Petani Pangandaran Sulap Lahan Kering Kemarau Jadi Wisata Petik Melon Amanda
Ravianto September 02, 2026 03:45 PM

TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Musim kemarau tak selalu menjadi momok bagi petani. Di Kalangkobar, Dusun Sindangsari, Desa Sindangwangi, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, lahan yang sebelumnya hanya produktif setahun sekali justru disulap menjadi kebun melon yang menghasilkan.

Di atas lahan seluas 80 bata, petani melon Iwan menanam sekitar 1.500 tanaman melon yang salah satunya jenis Amanda. 

Saat ini, tanaman tersebut sudah memasuki usia 62 hari setelah tanam (HST) dan mulai memasuki masa panen.

"Saat ini umur 62 HST. Jadi, sudah layak dipanen," ujar Iwan kepada Tribun Jabar di kebun melon miliknya, Rabu (2/9/2026) siang.

Iwan mengatakan, lahan itu sebelumnya hanya bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam satu kali dalam setahun.

Kondisi tanah yang kering saat musim kemarau membuat lahan tidak banyak digunakan.

Namun, kondisi tersebut justru mendorongnya mencoba menanam melon.

"Kita olah tanah kering ini menjadi bedengan dan diberikan mulsa," katanya.

Menurutnya, melon justru menjadi salah satu tanaman yang cocok dibudidayakan saat musim kemarau sekarang.

Tanaman ini membutuhkan paparan sinar matahari yang cukup untuk membantu menghasilkan buah dengan tingkat kemanisan yang optimal.

"Memang pinginnya panas. Jadi kadar kemanisannya dapat. Rasa buahnya manis," ucap Iwan.

Untuk memenuhi kebutuhan air, Iwan tidak mengandalkan penyiraman secara konvensional.

Ia membuat sumur dan menggunakan sistem irigasi tetes atau drip irrigation.

Sistem tersebut dinilai lebih efisien karena air dapat dialirkan langsung ke tanaman dengan penggunaan yang lebih terukur.

"Air kita bikin sumur. Kita bikin sistem drip, jadi lebih hemat air daripada sistem kocor. Lebih hemat waktu dan tenaga juga," ujarnya.

Dari sekitar 1.500 tanaman yang ditanam di lahan seluas 80 bata itu, sebagian tanaman menghasilkan satu buah dan sebagian lain mampu menghasilkan dua hingga tiga buah.

Bobot rata-rata melon mencapai 1,5 hingga 1,7 kilogram per buah. Bahkan, terdapat buah yang bobotnya mencapai dua kilogram.

Selain ditanam di lahan terbuka, Iwan juga mencoba membudidayakan jenis melon yang biasanya ditanam di dalam greenhouse (GH).

Hasilnya cukup mengejutkan.

Melon yang ditanam di area terbuka tetap mampu tumbuh dengan baik.

"Jenis melon Amanda. Kemudian ada satu melon yang biasa di kelas GH dan ditanam di area terbuka. Ternyata jadi bagus," katanya.

Kini, hasil panen melon tersebut mulai dipasarkan kepada masyarakat. Harga melon di pasaran berada di kisaran Rp 20 ribu per kilogram.

Namun, Iwan memiliki cara berbeda untuk memperluas pemasaran sekaligus memberikan pengalaman kepada konsumen.

Ia membuka kebun tersebut sebagai wisata melon. Masyarakat yang datang bisa memetik langsung buah melon dari tanaman.

"Kita buat wisata melon agar masyarakat yang datang bisa langsung memetik di kebun dengan harga relatif agak murah," ucap Iwan.

Wisata petik melon itu rencananya dibuka selama sekitar 10 hingga 15 hari ke depan, bertepatan dengan masa panen.

Untuk pengunjung yang memetik langsung di kebun, harga yang ditawarkan lebih murah dibandingkan harga di pasaran, yakni sekitar Rp 15 ribu per kilogram. *

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.