Laporan Wartawan TribunJatim.com, Mohammad Romadoni
TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO - Bagi masyarakat Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, kopi kini tidak lagi sekadar komoditas yang dipanen dari lereng Gunung Welirang.
Kopi tumbuh menjadi sumber penghasilan, identitas desa, hingga membuka peluang bagi generasi muda untuk membangun usaha di kampung halaman tanpa harus terus menggantungkan masa depan dari pekerjaan di kota.
Perubahan tersebut turut dirasakan petani yang tergabung dalam Paguyuban Petani Kopi Bontugu.
Salah satunya Rimbayu Ampalita (31), yang telah bergabung dalam kelompok tani selama sekitar satu dekade.
Ia menyaksikan bagaimana pola budidaya dan pengolahan kopi perlahan berkembang seiring masuknya berbagai program pendampingan kepada para petani.
Sejak Bank Indonesia melakukan pembinaan pada 2024, Lita, sapaan akrab Rimbayu, mengatakan, petani mendapatkan pelatihan sekitar tiga bulan mengenai pengelolaan kopi dari hulu hingga hilir.
Materinya mencakup pembibitan, penanaman, pemupukan organik, perawatan, penanganan hama karat daun, proses panen hingga pascapanen.
Petani juga mendapat pengetahuan mengenai proses pengolahan setelah panen, mulai pemetikan, pemilahan, roasting hingga kopi menjadi produk siap dijual.
Selain peningkatan kompetensi, kelompok tani memperoleh bantuan peralatan pengolahan dan rumah produksi yang digunakan untuk mendukung aktivitas mereka.
"Kita dibina tidak hanya pas pelatihan saja, tapi kita juga benar-benar diajari dari nol tentang kopi dari hulu ke hilir. Termasuk dibantu pemasaran dengan promosi melalui pameran kopi di Jawa Timur. Terima kasih sampai sekarang masih terus dibina," ujar Lita.
Menurutnya, pendampingan tersebut memberi dampak konkret.
Hasil panen mengalami peningkatan, kualitas biji kopi menjadi lebih baik dan harga jual ikut naik.
Setelah persoalan produksi dan kualitas mulai berkembang, tantangan berikutnya adalah bagaimana memperluas pemasaran agar produk petani semakin banyak diserap pasar.
"Kalau sekarang harga kopi sudah oke, yang mungkin saat ini lebih pada pengembangan pemasarannya," katanya.
Perubahan ekonomi juga dialami Wahyu Sahnyoto.
Sebelum menekuni budidaya kopi, ia bekerja sebagai penjual petai keliling ke sejumlah daerah.
Pada 2016, Sahnyoto kemudian memilih menjadi petani kopi di Desa Ketapanrame dan secara bertahap mengembangkan kebun di kawasan lereng Gunung Welirang.
Kehadiran program pendampingan pada 2024 menurutnya mengubah cara petani memahami komoditas yang mereka tanam.
Mereka tidak hanya belajar bagaimana menjaga tanaman tetap hidup, tetapi juga memahami kualitas biji, proses panen yang tepat hingga bagaimana hasil kebun dapat memiliki nilai jual lebih tinggi setelah melalui pengolahan yang benar.
"Kami diberi pemahaman tentang kopi dari hulu ke hilir oleh Bank Indonesia, sekarang petani lebih cerdas kami merasakan dampaknya. Panen kopi jauh lebih meningkat, dan kualitasnya premium harganya jualnya tinggi," ujar Sahnyoto.
Hasil panen di lahan miliknya saat ini dapat mencapai sekitar 10 ton ceri kopi.
Ia juga mulai mengembangkan varietas baru, salah satunya Yellow Caturra yang merupakan varietas Arabika hasil mutasi alami dari varietas Bourbon.
Bagi Sahnyoto, pengembangan kopi tidak boleh berhenti pada varietas yang selama ini sudah ditanam.
Pengetahuan baru mengenai budidaya dan pengembangan jenis kopi diperlukan agar petani Ketapanrame mampu mempertahankan kualitas sekaligus mengikuti perkembangan pasar.
"Harapan saya sebagai petani kopi, diberi pelatihan dan pengetahuan baru untuk pengembangan varietas kopi agar kami bisa lebih maju," katanya.
Perjalanan Kopi Bontugu juga mulai memasuki babak regenerasi dengan hadirnya anak muda yang memilih terlibat dalam bisnis kopi.
Salah satunya Wahyu Satriya Pamungkas (23), pemuda Ketapanrame yang sebelumnya merantau dan bekerja di bidang food and beverage di Kota Solo.
Ketertarikannya pada dunia kopi tumbuh pada 2023 ketika ia bekerja di kota tersebut.
Dari pengalaman itu, Wahyu mulai memahami teknik penyajian sekaligus melihat bahwa kopi bukan hanya komoditas pertanian, tetapi dapat dikembangkan menjadi industri kreatif yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi.
"Dari situlah saya tertarik di dunia perkopian, terus mencoba berinovasi meracik kopi," kata Wahyu saat ditemui di Coffee Shop Bontugu, Jalan Raya Air Terjun Dlundung, Ketapanrame, Trawas, Kamis (13/8/2026) malam.
Berbekal pengalaman tersebut, Wahyu memutuskan kembali ke kampung halaman untuk mengembangkan produk olahan Kopi Bontugu.
Ia menjadi bagian dari proses hilirisasi kopi yang sebelumnya ditanam oleh petani di kawasan lereng Gunung Welirang pada ketinggian sekitar 1.100 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut.
Kelompok Tani Kopi Bontugu sendiri terbentuk pada 2016.
Pada masa awal, para petani mengenal istilah 'kopi keleleran' karena proses penjemuran dilakukan di berbagai tempat seperti jalan maupun halaman rumah.
Ketika itu pengetahuan mengenai proses pengolahan belum berkembang seperti sekarang.
Seiring meningkatnya pemahaman mengenai kualitas kopi, pengolahan mulai dilakukan lebih serius.
Pada 2018, Wahyu mulai berhasil meracik Kopi Bontugu dengan karakter rasa yang kemudian terus dikembangkan hingga menjadi berbagai produk minuman maupun olahan.
Di tangan generasi muda, Kopi Bontugu tidak hanya dijual sebagai biji kopi atau minuman.
Wahyu mengatakan, kelompoknya mengembangkan konsep zero waste agar bagian-bagian kopi yang sebelumnya dianggap limbah masih dapat memiliki nilai ekonomi.
Kulit kopi, misalnya, dimanfaatkan menjadi cascara atau teh rendah kafein.
Sementara bagian hasil pengolahan lainnya dikembangkan menjadi produk pangan seperti kukis kopi gula palem.
Inovasi tersebut menjadi upaya untuk membuat rantai produksi lebih efisien sekaligus menambah ragam produk yang bisa dipasarkan.
"Untuk Bontugu ini konsepnya zero waste, yaitu nol pembuangan mulai dari kulit kita manfaatkan menjadi cascara. Kemudian, kulit ari biji kopi atau limbah dari espresso diolah menjadi inovasi pangan yang namanya kukis kopi palem," jelasnya.
Salah satu menu yang banyak diminati di Coffee Shop Bontugu adalah kopi susu Bontugu menggunakan biji pilihan hasil budidaya petani setempat.
Produk Kopi Bontugu juga telah masuk ke sejumlah coffee shop di Surabaya, bahkan sebagian tetap menggunakan nama Bontugu sebagai identitas bahan bakunya.
Wahyu menyebut kelompok petani dan pengelola Bontugu turut mendapatkan pelatihan dari Bank Indonesia, mulai sektor pertanian hingga teknik penyeduhan.
BI juga menyalurkan sejumlah bantuan peralatan dan mendukung pembangunan rumah produksi untuk menunjang aktivitas pengolahan.
Saat ini, Kopi Bontugu memiliki sekitar 42 petani yang tergabung dalam kelompok, termasuk anggota inti.
Sementara Coffee Shop Bontugu melibatkan lima orang barista yang menjadi bagian dari pengembangan hilirisasi produk kopi tersebut.
Bagi Wahyu, berkembangnya bisnis kopi di Ketapanrame belum berarti seluruh pekerjaan telah selesai.
Salah satu tantangan terbesar adalah regenerasi petani karena generasi yang selama ini mengelola kebun akan terus bertambah usia, sementara belum semua anak muda tertarik masuk ke sektor pertanian.
Ia berharap keberadaan coffee shop dan berbagai produk turunan mampu membuat anak muda melihat kopi dari perspektif yang lebih luas.
Pertanian tidak hanya berada di kebun, tetapi dapat terhubung dengan industri pengolahan, barista, pemasaran, desain produk hingga usaha kuliner.
"Saya berharap pertanian Kopi Bontugu semakin berkembang, apalagi sekarang sudah zamannya Gen-Z. Aku berharap mereka ada yang mau belajar dan mau bertani agar bisa menggantikan para petani tua ke depannya nanti," ujar Wahyu.
"Buat saya sendiri, arti Bontugu adalah dunia," tambahnya.
Selain nilai ekonomi, Kopi Bontugu juga menyimpan cerita yang dipercaya telah berlangsung jauh sebelum kelompok tani dibentuk.
Para petani meyakini pohon kopi sudah tumbuh di kawasan Ketapanrame sejak masa kolonial Belanda, terutama setelah ditemukannya sejumlah pohon berukuran besar di kawasan atas lereng Gunung Welirang.
Sekitar delapan pohon kopi disebut memiliki diameter 20-30 sentimeter dan tinggi mencapai sekitar 10 meter.
Lokasinya berada cukup jauh dari kebun yang saat ini dikelola petani dan membutuhkan perjalanan sekitar 30 menit hingga satu jam menuju kawasan bawah Puthuk Banggul.
Sahnyoto mengatakan pohon tersebut diyakini merupakan jenis Arabika yang sudah tumbuh selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Keberadaannya menjadi salah satu cerita yang terus hidup di tengah masyarakat dan kemudian ikut membentuk identitas Kopi Bontugu.
Kepala Desa Ketapanrame, Zainul Arifin, juga membenarkan adanya pohon kopi tua yang tumbuh di kawasan hutan dan saat ini tidak banyak dirawat karena lokasinya sulit dijangkau.
Ia meyakini sejarah panjang tersebut ikut memberi karakter pada kopi yang dihasilkan di wilayah Ketapanrame.
"Jadi tidak heran kalau Kopi Bontugu menang di festival kopi kemarin, karena banyak orang menyebut pohon kopi di Ketapanrame sudah ada sejak zaman Belanda," katanya.
Aji Kelono Listriatmojo, salah satu sosok yang ikut mendukung pengembangan Kopi Bontugu, melihat cerita tersebut sebagai nilai tambah.
Ia mulai mengenal para petani sejak 2012 dan kemudian ikut membantu memperkenalkan produk melalui jaringan barista serta pendekatan ekonomi kreatif.
Menurut Aji, petani sejak awal memiliki kemampuan menanam dan merawat kopi, namun masih membutuhkan dukungan pada aspek branding dan pemasaran.
Melalui jaringan barista, Kopi Bontugu kemudian mulai dikenal lebih luas, bahkan sejumlah pengunjung dari Belanda dan Jepang disebut pernah datang dan tertarik terhadap kualitas kopi yang dihasilkan.
Pendampingan Bank Indonesia kemudian semakin memperkuat proses tersebut melalui pelatihan, bantuan sarana-prasarana serta upaya menjaga kualitas kopi, termasuk melalui scoring untuk mengukur mutu produk.
Bagi para penggiatnya, masa depan Bontugu tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak kopi yang dapat dipanen dari lereng Welirang.
Regenerasi petani, inovasi produk, kualitas pengolahan hingga kemampuan membawa cerita dan identitas Kopi Bontugu kepada konsumen menjadi bagian penting agar komoditas lokal Ketapanrame terus bertahan dan berkembang.