TRIBUNWOW.COM - Proses pencarian dan evakuasi korban banjir bandang akibat runtuhnya gletser di Nepal masih berlangsung hingga Rabu (2/9/2026).
Sepekan setelah bencana terjadi pada 26 Agustus 2026, jumlah korban tewas terus bertambah. Pemerintah Nepal melaporkan sedikitnya 1.114 orang meninggal dunia, sementara 3.916 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Jika digabungkan dengan kondisi di wilayah Tibet yang berada di bawah administrasi China, jumlah korban tewas mencapai 1.130 orang. Sebanyak 546 orang di Tibet juga masih dalam pencarian.
Dengan demikian, total orang yang masih hilang di Nepal dan Tibet mencapai 4.462 orang. Data tersebut masih dapat berubah seiring berlanjutnya proses pencarian dan identifikasi korban.
Bencana tersebut dipicu runtuhnya gletser di kawasan Himalaya pada 26 Agustus. Aliran air dalam jumlah besar yang membawa material batu, es, dan lumpur kemudian menerjang wilayah di sepanjang aliran sungai.
Banjir bandang menghancurkan permukiman, jalan, jembatan, serta sejumlah fasilitas umum. Tim penyelamat dari Nepal dan China hingga kini masih menyisir sejumlah wilayah terdampak untuk menemukan korban yang hilang.
Evakuasi Pekerja di Terowongan Jadi Prioritas
Salah satu fokus utama penyelamatan berada di sejumlah terowongan pembangkit listrik tenaga air. Ratusan pekerja dari proyek pembangkit listrik dilaporkan belum ditemukan setelah terjangan banjir.
Tim penyelamat menggunakan ekskavator, peralatan pendeteksi korban, serta metode penggalian untuk membuka akses menuju terowongan yang tertutup lumpur dan material reruntuhan.
Proses pencarian semakin sulit karena kondisi di dalam terowongan masih dipenuhi lumpur dan material banjir. Tim juga menghadapi risiko aliran air yang kembali masuk ke area penggalian.
Menurut laporan terbaru, sekitar 900 pekerja dari 12 proyek pembangkit listrik tenaga air masih dinyatakan hilang. Sebagian di antaranya dikhawatirkan berada di dalam terowongan.
Situasi Terkini di Nepal
Jumlah korban yang terus bertambah membuat fasilitas kamar jenazah di sejumlah rumah sakit Nepal mengalami kelebihan kapasitas.
Otoritas setempat kemudian mulai memakamkan sejumlah jasad yang belum teridentifikasi setelah mengambil sampel DNA untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Selain di Nepal, otoritas India juga menemukan 17 jenazah di sungai yang mengalir dari wilayah Nepal. Jenazah tersebut diyakini berkaitan dengan bencana banjir, tetapi belum dimasukkan ke dalam jumlah korban resmi karena proses identifikasi masih berlangsung.
Di tengah situasi tersebut, harapan untuk menemukan korban yang masih hidup tetap terbuka. Tim penyelamat terus melakukan pencarian meski medan yang rusak dan kondisi cuaca membuat proses evakuasi semakin sulit.
Perdana Menteri Nepal Balendra Shah sebelumnya juga menyoroti meningkatnya risiko bencana di kawasan Himalaya yang berkaitan dengan perubahan iklim. (*)