Cacing Wak-wak Jadi Buruan di Desa Rambat Bangka Barat, Dari Tradisi hingga Sumber Cuan
Ardhina Trisila Sakti September 02, 2026 02:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA — Berbekal alat sederhana terbuat dari bambu yang dibentuk menjadi lidi berukuran besar dan panjang, masyarakat Desa Rambat turun ke pantai.

Sambil memanggul bakul anyaman, masyarakat yang didominasi oleh kalangan ibu-ibu itu menyusuri pesisir Pantai Batu Keranji, Desa Rambat, Kecamatan Simpang Teritip, Bangka Barat.

Lubang-lubang di pasir pantai menjadi sesuatu yang mereka bidik. Lidi dari bambu kemudian ditusukan ke dalam lubang tersebut dan kemudian menunggu sesuatu.

Setelah beberapa saat, lidi bambu bergerak, menunjukkan ada sesuatu yang merespon. Itulah wak-wak, sejenis cacing berbentuk pipih yang rutin diburu masyarakat setempat.

20260902 Cacing wak-wak yang diburu masyarakat
BERBURU CACING WAK-WAK — Cacing wak-wak yang diburu masyarakat Desa Rambat di Pantai Batu Keranji, Kecamatan Parittiga, Bangka Barat. Wak-wak diburu untuk dikonsumsi maupun dijual. Foto diambil beberapa waktu lalu

Berburu cacing berwarna putih itu memang sudah dilakukan masyarakat setempat sejak dulu. Ketika air laut surut, mereka turun ke pantai mencari cacing wak-wak untuk dijadikan makanan.

Bagi sebagian orang, mengonsumsi cacing tersebut mungkin terasa menggelikan, namun bagi mereka, itu sudah menjadi hal yang biasa, baik di konsumsi langsung secara mentah maupun dimasak.

Panji, Kepala Desa Rambat menyebut bahwa cacing wak-wak memang sudah menjadi ciri khas di Pantai Desa Rambat.

“Karena sudah turun temurun, sejak nenek moyang kami dulu memang sudah memburu dan mencari wak-wak ini,” kata Panji, Rabu (2/9/2026).

Oleh karena itu, tak heran jika wak-wak jadi makanan yang cukup populer di Desa tersebut. Masyarakat mengonsumsinya dengan berbagai cara. 

Ada yang digoreng basah, dijemur dan digoreng kering layaknya keripik, dibakar, di masak lempah kuning dan berbagai cara penyajian lain bak makanan seafood pada umumnya.

Tekstur cacing wak-wak sendiri kenyal dan mirip cumi dengan kombinasi rasa asin dan sedikit rasa manis.

“Kalau yang baru dapat dan masih basah terus kita goreng, nah itu hampir mirip sekali dengan cumi-cumi,” ujarnya.

Tak hanya dikonsumsi sendiri, tak sedikit masyarakat setempat yang menjual hasil buruan cacing wak-wak milik mereka. 

Cacing berukuran panjang itu dijual per ekor dari harga Rp1.000 hingga Rp1.500 per ekor tergantung ukuran.

“Kalau masyarakat umum mau nyoba cacing wak-wak ini bisa langsung menghubungi Pokdarwis Jerieng Pesisir Desa Rambat, nanti para anak-anak Poldarwis bisa mengarahkan kepada para pencari wak-wak nya langsung,” ujarnya.

(Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.