SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sama-sama menggantungkan napas perekonomian pada sektor pertanian tidak lantas membuat Kabupaten Limapuluh Kota dan Kabupaten Banyuasin memiliki postur keuangan yang identik.
Di balik julukan sebagai lumbung pangan di provinsinya masing-masing, kedua daerah ini tengah bertarung menata efektivitas Pendapatan Asli Daerah (PAD) di tengah kekuatan komoditas yang berbeda.
Limapuluh Kota di Sumatera Barat menonjol lewat komoditas hortikultura unggulan seperti Jeruk Siam Gunuang Omeh (Jesigo), cabai, dan bawang merah di samping produksi padi dan jagung.
Sementara itu, Banyuasin di Sumatera Selatan berdiri kokoh sebagai salah satu lumbung pangan nasional berkat bentang geografis perairan dan daratan yang masif.
Namun, bagaimana peta kekuatan kas daerah kedua wilayah ini?
Data terbaru Kementerian Keuangan (DJPK) per 1 September 2026 mencatat realisasi PAD kedua kabupaten berada di angka yang relatif seimbang, meski dengan komposisi penopang yang cukup kontras.
Dari total target Rp429 miliar, Limapuluh Kota telah mengamankan Rp218 miliar.
Pajak daerah menjadi penyumbang terbesar dengan Rp159 miliar, disusul retribusi daerah yang tergolong tinggi di angka Rp33 miliar.
Di sisi lain, Banyuasin mencatatkan realisasi Rp211 miliar dari target Rp403 miliar. Meski perolehan retribusi daerah Banyuasin terbilang minim (Rp7 miliar), sektor lain-lain PAD yang sah melonjak hingga Rp42 miliar jauh melampaui pencapaian Limapuluh Kota di sektor yang sama.
Kedua daerah kini sama-sama telah menembus paruh target tahunan. Tantangan berikutnya bagi kedua raksasa pertanian ini adalah mengoptimalkan sisa kuartal tahun 2026 agar potensi ekonomi dari sektor agraris dapat terkonversi maksimal menjadi kas daerah.