKM Jakarta,” tutup Endriyansyah.

Cerita Pedagang

Rosmani Sitohang, pedagang bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, mengaku merasakan langsung manfaat program pembiayaan tersebut. 

Bantuan modal yang diterimanya dinilai mampu memperkuat perputaran usahanya hingga mendongkrak keuntungan secara signifikan.

Rosmani mengatakan, dirinya telah menekuni usaha perdagangan bawang merah sejak 2015. Dalam perjalanan usahanya, ia memperoleh pembiayaan modal dari Bank Jakarta sebesar Rp108 juta.

Dana tersebut dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha dan memperbesar perputaran perdagangan bawang merah. Hasilnya, keuntungan yang diperolehnya kini meningkat hingga empat kali lipat dibandingkan sebelumnya.

"Program pembiayaan pedagang pasar ini sangat membantu untuk mengembangkan usaha saya. Keuntungannya sekarang bisa sampai empat kali lipat," ujar Rosmani dalam acara Akad Massal Program Pembiayaan Pedagang Pasar Induk Kramat Jati di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa.

Ia berharap program pembiayaan yang digulirkan Bank Jakarta dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak pedagang pasar. 

Menurutnya, akses permodalan menjadi salah satu kebutuhan penting bagi pedagang untuk menjaga kelangsungan sekaligus mengembangkan usaha.

"Program seperti ini sangat dirasakan manfaatnya oleh pedagang. Harapannya bisa terus berlanjut," katanya.

Manfaat serupa dirasakan Ika Tiara, pedagang sembako di Pasar Induk Kramat Jati. Ika mengaku telah beberapa kali mendapatkan fasilitas pembiayaan modal dari Bank Jakarta.

Pada tahap sebelumnya, ia memperoleh pembiayaan sebesar Rp500 juta. Kemudian, pembiayaan terakhir yang diterimanya mencapai Rp400 juta.

Berbeda dengan Rosmani yang memanfaatkan dana untuk memperbesar perputaran usaha, Ika menggunakan sebagian pembiayaan tersebut untuk membayar sewa kios dalam jangka panjang. Dana itu digunakan untuk biaya sewa tempat usaha selama 20 tahun ke depan.

Menurut Ika, kepastian tempat berdagang menjadi salah satu faktor penting bagi keberlangsungan usahanya. Dengan adanya pembiayaan tersebut, ia dapat lebih fokus mengembangkan perdagangan sembako yang dijalankannya.

"Manfaatnya besar banget bagi pedagang untuk mengembangkan usaha," ujar Ika.

Ia menuturkan, usaha sembako yang dijalankannya terus mengalami peningkatan setelah mendapatkan dukungan pembiayaan dari Bank Jakarta.

Kemudahan akses modal dinilainya memberi ruang bagi pedagang untuk memperkuat bisnis dan meningkatkan skala usaha.

"Sebelumnya saya sudah mendapat pembiayaan Rp500 juta, kemudian terakhir Rp400 juta. Usaha saya terus meningkat setelah mendapatkan pembiayaan dari Bank Jakarta," tuturnya.

Perluas Akses Pembiayaan

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, yang menyaksikan langsung penandatanganan Akad Kredit Massal Bank Jakarta bagi 100 orang pedagang di Pasar Induk Kramat Jati. 

Pembiayaan menggunakan program kredit usaha rakyat (KUR) dan Non-KUR bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dengan plafon pinjaman hingga Rp500 juta.

"Hari ini kita memperluas akses pembiayaan bagi pedagang pasar induk di Kramat Jati ini. Ini penting sekali, karena pedagang membutuhkan kepastian modal kerja untuk menjaga keberlangsungan usaha," ujar Rano Karno.

Ia pun optimistis dukungan dana permodalan ini akan meningkatkatkan kapasitas para pelaku UMKM di Pasar Induk Kramat Jati, sehingga nantinya mereka bisa mengembangkan usaha dan meningkatkan taraf kesejahteraan.

Karena itu, Ia sangat mengapresiasi kolaborasi Bank Jakarta dengan Perumda Pasar Jaya yang dinialinya konkret mendukung UMKM dan ekonomi kerakyatan. 

Rano Karno menjelaskan selain 100 orang yang melakukan akad kredit massal hari ini, dari total lebih 5.000 pelaku usaha yang ada di Pasar Induk Kramat Jati, Bank Jakarta telah menyalurkan program pembiayaan bagi 167 pedagang dengan besaran nominal mencapai sekitar Rp 48 miliar.

Ia berharap, kegiatan akad kredit massal yang dilaksanakan ini bakal menarik minat lebih banyak pedagang di Pasar Kramat Jati untuk mengikuti program pembiayaan bagi UMKM dari Bank Jakarta.

Meski demikian, Rano mengingatkan akses pembiayaan formal juga harus diikuti dengan literasi keuangan.

Upaya ini ditegaskan Rano Karno penting agar pelaku UMKM mampu menerapkan manajemen keuangan yang sehat sehingga usahanya bisa terus berkembang.

"Pasti akan ada dialog antara pihak bank dengan pedagang untuk saling membantu manajemen agar usaha lebih berkembang. Mudah-mudahan program ini bisa kita kembangkan di pasar-pasar yang lain," tegasnya. (m27)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.