Rektor UIN Saizu Bekali 699 Wisudawan: Baca Peluang dan Jangan Takut Gagal
abduh imanulhaq September 02, 2026 09:09 PM

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Rektor Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Ridwan mewisuda 699 mahasiswa dalam Sidang Terbuka Senat Akademik dalam rangka Wisuda Sarjana ke-73 di Auditorium UIN Saizu Purwokerto, Rabu (2/9/2026).

Dalam sambutannya, Prof. Ridwan memberikan pesan penting kepada para wisudawan, agar tidak menjadikan wisuda sebagai akhir perjalanan pendidikan.

Menurutnya, wisuda justru menjadi awal bagi para sarjana untuk memasuki kehidupan yang sesungguhnya.

Dijelaskan, setelah memperoleh gelar akademik, para lulusan dituntut mampu membaca peluang, berani mencoba tantangan, dan terus bergerak untuk membangun masa depan.

"Wisuda bukanlah garis akhir perjalanan pendidikan, tetapi garis awal memasuki arena kehidupan yang sesungguhnya," ujarnya.

Dia menegaskan bahwa gelar akademik merupakan bentuk pengakuan atas proses pendidikan yang telah ditempuh.

Namun, masa depan tidak dapat dibangun hanya dengan mengandalkan ijazah.

"Gelar akademik merupakan pengakuan atas proses belajar yang telah ditempuh, tetapi masa depan tidak cukup dibangun hanya dengan ijazah. Masa depan membutuhkan keberanian membaca peluang, mencoba tantangan, dan terus bergerak maju keluar dari zona nyaman," katanya.

Prof. Ridwan mengingatkan para calon wisudawan bahwa dunia setelah kampus bergerak sangat dinamis.

Perubahan teknologi, transformasi dunia kerja, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), ekonomi digital, hingga munculnya berbagai profesi baru telah mengubah peta kesempatan kerja.

Perubahan tersebut, menurutnya, menghadirkan dua sisi sekaligus. Di satu sisi, peluang semakin terbuka.

Namun di sisi lain, persaingan juga semakin ketat. Karena itu, lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya mencari informasi mengenai lowongan pekerjaan yang tersedia.

Seorang sarjana, kata Prof. Ridwan, harus mampu mengembangkan pola pikir dari sekadar mencari pekerjaan menjadi pribadi yang mampu membaca dan menciptakan peluang.

"Seorang sarjana tidak cukup hanya bertanya, 'Di mana tersedia pekerjaan untuk saya?' Ia juga harus berani bertanya, 'Peluang apa yang dapat saya ciptakan dengan ilmu, kompetensi, dan jejaring yang saya miliki?'" tuturnya.

Lebih lanjut, Prof. Ridwan menjelaskan bahwa peluang tidak selalu hadir dalam bentuk tawaran yang sudah siap.

Sering kali peluang justru tersembunyi di balik perubahan, kebutuhan masyarakat, persoalan yang belum terselesaikan, serta perkembangan zaman.

Karena itu, calon wisudawan perlu memiliki kepekaan terhadap lingkungan dan perubahan sosial.

Para lulusan didorong untuk memperhatikan kebutuhan masyarakat, mengidentifikasi persoalan yang belum terselesaikan, serta memahami kompetensi yang diprediksi semakin dibutuhkan pada masa depan.

"Wisudawan harus mampu mengubah pengetahuan menjadi kemampuan membaca realitas. Ilmu yang diperoleh di kampus harus menjadi kompas untuk menemukan peluang dan instrumen untuk menyelesaikan persoalan dan tantangan kehidupan," jelasnya.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak berhenti pada penguasaan teori. Ilmu harus diterjemahkan menjadi kemampuan praktis untuk membaca keadaan dan memberikan solusi.

Pesan kedua yang ditekankan Prof. Ridwan adalah keberanian untuk mencoba.

Menurutnya, salah satu tantangan yang kerap dihadapi seseorang ketika memasuki fase baru kehidupan adalah rasa takut gagal. Padahal, kegagalan dalam proses mencoba dapat menjadi sumber pengalaman dan pembelajaran.

"Mencoba lalu gagal jauh lebih baik daripada tidak pernah mencoba sama sekali," tegasnya.

Dia menjelaskan bahwa orang yang berani mencoba memiliki dua kemungkinan, yakni berhasil atau mendapatkan pengalaman. Sementara orang yang tidak pernah mencoba justru telah menutup peluang keberhasilan sejak awal.

Wisudawan juga diminta tidak menunggu segala sesuatu sempurna sebelum mengambil langkah pertama.

"Jangan terlalu takut melakukan kesalahan. Jangan pula menunggu sampai semuanya sempurna untuk memulai. Kesempurnaan bukan syarat untuk mengambil langkah pertama," ujarnya.

Menurut Prof. Ridwan, kemampuan, kematangan, dan kepercayaan diri sering kali tumbuh setelah seseorang berani memulai. Bahkan ketika percobaan berakhir dengan kegagalan, seseorang tetap memperoleh pengalaman, pelajaran, jaringan, dan kematangan.

Prof. Ridwan juga mengajak para calon wisudawan memahami kegagalan secara lebih positif. Kesuksesan, katanya, tidak selalu diperoleh melalui jalan yang lurus dan mudah.

Di dalam perjalanan menuju keberhasilan sering terdapat penolakan, kesalahan, kekecewaan, dan berbagai tantangan.

"Seseorang baru dapat menikmati manisnya kesuksesan setelah ia mampu melewati pahitnya kegagalan," ungkapnya.

Dia menyebut kegagalan sebagai bagian dari sekolah kehidupan. Kegagalan mengajarkan kesabaran dan evaluasi. Kesulitan melatih ketangguhan, sedangkan penolakan membentuk daya tahan.

Karena itu, kegagalan tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti.

"Jangan jadikan kegagalan sebagai terminal pemberhentian. Jadikan ia sebagai halte untuk mengevaluasi perjalanan sebelum kembali bergerak menuju tujuan," pesannya.

Menurutnya, hasil akhir berada dalam ketentuan Allah SWT, sedangkan manusia memiliki kewajiban untuk terus berikhtiar.

"Karena itu, jangan berhenti hanya karena satu kegagalan. Selama masih mau berusaha, selalu ada kemungkinan untuk menemukan jalan baru," katanya.

Pesan berikutnya adalah pentingnya terus bergerak maju. Prof. Ridwan mengibaratkan kehidupan sebagai perjalanan yang menuntut seseorang untuk terus melangkah.

Orang yang bergerak memiliki kesempatan untuk menemukan jalan baru. Sebaliknya, orang yang berhenti akan tetap berada di tempat yang sama.

Karena itu, wisudawan didorong memegang prinsip "bergerak maju untuk meraih masa depan gemilang." Bergerak maju bukan berarti seseorang tidak pernah mengalami kegagalan. Bergerak maju berarti tidak membiarkan kegagalan menghentikan perjalanan.

"Hari ini mungkin belum berhasil. Besok mungkin masih harus mencoba. Tetapi setiap langkah, sekecil apa pun, akan mendekatkan seseorang kepada tujuan jika dilakukan secara konsisten dan memiliki arah yang jelas," tutur Prof. Ridwan.

Untuk membantu para lulusan menghadapi dunia setelah kampus, Prof. Ridwan menekankan empat modal utama yang harus terus dibangun.

Pertama, kompetensi. Para lulusan harus terus meningkatkan pengetahuan, keterampilan, kemampuan digital, komunikasi, bahasa, dan profesionalitas.

Kedua, karakter. Kompetensi harus berjalan bersama integritas, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, dan sikap dapat dipercaya. Ketiga, jejaring.

Para lulusan perlu membangun hubungan, persahabatan, serta kolaborasi. Menurut Prof. Ridwan, banyak peluang lahir dari perjumpaan dan kepercayaan.

Keempat, adaptabilitas. Lulusan harus memiliki kemampuan untuk terus belajar, menyesuaikan diri, dan tetap produktif di tengah perubahan.

"Kompetensi membuat kita mampu. Karakter membuat kita dipercaya. Jejaring membuka kesempatan. Adaptabilitas membuat kita terus berkembang," tegasnya.

Prof. Ridwan juga mendorong alumni UIN Saizu agar tidak membatasi orientasi masa depan hanya sebagai job seeker atau pencari kerja. Pihaknya mengajak para lulusan menjadi opportunity seeker, yakni pribadi yang mampu membaca, mencari, bahkan menciptakan peluang.

Pilihan karier setelah wisuda sangat beragam. Lulusan dapat berkiprah sebagai profesional, aparatur sipil negara (ASN), akademisi, peneliti, pengusaha, pekerja kreatif, aktivis sosial, maupun membangun usaha sendiri dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.

"Jangan hanya bertanya: "Pekerjaan apa yang tersedia untuk saya?" Mulailah bertanya: "Nilai dan karya apa yang dapat saya ciptakan untuk masyarakat?"" pesannya.

Pola pikir tersebut diharapkan mampu mendorong lulusan UIN Saizu menjadi sumber daya manusia yang tidak hanya kompetitif dalam dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan dampak positif bagi masyarakat.

Memasuki kehidupan setelah wisuda, para lulusan akan meninggalkan satu zona kehidupan dan memasuki zona kehidupan baru. Karena itu, Prof. Ridwan berpesan agar para wisudawan tidak hanya membawa ijazah. Mereka juga harus membawa keberanian, optimisme, kompetensi, karakter, dan semangat pantang menyerah.

"Jangan hanya menunggu pintu terbuka, maka carilah pintunya. Jika belum menemukan pintu, maka bangunlah pintu baru," katanya.

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa lulusan perguruan tinggi harus menjadi pribadi yang proaktif dalam menghadapi masa depan.

Di tengah perubahan teknologi dan dinamika dunia kerja, kemampuan untuk melihat kesempatan, berani mengambil langkah, belajar dari kegagalan, serta beradaptasi menjadi bekal penting bagi setiap alumni.

Prof. Ridwan menegaskan bahwa masa depan gemilang bukan sesuatu yang cukup ditunggu. Masa depan harus diperjuangkan melalui ikhtiar, keberanian, pembelajaran, dan konsistensi.

"Bergeraklah maju. Jangan takut gagal. Masa depan gemilang bukan untuk ditunggu, tetapi untuk diperjuangkan dan diwujudkan," pungkasnya. (***)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.