SURYA.CO.ID - Kasus keracunan diduga akibat makan bergizi gratis (MBG) yang dialami ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam, Desa Putat, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, berbuntut panjang.
Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah yang menyediakan MBG untuk ratusan santri Ponpems Manbaul Hikam akhirnya ditutup sementara.
Penutupan ini diungkapkan Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo seusai meninjau SPPG tersebut pada Rabu (2/9/2026).
“Kami juga tadi sudah mendapatkan informasi langsung dan kami bergerak ke SPPG. Untuk saat ini SPPG kita berhenti operasional,” kata Bayu Wibowo saat ditemui di RS Notopuro Sidoarjo, Rabu (2/9/2026).
Menu MBG yang diduga menyebabkan santri keracunan itu pun telah diamankan untuk dijadikan sampel pengujian laboratorium untuk mengetahui secara pasti kandungan yang terdapat di dalam makanan.
Baca juga: Penyebab Keracunan Ratusan Santri Manbaul Hikam Tanggulangin Sidoarjo Diduga dari Menu MBG
“Selanjutnya hasil lab dan lain-lain kita menunggu untuk satu minggu ke depan ya untuk kunci hasil lab. Jadi sampel sudah diambil dari Dinas Kesehatan Sidoarjo serta dari kepolisian,” jelasnya.
Pihaknya juga masih menunggu kebijakan dari BGN pusat dan hasil laboratorium untuk menentukan evaluasi ke depan.
“Sampai hasil evaluasi ya, evaluasi dan hasil lab keluar. Jadi sementara kami sedang laporan ke pusat, pusat akan menimbang apakah di-suspend-nya suspend sementara atau suspend permanen,” jelasnya.
Bayu memasyikan di ponpes Manbaul Hikam ini menerima MBG dari SPPG Kalitengah sekitar 1.000 porsi setiap hari.
Dari data BGN terungkap SPPG Kalitengah Tanggulangin juga mendistribusikan MBG ke sekolah TK hingga SMA di Kecamatan Tanggulangin dengan total 2.800 porsi pada Selasa.
Artinya ada sekitar 1.800 porsi yang dibagikan di luar Ponpes Manbaul Hikam.
Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Kepala Satgas MBG Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengonfirmasi bahwa dugaan keracunan makanan ini tidak hanya menimpa santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul Hikam, tetapi juga berpotensi dialami oleh siswa dari sekolah lain penerima pasokan yang sama.
"Memang juga ada data yang menunjukkan selain dari pondok pesantren Manba’ul Hikam, ada juga dari sekolah-sekolah lain itu juga mengalami keluhan. Jadi kesamaannya adalah konsumsi dari SPPG yang sama. SPPG Kalitengah, Tanggulangin," kata Emil saat memberikan keterangan di Sidoarjo, Rabu (2/9/2026).
Menindaklanjuti temuan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dan Badan Gizi Nasional (BGN) bergerak cepat melakukan penyisiran ke sekolah-sekolah penerima porsi MBG dari SPPG Kalitengah.
Langkah jemput bola disiapkan guna memastikan seluruh anak yang berpotensi terdampak segera mendapatkan penanganan medis yang optimal.
"Ada daftar sekolahnya, nanti dari Bu Kadinkes bisa menyampaikan kepada teman-teman. Ada SMA swasta, ada juga SMP, SD swasta juga ya, TK juga ada," ujar mantan Bupati Trenggalek.
"Hari ini kita akan cek di sekolah-sekolah itu, ada yang absen enggak? Kalau ada yang absen enggak masuk, alasan sakit ataupun apa, kita akan jemput bola tuh. Karena khawatirnya belum tertangani dengan optimal kalau pengobatan mandiri," lanjut suami Arumi Bachsin.
Berdasarkan data yang terhimpun, menu MBG yang dibagikan oleh SPPG Kalitengah pada hari kejadian terdiri dari nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu bali, tumis buncis baby corn, serta buah apel.
Sejumlah siswa dan santri mengeluhkan gejala mual, pusing kepala, hingga kondisi tubuh lemas pada Selasa malam usai ibadah Maghrib, beberapa jam setelah menyantap hidangan tersebut.
Emil meluruskan informasi yang sempat beredar di masyarakat mengenai dugaan konsumsi makanan lain di lingkungan pesantren.
Ia menegaskan bahwa para korban tidak mengonsumsi santapan massal lain di luar menu MBG.
"Mengenai makanan yang mana, ada Maulid di pondok pesantren? Enggak, tidak ada makanan lain yang disuguhkan secara massal. Ya kalau jajan sendiri-sendiri lain cerita, tapi secara massal tidak ada," jelas Emil.
Hingga Rabu (2/9/2026), tercatat sebanyak 431 santri dan santriwati Ponpes Manba’ul Hikam telah menerima penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan.
Para korban dirujuk ke berbagai rumah sakit terdekat, di antaranya RS Notopuro, RS Delta Surya, RS Siti Hajar, RS Pusura, RSU Aisyiyah St Fatimah Tulangan, RS Pusdik Bhayangkara, hingga RS Arafah Anwar Medika.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo juga telah mendirikan posko penanganan medis darurat di area pesantren.
Data yang dihimpun surya.co.id, sebagian santri yang keracunan sudah diperblehkan rawat jalan.
Di RSI Siti Hajar Sidoarjo dari total 64 santri, tinggal 1 santri yang masih rawat inap.
“Ada 19 orang yang rawat inap. Lainnya sudah kita bolehkan pulang karena kondisinya sudah membaik,” kata Direktur RSI Siti Hajar Sidoarjo dokter Iqbal Faizin.
Awalnya terdata Ada 65 santri, kemudian menjelang tengah malam datang lagi enam orang. Semua langsung menjalani perawatan di IGD rumah sakit milik PCNU Sidoarjo tersebut.
“Rata-rata keluhannya sakit perut. Mual dan muntah. Tapi mayoritas sudah tertangani dengan baik. Kondisinya juga sudah stabil dan membaik,” ungkap Iqbal.
Selain di Siti Hajar, para korban keracunan di RSUD Sidoarjo juga sebagian sudah dibolehkan pulang. Dari sekitar 250 orang pasien di sana, tinggal 58 santri yang harus rawat inap di sana.
Selain di dua rumah sakit itu, tercatat ada 14 pasien di RS Delta Surya, RS Pusura 13 orang, RSU Aisiyah St Fatimah 23 pasien, RS Pusdik Bhayangkara 8 pasien, dan RA Arifah Anwar Medika ada satu pasien.
Dalam kesempatan yang sama, Emil menepis narasi dan kabar bohong (hoaks) yang beredar di media sosial mengenai adanya korban jiwa dalam musibah ini.
"Tolong juga tadi ada kabar mohon maaf meninggal, itu tidak betul. Tidak ada yang meninggal. Tidak betul. Tidak ada yang meninggal," tegasnya.
Kondisi para korban dilaporkan semakin membaik. Sejumlah santri yang dinyatakan stabil oleh tim medis telah diperbolehkan pulang untuk rawat jalan di asrama maupun rumah masing-masing.
"Insya Allah sudah ada yang bisa dipulangkan. Banyak yang bisa dipulangkan. Tadi kita lihat ada velbed yang sudah mulai dilipat karena sudah dipulangkan. Tapi rumah sakit tetap siaga, bahkan tenaga-tenaga medis yang on call dipanggil semua, sehingga ini bisa tertangani," pungkas Emil.