TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Ketua Senat Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Abdul Wachid B.S. mengingatkan kepada para wisudawan agar tidak menjadikan ijazah sebagai akhir perjalanan belajar.
Pesan tersebut disampaikan dalam Wisuda Sarjana Angkatan ke-73 UIN Saizu Purwokerto di Auditorium Utama UIN Saizu, Rabu (2/9/2026).
Dalam sambutannya, Prof. Wachid menekankan gelar akademik merupakan tanda telah selesainya satu tahap pendidikan. Namun, gelar tersebut sekaligus menjadi awal bagi lulusan untuk membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh selama kuliah benar-benar memberikan manfaat dalam kehidupan.
"Apakah selesainya pendidikan berarti selesainya belajar?" kata Prof. Wachid menyampaikan sambutan.
Dia mengajak para wisudawan membayangkan dua orang yang lulus dari program studi yang sama, pada waktu yang sama, dengan kemampuan akademik yang relatif sama.
Beberapa tahun kemudian, salah seorang di antara mereka menjadi sosok yang banyak dicari ketika menghadapi persoalan. Orang-orang berkata, "Coba tanyakan kepadanya. Dia mungkin dapat membantu menyelesaikannya."
Sementara lulusan lainnya masih sibuk mencari jawaban mengenai tempat mendapatkan pekerjaan.
Menurut Prof. Wachid, perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan tidak hanya ditentukan oleh ijazah dan nilai akademik.
"Apa yang membedakan keduanya? Bukan semata-mata ijazah atau nilai akademik, tetapi bagaimana ilmu tumbuh menjadi kemampuan, karakter, dan kemanfaatan," ujarnya.
Karena itu, ia mendorong para wisudawan untuk menjadikan ilmu sebagai bekal membangun kemampuan, karakter, sekaligus memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Dalam sambutannya, Prof. Wachid juga membagikan refleksi mengenai perjalanan seseorang yang pernah dianggap tidak akan mampu menyelesaikan pendidikan.
Pada masa tahap persiapan, orang tersebut sempat dinilai oleh teman-teman seangkatannya tidak akan menyelesaikan pendidikan karena beberapa semester belum memenuhi harapan.
Bahkan, ada yang memperkirakan dirinya akan terkena drop out (DO). Namun, perjalanan hidup kemudian menunjukkan hal berbeda.
Orang tersebut mampu menyelesaikan pendidikan S1, S2, hingga S3 dan terus berkembang sampai mencapai jabatan akademik sebagai guru besar.
Pengalaman tersebut membuat Prof. Wachid merenungkan faktor yang memungkinkan seseorang bertahan dan berkembang dalam perjalanan panjang pendidikan.
"Apakah nilai akademiknya? Banyak orang memperoleh nilai tinggi. Keorganisasiannya? Banyak yang tekun berorganisasi. Kerja kerasnya? Tentu. Tetapi banyak orang juga bekerja keras," katanya.
Menurutnya, kehidupan tidak sepenuhnya dapat dijelaskan melalui angka. Ada ikhtiar, ketekunan, disiplin, doa, kesempatan, pertolongan orang lain, serta sesuatu yang sering disebut sebagai keberuntungan.
Namun, bagi orang beriman, keberuntungan bukan semata-mata kebetulan. "Di balik ikhtiar manusia ada rahmat Allah yang tidak selalu dapat kita ukur," tuturnya.
Untuk menjelaskan pentingnya mengamalkan ilmu, Prof. Wachid mengutip filosofi Jawa yang terdapat dalam Serat Wedhatama karya K.G.P.A.A. Mangkunegara IV.
Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese dur angkara.
Menurut Prof. Abdul Wachid, pesan tersebut mengandung makna bahwa ilmu tidak cukup hanya diketahui.
Ilmu harus dijalani melalui laku, yakni kesungguhan dan ketekunan yang membangun kekuatan diri, keteguhan budi, serta kemampuan mengendalikan dorongan buruk dalam diri manusia.
"Laku bukan sekadar melakukan apa yang kita ketahui, tetapi menjadikan ilmu bagian dari kepribadian: semakin berilmu, semakin mampu mengendalikan diri, teguh dalam kebaikan, dan bermanfaat bagi sesama," jelasnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu inti sambutan Ketua Senat UIN Saizu kepada para wisudawan.
Dia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya seberapa banyak pengetahuan yang tersimpan dalam pikiran, tetapi bagaimana pengetahuan tersebut diwujudkan dalam perilaku dan tindakan nyata.
Menurutnya, kedua ajaran tersebut memperlihatkan bahwa ilmu bukan hanya sesuatu yang dimiliki, melainkan jalan yang harus ditempuh dan dijalani.
Karena itu, ijazah yang diterima wisudawan bukanlah penanda bahwa proses belajar telah selesai.
"Ke kehidupan kelak akan bertanya: apakah ilmu itu sudah Saudara jalani dengan laku?" ujarnya.
Prof. Wachid meminta para wisudawan untuk tetap belajar setelah meninggalkan kampus.
Dia mengingatkan agar lulusan terus berikhtiar ketika kesempatan belum datang, menjaga kejujuran ketika tidak ada yang mengawasi, memperbaiki diri ketika mengalami kegagalan, serta terus berdoa ketika jalan belum terbuka.
Menurutnya, manusia tidak pernah mengetahui melalui pintu mana Allah SWT akan membuka jalan. Karena itu, setiap kesempatan yang datang perlu disikapi dengan rasa syukur dan tanggung jawab. Ketika keberhasilan akhirnya diraih, seseorang tidak cukup hanya bertanya, "Mengapa Allah memberikannya kepada saya?"
Pertanyaan yang lebih penting, menurut Prof. Abdul Wachid, adalah, "Untuk apa Allah memberikannya kepada saya?" Pertanyaan tersebut mengandung pesan bahwa keberhasilan bukan hanya mengenai seberapa tinggi seseorang mencapai posisi, tetapi juga mengenai amanah yang menyertai pencapaian tersebut.
"Untuk apa pencapaian itu digunakan, siapa yang memperoleh manfaat, dan kebaikan apa yang ditinggalkan," katanya.
Prof. Abdul Wachid menekankan bahwa laku merupakan proses menjadikan ilmu sebagai bagian dari karakter dan kehidupan.
Ilmu harus membentuk pribadi yang lebih baik. Keberhasilan tidak boleh melahirkan kesombongan. Sementara pencapaian harus kembali menjadi kemanfaatan.
Karena itu, ia berpesan agar para wisudawan tidak merasa harus menjadi manusia yang paling hebat.
"Jadilah manusia yang terus bertumbuh, terus belajar, teguh dalam kebaikan, mampu mengendalikan diri, dan berguna bagi sesama," pesannya.
Dia juga memberikan penegasan yang menjadi pesan utama bagi para lulusan UIN Saizu.
"Jangan biarkan ilmu berhenti di kepala. Jalankan ilmu dalam laku. Jangan biarkan keberhasilan berhenti pada diri. Jadikan keberhasilan sebagai jalan pengabdian," tegasnya.
Menutup sambutannya dalam Wisuda Sarjana Angkatan ke-73 UIN Saizu, Prof. Wachid mendoakan agar Allah SWT membimbing langkah para wisudawan, melapangkan jalan pengabdian, menjaga hati dalam setiap keberhasilan, serta memberkahi ilmu yang telah diperoleh.
Ia berharap ilmu dan ikhtiar para lulusan dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan. (***)