SURYA.co.id, Surabaya — Selama 17 tahun, Coach Sagita Marianto menjadi sosok di balik konsistensi tim basket SMAN 16 Surabaya (Sixteen). Di bawah arahannya, Sixteen kembali menunjukkan performa solid dengan kemenangan telak atas SMAN 1 Pacet Mojokerto (FIRST), skor 34-2, dalam laga pembuka Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North di DBL Arena Surabaya, Jalan Ahmad Yani No. 88, Ketintang, Gayungan, Sabtu (29/8/2026).
Meski menang besar, Sagita menilai timnya masih memiliki banyak hal yang perlu diperbaiki.
Coach Sagita menegaskan bahwa kemenangan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Ia masih melihat kekurangan dalam penyelesaian akhir dan permainan kolektif.
“Pertahanan sudah bagus, anak-anak saling terhubung dan disiplin. Tapi penyelesaian akhir belum maksimal,” ujarnya.
Evaluasi seperti itu bukan hal baru bagi Sagita. Sejak mulai melatih Sixteen pada 2009, ia selalu menekankan pentingnya proses pembentukan karakter dan disiplin. Baginya, setiap generasi pemain memiliki mental dan semangat juang yang berbeda, sehingga pendekatan pelatihan pun harus menyesuaikan.
Meski begitu, ada satu hal yang tidak pernah berubah: filosofi permainan Sixteen yang menekankan pertahanan rapat dan transisi cepat.
“Pertahanan itu fondasi utama. Dari situ kita bangun serangan balik,” tegasnya.
Karakter tersebut menjadi ciri khas Sixteen selama bertahun-tahun. Sagita percaya bahwa tim yang kuat bukan hanya soal kemampuan individu, tetapi juga komunikasi dan kepercayaan antar pemain.
Tidak semua pemain Sixteen datang dengan kemampuan basket yang matang. Sebagian bahkan baru belajar dasar-dasar permainan saat bergabung. Ada pula yang sebelumnya aktif di cabang olahraga lain sebelum memilih basket.
Situasi itu membuat Sagita terbiasa membentuk pemain dari nol. Ia tidak hanya mengandalkan talenta siap pakai, tetapi juga berusaha mengembangkan potensi setiap pemain.
“Saya tidak ingin terlalu banyak pola yang membebani. Yang penting komunikasi di lapangan jalan,” katanya.
Dalam latihan, Sagita lebih menekankan pemahaman antar pemain. Ia ingin setiap anggota tim mengenal karakter dan kebiasaan rekan setimnya. Pendekatan ini terbukti efektif membangun chemistry yang kuat di lapangan.
Saat pertandingan, Sagita tidak ingin pemain terbebani tekanan. Menurutnya, latihan adalah tempat untuk tuntutan, sementara pertandingan adalah ruang untuk menikmati permainan.
“Kalau di pertandingan, mereka harus bisa menikmati. Tekanan itu bagian dari proses belajar,” ujarnya.
Atmosfer kompetisi DBL yang penuh sorotan memang berbeda dengan latihan sehari-hari. Sagita memahami bahwa beberapa pemain bisa kehilangan fokus di bawah tekanan. Namun, ia memilih tidak langsung mengambil alih situasi.
“Saya ingin mereka belajar menghadapi tekanan sendiri. Dari situ mereka tumbuh,” tambahnya.
Selama hampir dua dekade, Sagita sempat menerima tawaran melatih di tempat lain. Namun, ia memilih tetap bertahan di SMAN 16 Surabaya.
“Saya nyaman di sini. Sixteen itu keluarga, bukan sekadar tim,” ungkapnya.
Baginya, Sixteen memberikan lingkungan yang ia cari: saling menghargai, kekeluargaan, dan semangat kebersamaan. Ikatan itu tidak hanya terjalin dengan pemain aktif, tetapi juga dengan para alumnus.
Banyak mantan pemain Sixteen yang masih menjalin komunikasi dengannya. Mereka sering datang ke sekolah untuk berlatih, berbagi pengalaman, atau sekadar bersilaturahmi.
“Beberapa alumni masih sering datang. Ada yang sudah kerja, tapi tetap menyempatkan waktu untuk kumpul,” kata Sagita.
Hubungan lintas generasi ini menjadi bukti kuat bahwa Sixteen bukan hanya tim basket, melainkan wadah pembentukan karakter. Sagita menjadi figur yang konsisten mendampingi perjalanan para pemain dari masa remaja hingga dewasa.
Setelah memastikan tiket ke Round 2, Sagita menegaskan bahwa kemenangan atas FIRST bukan alasan untuk berpuas diri. Ia masih memiliki daftar panjang evaluasi yang harus diselesaikan.
Komunikasi, permainan menyerang, dan kedisiplinan bertahan menjadi fokus utama dalam persiapan menuju laga berikutnya.
“Kita masih punya pekerjaan rumah. Detail kecil harus diperbaiki,” ujarnya.
Bagi Sagita, setiap pertandingan adalah kesempatan untuk belajar. Ia ingin para pemain memahami bahwa kemenangan besar tidak berarti sempurna.
“Menang itu bonus. Yang penting anak-anak berkembang,” katanya.
Selama 17 tahun, banyak pemain datang dan pergi, tetapi identitas Sixteen tetap terjaga. Disiplin, komunikasi, dan kerja sama menjadi fondasi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kini, Sixteen bersiap menghadapi tantangan baru di Round 2 Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North. Dengan filosofi yang sama, Coach Sagita berharap timnya bisa melangkah lebih jauh tanpa kehilangan karakter yang telah dibangun selama hampir dua dekade.