TRIBUNPONTIANAK.CO.ID – Kabut asap yang menyelimuti Sungai Kapuas di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, mulai mengganggu aktivitas penyeberangan menggunakan kapal klotok.
Kondisi tersebut membuat para motoris harus meningkatkan kewaspadaan saat melayani masyarakat yang hendak menyeberangi Sungai Kapuas.
Jarak Sekadau dengan Kota Pontianak 241 KM dengan jarak tempuh 5 jam.
Motoris Klotok Penyeberangan Seberang Kapuas, Jamiadi, mengatakan kabut asap sebenarnya sudah muncul sejak sekitar satu bulan terakhir.
Baca juga: Dua Lahan Terbakar di Sekadau Hilir dalam Sehari, Satu Diduga Dipicu Pembakaran Sampah
Namun, kondisi kabut yang cukup pekat baru dirasakan dalam sepekan terakhir.
“Kalau kabut asap sudah sekitar satu bulan lebih. Tapi kalau yang keadaannya sampai pekat seperti ini sekitar satu mingguan,” kata Jamiadi saat diwawancarai, Rabu 2 September 2026.
Menurut Jamiadi, pekatnya kabut asap membuat jarak pandang motoris saat berada di tengah Sungai Kapuas menjadi sangat terbatas.
Ia memperkirakan jarak pandang saat ini hanya sekitar 20 meter.
“Kalau sudah masuk ke tengah sungai itu sudah kabut semua, jadi tidak kelihatan lagi. Kalau tidak bawa HP, bisa nyasar kadang,” ujarnya.
Baca juga: Kabut Asap Makin Terasa di Sekadau, Warga Keluhkan Mata Perih dan Sesak
Kondisi tersebut membuat motoris harus ekstra hati-hati agar tetap berada di jalur pelayaran.
Sebab, beberapa bagian Sungai Kapuas mulai mengalami pendangkalan akibat debit air yang menyusut selama musim kemarau.
“Kalau kita keluar jalur bisa-bisa kita kandas karena sudah ada yang dangkal airnya,” jelas Jamiadi.
Selain jarak pandang yang terbatas, kabut asap juga meningkatkan risiko kecelakaan dengan aktivitas masyarakat lainnya di sungai.
Jamiadi mengatakan, dirinya terkadang masih menjumpai warga yang sedang memukat ikan ketika membawa kapal klotok menyeberang.
“Terkadang kita ada ketemu sama orang yang memukat, jadi sedikit terganggu takut kena tabrak juga,” ungkapnya.
Meski kabut asap cukup pekat, aktivitas penyeberangan masyarakat hingga kini masih berjalan seperti biasa.
Penumpang masih menggunakan jasa kapal klotok untuk menyeberangi Sungai Kapuas. Namun, para motoris harus meningkatkan kewaspadaan selama melakukan pelayaran.
“Kalau untuk penumpang masih normal seperti biasa yang melakukan penyeberangan. Cuma kita tetap harus waspada saja dalam berlayar karena musim kemarau, musim kabut seperti ini cukup bahaya,” katanya.
Tak hanya kabut asap, musim kemarau juga memberikan dampak terhadap aktivitas penyeberangan.
Debit Sungai Kapuas yang terus menyusut membuat akses menuju dermaga semakin sulit. Posisi dermaga ikut mengalami penurunan sehingga penumpang maupun motoris harus lebih berhati-hati saat keluar-masuk area penyeberangan.
“Selain kabut ini, kemarau juga turut mempengaruhi proses pelayaran, terutama airnya makin surut. Jadi dermaganya ini makin turun, cukup susah aksesnya,” tuturnya.
Jamiadi khawatir aktivitas penyeberangan akan semakin sulit apabila hujan tidak segera turun.
Menurutnya, jika debit air terus menyusut dalam waktu sekitar satu pekan ke depan, kapal klotok bahkan dikhawatirkan tidak dapat lagi beroperasi karena risiko kandas semakin besar.
“Mungkin kalau sekitar satu minggu lagi tidak ada hujan, ini enggak bisa lagi nyebrang karena bisa kandas,” pungkasnya.
Rute yang umum digunakan:
Pontianak → Kubu Raya → Sanggau → Sekadau
Jaraknya sekitar 232 km, dengan waktu tempuh sekitar 3,5–4 jam dalam kondisi lalu lintas dan jalan normal.
Ada juga alternatif melalui:
Pontianak → Mempawah → Landak → Sanggau → Sekadau, tetapi rute ini lebih panjang. Kajian Universitas Tanjungpura mencatat rute Pontianak–Kubu Raya–Sanggau–Sekadau sebagai salah satu akses utama menuju Sekadau.
Menggunakan bus/travel
Tersedia layanan bus/travel Pontianak–Sekadau. Salah satu layanan yang tercatat adalah ATS, dengan perjalanan sekitar 5–6 jam dan tarif yang tercantum sekitar Rp100 ribu per orang, tergantung layanan dan jadwal.