Tradisi Pramuka Jateng ETK 'Estafet Tunas Kelapa' yang Bertahan Sejak 1971, Ternyata ini Tujuannya
Rifatun Nadhiroh September 02, 2026 08:12 PM

 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Lebih dari lima dekade, Estafet Tunas Kelapa (ETK) terus menjadi tradisi khas Gerakan Pramuka Jawa Tengah.

Tradisi yang telah berlangsung sejak 1971 itu kembali digelar tahun ini dalam rangka memperingati Hari Pramuka ke-65 Tingkat Kwartir Daerah (Kwarda) Jawa Tengah.

Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Boyolali mendapatkan giliran menerima Tunas Kelapa dari Kwarcab Kota Surakarta, Rabu (2/9/2026).

Prosesi serah terima berlangsung secara simbolis di halaman Masjid Baiturrahman, Desa Sawahan, Kecamatan Ngemplak.

Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Boyolali
Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Boyolali mendapatkan giliran menerima Tunas Kelapa dari Kwarcab Kota Surakarta, Rabu (2/9/2026).

Setelah itu, Tunas Kelapa dikirab sejauh sekitar 5 kilometer menuju SD Negeri Dibal.

Pelaksana Humas Kwarcab Boyolali, Eksani, mengatakan ETK memiliki sejarah panjang dan sarat dengan nilai perjuangan.

Menurutnya, tradisi tersebut terinspirasi dari nilai-nilai perjuangan dan kepahlawanan Panglima Besar Jenderal Soedirman ketika memimpin perang gerilya.

"Estafet Tunas Kelapa merupakan tradisi khas Pramuka Jawa Tengah yang rutin dilaksanakan sejak 1971," kata Eksani.

Cikal kelapa hidup menjadi simbol utama dalam tradisi tersebut.

Tunas itu ditempatkan di dalam anyaman bambu berbentuk tas ransel, kemudian digendong oleh petugas selama perjalanan estafet.

Baca juga: Estafet Tunas Kelapa Lewat Klaten, Bupati Hamenang: Pramuka Bisa Selamatkan Anak Muda di Era Digital

Dalam kirab, rombongan juga membawa bendera Merah Putih, tongkat, bendera semaphore, serta berbagai atribut khas Pramuka.

Tradisi yang telah berlangsung selama sekitar 55 tahun ini melibatkan anggota Pramuka dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Tahun ini, ETK melintasi 35 Kwarcab kabupaten/kota melalui 14 titik pemberangkatan.

Khusus di Boyolali, sebanyak 492 anggota Pramuka dari tiga Kwartir Ranting (Kwarran) dilibatkan. Mereka terbagi menjadi pasukan inti dan pasukan pendukung.

"Setiap titik serah terima menerjunkan 61 pasukan inti dan 62 pasukan pendukung," jelas Eksani.

Sekretaris Daerah Kabupaten Boyolali, M. Syawalludin, mengatakan keberlangsungan tradisi ETK menjadi salah satu wujud kebersamaan dan soliditas anggota Pramuka di Jawa Tengah.

"Alhamdulillah, hari ini dilaksanakan serah terima Estafet Tunas Kelapa dari Kamabicab Solo kepada Kamabicab Boyolali. Besok pagi pukul 08.00 WIB, serah terima dilanjutkan ke Pemerintah Kota Salatiga di area perbatasan," ujarnya.

Selain menjaga tradisi yang telah diwariskan sejak 1971, ETK tahun ini juga membawa pesan tentang ketahanan pangan.

Baca juga: Mengenal Apa itu Estafet Tunas Kelapa ETK yang akan Melewati Boyolali, Klaten dan Kota Solo

Tema ETK 2026 yakni "Dengan Semangat Gerakan Pramuka dan Estafet Tunas Kelapa, Kita Mantapkan Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045."

Syawalludin mengatakan tema tersebut sejalan dengan program swasembada pangan yang menjadi prioritas nasional.

"Karena swasembada pangan merupakan program prioritas nasional, seluruh jajaran Gerakan Pramuka mulai dari Kamabicab, Kwarcab, hingga Kwarran wajib memberikan dukungan penuh," tegasnya.

Setelah melintasi wilayah Boyolali, Tunas Kelapa dijadwalkan kembali diestafetkan kepada Pemerintah Kota Salatiga di area perbatasan pada Kamis (3/9/2026) pagi.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.