BANGKAPOS.COM, BANGKA – Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung mulai mencari sumber air alternatif untuk menghadapi musim kemarau yang masih berlangsung.
Dari lima Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang tersedia, tiga di antaranya disebut mulai mengalami kondisi air yang menipis sehingga hanya tersisa dua sumber yang masih memiliki ketersediaan.
Pemkab mempertimbangkan pembuatan sumber air melalui pengeboran untuk membantu wilayah pedesaan yang mulai mengalami kekeringan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Selatan, Hefi Nuranda berujar, kondisi ketersediaan air tersebut menjadi pembahasan dalam rapat bersama Badan Anggaran DPRD Kabupaten Bangka Selatan.
Pemerintah melihat perlu ada langkah antisipasi apabila kemarau berlangsung lebih lama dan sumber air yang tersedia terus menyusut. Pencarian sumber air baru dinilai menjadi opsi untuk menjaga pasokan air bagi masyarakat.
“Kemarin juga itu yang kami bahas waktu di Banggar bersama dengan kawan-kawan DPRD, bagaimana ke depan kondisi seperti ini kita harus mencari sumber air yang lain,” ujar dia kepada Bangkapos.com, Rabu (2/9/2026).
Hefi Nuranda menyebut kondisi sejumlah SPAM mulai terdampak akibat musim kemarau yang masih berlangsung.
Dari lima SPAM, tiga di antaranya disebut mulai mengalami penurunan ketersediaan air, sementara dua lainnya masih dapat digunakan.
Adapun SPAM yang merupakan wewenang Kabupaten itu ada SPAM Rindik, SPAM Baher, SPAM Parit 9, SPAM Telek dan SPAM Pongok.
Sementara saat ini masih berjalan yaitu SPAM Parit 9 dan SPAM Telek. Untuk dua SPAM itu saat ini masih aman dan berdasarkan perhitungan masih cukup untuk satu bulan ke depan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebutuhan air masyarakat tetap berjalan di tengah berkurangnya sumber air.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pemkab Bangka Selatan mempertimbangkan pembangunan sumber air alternatif melalui sumur bor.
Titik pengeboran nantinya dapat diarahkan ke wilayah yang penyebarannya berada di daerah pedesaan yang telah mengalami kekeringan.
Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi sumber air tambahan ketika pasokan dari SPAM semakin terbatas.
“Mungkin perlu alternatif lain, minimal ada sumber bor di wilayah yang mungkin penyebarannya khususnya di wilayah pedesaan yang sudah mengalami kekeringan,” jelas Hefi Nuranda.
Di sisi lain sambung dia, pemerintah daerah juga telah berkomunikasi dengan sejumlah balai dan kementerian terkait mengenai kondisi kekeringan yang terjadi.
Pemerintah pusat disebut memiliki dukungan anggaran yang dapat diarahkan untuk membantu penanganan kondisi tersebut.
Dukungan lintas instansi dinilai diperlukan agar penanganan kekeringan tidak hanya bergantung pada kemampuan anggaran daerah.
Pemerintah daerah akan terus melihat perkembangan kondisi sumber air selama musim kemarau berlangsung.
Jika sumber air yang ada terus mengalami penurunan, alternatif berupa sumur bor dapat dipertimbangkan untuk wilayah yang paling membutuhkan.
Penentuan lokasi dan bentuk penanganannya nantinya akan disesuaikan dengan kondisi teknis serta kebutuhan masyarakat.
“Mereka juga punya anggaran penanganan terkait dengan kondisi sekarang,” sebutnya.
Selain penyediaan sumber air alternatif, pemerintah daerah membuka peluang dukungan dari instansi lain untuk menangani dampak kekeringan.
Hefi Nuranda mengatakan kondisi kemarau saat ini membutuhkan dukungan bersama karena dampaknya dapat dirasakan di berbagai wilayah.
Pemerintah akan mengkoordinasikan bantuan sesuai kebutuhan di lapangan dan kewenangan masing-masing instansi.
“Tapi dinas yang lain juga mungkin kayak Dinas Sosial atau dari kementerian lain bisa support juga, karena kondisi memang kita tahu sama-sama saat ini hampir di semua kementerian akan support berkaitan dengan Karhutla maupun masalah kekeringan ini,” tukas Hefi Nuranda. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)
Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Selatan, Hefi Nuranda. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)