TRIBUNJOGJA.COM - Kericuhan pecah saat massa aksi Aliansi Masyarakat Sipil yang sedang melakukan aksi demonstrasi secara damai dipaksa mundur oleh kelompok yang mengatasnamakan warga di penggal selatan Jalan Cik di Tiro, Yogyakarta, Senin (1/9/2026) malam. Negosiasi perihal kapan aksi demonstrasi harus diakhiri, berjalan alot dan berakhir buntu.
Kelompok warga yang sebelumnya dipisahkan oleh barikade polisi di penggal selatan Jalan Cik di Tiro, menghambur ke utara. Membuat barisan massa aksi yang terdiri dari mahasiswa dari berbagai kampus ini menjadi tak beraturan. Suasana seketika memanas untuk kesekian kalinya. Teriakan terdengar sahut-menyahut
Beberapa peserta aksi terlihat terjatuh. Ada pula yang terkena semprotan dengan efek yang ditimbulkan adalah mata pedih dan terbatuk-batuk. Menggunakan air mengalir, mereka membasuh matanya bergantian dengan peserta aksi lain.
"Medis, medis, ambulans, cepat!" teriak seseorang dari kerumunan. Syahdan, seorang peserta aksi terlihat ditandu ke dalam ambulans untuk dilarikan ke rumah sakit secepatnya.
Rumah sakit terdekat di utara titik aksi adalah Panti Rapih. Jaraknya tak sampai satu kilometer, persis di selatan kampus UGM Yogyakarta. Sebetulnya ada lagi rumah sakit yang lebih dekat, yakni Bethesda. Tapi akses ke sana lumpuh karena jalanan dipenuhi massa.
Ditemui di selasar kampus UII Cik di Tiro, anggota tim medis Aliansi Masyarakat Sipil, Bao, menjelaskan sejumlah luka-luka yang dialami peserta aksi. Seperti trauma tumpul di kepala, kaki, tangan. Ada enam peserta aksi yang sempat mendapat perawatan di selasar UII Cik di Tiro.
"Ada lagi dua mengalami trauma tumpul di kepala yang menghasilkan pendarahan. Itu langsung dievakuasi ke (rumah sakit) Panti Rapih. Total ada delapan. Enam (sempat dirawat) di selasar sini (kampus UII Cik di Tiro) dan dua di lapangan (langsung dibawa ke rumah sakit)," ucap Bao.
Sekitar pukul 22.00 aksi demonstrasi yang menuntut perbaikan persoalan multidimensi di Indonesia ini terpaksa diakhiri. Polisi meminta mereka mundur dengan jaminan pengawalan sehingga tidak ada gesekan lagi dengan kelompok warga.
Sejatinya, aliansi akan bermalam di Simpang Gramedia jika aksi tidak berakhir dengan kericuhan. "Kami datang dengan damai, tidak bawa senjata, hanya membawa suara. Kenapa kami yang dibubarkan?" ujar seorang peserta aksi saat terjadi negosiasi dengan aparat kepolisian. (*)