Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Kayu keramat yang hampir setahun tenggelam di dalam Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya, Kabupaten Cirebon, kembali diangkat dalam tradisi Muludan Tuk, Rabu (2/9/2026).
Namun, bagi Kementerian Kebudayaan, pengangkatan kayu tersebut tidak semestinya berhenti sebagai ritual tahunan.
Ada pesan tentang pentingnya menjaga air, lingkungan, sejarah, hingga potensi ekonomi budaya yang dinilai perlu disampaikan kepada masyarakat.
Baca juga: Jadwal Gila Persib di Awal Musim 2026/2027, Hadapi 4 Laga Tandang Beruntun, dari Jakarta ke Seoul
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Judhi Wahyudin mengatakan, tradisi yang telah berlangsung sejak 1965 itu merupakan aset budaya penting karena tumbuh dan dipertahankan langsung oleh masyarakat.
"Yang pertama tentunya ini merupakan aset budaya yang penting karena keberadaannya milik masyarakat dan sudah dilakukan sejak tahun '65," ujar Judhi saat diwawancarai di sela-sela kedatangannya di tradisi Muludan Tuk, Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya, Desa Kertawinangun, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Rabu (2/9/2026).
Menurut Judhi, keberlangsungan tradisi tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan merupakan milik masyarakat.
Terlebih, tradisi itu masih dapat dilaksanakan dari tahun ke tahun melalui gotong royong masyarakat.
Karena itu, menurutnya, nilai-nilai yang terkandung di dalam tradisi tersebut juga perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.
"Sehingga diseminasi atau sosialisasi, kaderisasi terkait nilai-nilai ini juga bisa terselenggarakan atau merata ke masyarakat," ucapnya.
Baca juga: Melihat Kayu Keramat Setahun Tenggelam Diangkat dari Balong Cirebon, Warga Berebut Menyentuhnya
Baca juga: Kesempatan Bobotoh Cilik Menjadi Player Escort Persib Bandung Lawan PSM di Stadion GBLA, Ini Caranya
*Bukan Sekadar Kayu, Ada Pesan tentang Air*
Judhi kemudian mengaitkan tradisi tersebut dengan cerita mengenai asal-usul Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya.
Menurut sejarah tutur masyarakat, Pangeran Mancur Jaya atau Mancurbaya mendapat tugas dari Kesultanan melalui Pangeran Cakrabuana untuk mencari sumber air.
Dalam perjalanan itu, Pangeran Mancur Jaya disebut menemukan sebatang kayu.
Menurut tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, setelah kayu tersebut diduduki, kemudian muncul sumber air.
Sumber air itu selanjutnya menjadi bagian dari kisah asal-usul situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya.
Bagi Judhi, cerita tersebut memiliki pesan yang relevan dengan kondisi saat ini, terutama ketika sejumlah wilayah menghadapi persoalan kekeringan.
"Jadi pesan pertamanya itu, apalagi sekarang kondisi kekeringan nih, nilai-nilai menghargai air, kemudian nilai-nilai terkait dengan pepohonan dan lain-lain itu perlu diingat," jelas pria yang pernah menjabat sebagai Direktur Pelindungan Kebudayaan tersebut.
Karena itu, ia menegaskan agar masyarakat tidak hanya melihat pengangkatan kayu sebagai sebuah kegiatan seremonial.
"Jadi tidak hanya seremonialnya saja, tapi pesan itu harus tersampaikan juga," katanya.
Momentum tradisi yang bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW juga dinilai memiliki pesan tersendiri.
Menurut Judhi, nilai-nilai keteladanan Nabi yang dianut masyarakat harus ikut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Yang kedua, dikorelasikan dengan Maulid Nabi momentumnya. Tentu perilaku Nabi yang sebagian besar dianut oleh masyarakat di sini juga harus diterapkan juga. Pesan itu juga harus sampai," ujarnya.
Baca juga: Komentar Gabriel Mutombo Setelah Persib Bandung Kalahkan Manila Digger
*Kementerian Soroti Konservasi dan Status Cagar Budaya*
Judhi juga menyoroti sisi konservasi dalam prosesi pengangkatan kayu tersebut.
Menurut dia, pengangkatan, pembersihan, hingga pencucian kembali kayu merupakan bagian dari upaya pelestarian.
"Iya, yang ketiga adalah terkait dengan konservasi. Ini jangan lupa, pengangkatan ini tidak hanya sekadar ritual. Ini pembersihan, konservasi, dicuci ulang dan lain-lain itu dalam rangka untuk melestarikannya," ucap Judhi.
Ia menjelaskan, pelestarian tidak hanya berarti melindungi benda atau situs.
Mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, menurut Judhi, terdapat empat aspek pelestarian, yakni perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan.
Dalam konteks Balong Kramat Tuk, ia menilai masih ada pekerjaan yang perlu dilakukan.
Salah satunya terkait status situs tersebut yang disebutnya belum ditetapkan sebagai cagar budaya.
"Ini ternyata belum ditetapkan sebagai cagar budaya. Padahal datanya sudah kuat," jelas dia.
Ia menyebut, Tim Ahli Cagar Budaya wilayah Kabupaten Cirebon memiliki peran untuk memberikan rekomendasi kepada bupati sebelum penetapan dilakukan.
"Ini merupakan tugas Tim Ahli Cagar Budaya wilayah Kabupaten untuk memberikan rekomendasi ke Bupati dan Bupati menandatangani sertifikatnya," katanya.
Menurut Judhi, penetapan tersebut penting agar pengelolaan dan kerja sama dalam pelestarian maupun pengembangan situs dapat dilakukan secara lebih masif.
Baca juga: Tempat Laga Persib Bandung vs PSM Makassar, Ini Kata Petinggi Klub
*Bisa Jadi Destinasi Wisata Budaya*
Selain aspek pelestarian, Judhi melihat adanya potensi ekonomi budaya dari tradisi Muludan Tuk.
Ia menilai dampak ekonomi sebuah kegiatan budaya selama ini kerap kalah terlihat dibandingkan biaya penyelenggaraannya.
Padahal, kegiatan tersebut dapat menghidupkan pedagang, menarik masyarakat dari luar daerah, hingga menciptakan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi.
"Setiap kegiatan budaya selalu dilihat cost-nya selalu, padahal efeknya berapa puluh, berapa ratus pedagang yang hidup, berapa pendatang, berapa masyarakat, berapa gairah, berapa kebutuhan spiritual itu kalau diuangkan itu, waduh," ujarnya.
Karena itu, ia mendorong agar perputaran ekonomi yang muncul dari kegiatan budaya mulai diekspos.
"Nah, ini harus kita mulai ekspos nih ekonomi budaya ini perputarannya," ucap Judhi.
Menurutnya, Balong Kramat Tuk juga berpeluang dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya lokal.
Pengembangannya, kata dia, tidak harus menghilangkan tradisi yang sudah ada.
Sebaliknya, kawasan tersebut dapat dilengkapi dengan informasi mengenai Pangeran Mancur Jaya, sejarah balong, makanan tradisional, hingga titik-titik yang berkaitan dengan sejarah lokal.
"Jadi orang tidak hanya seremonialnya saja, tapi mendapat pasokan penyertaan pengetahuannya juga," jelas dia.
Judhi pun memberikan apresiasi kepada masyarakat dan pemerintah daerah yang selama ini menjaga tradisi tersebut secara gotong royong.
"Tapi intinya kami ucapkan apresiasi dan terima kasih ke masyarakat di sini dan pemerintah daerahnya ya, yang dari tahun ke tahun melaksanakan kegiatan secara gotong royong," katanya.
*Kayu Hampir Setahun Tenggelam Kembali Diangkat*
Sementara itu, prosesi pengangkatan kayu keramat menjadi salah satu momen paling menarik dalam tradisi Muludan Tuk di Kabupaten Cirebon.
Kayu yang dikenal masyarakat sebagai Buyut Kayu Perbatang Pangeran Mancur Jaya itu diangkat dari dalam Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya, Desa Kertawinangun.
Pantauan di lokasi, prosesi diawali dengan doa bersama.
Sejumlah perempuan mengenakan kebaya putih dan kain batik, sedangkan beberapa pria menggunakan ikat kepala atau udeng.
Mereka berdiri berjajar di tepi balong bata merah sambil melantunkan doa dan syair tradisional.
Sebelum prosesi dimulai, digelar sambutan dari juru kunci situs, Kuwu Kertawinangun, Camat Kedawung, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon, serta perwakilan Kementerian Kebudayaan.
Suasana kemudian semakin khidmat ketika seorang pria berikat kepala mengumandangkan azan dan dilanjutkan ikamah.
Di saat bersamaan, sejumlah pemuda berpakaian hitam mulai turun ke dalam balong.
Mereka disebut merupakan keturunan Pangeran Mancur Jaya yang mendapat tugas mengangkat kayu dari dalam kolam.
Perlahan, kayu yang selama hampir setahun berada di dalam air mulai terlihat di permukaan.
Tiga orang di dalam balong mengangkat kayu tersebut.
Setelah berhasil dinaikkan, kayu kemudian diterima lima orang yang telah menunggu di atas benteng balong.
Lantunan doa dan selawat terus terdengar ketika kayu berukuran besar tersebut dibawa keluar dari kolam.
Namun, perhatian warga tidak berhenti pada prosesi pengangkatan.
Saat kayu dibawa melintasi kerumunan, sejumlah warga tampak berusaha mendekat dan menyentuh kayu yang masih basah tersebut.
Sebagian warga bahkan mengusapkan bekas air pada kayu ke wajah mereka.
*Warga Berebut Air Balong*
Juru Kunci Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya, Raden Suparja, mengatakan tindakan tersebut merupakan bagian dari kepercayaan masyarakat yang disebut ngalap berkah.
"Iya, itu bentuk perwujudan bahwa mereka-mereka ini benar-benar menghargai dan menghormati leluhurnya. Sehingga sampai sekarang dilestarikan acara ini dan menurut kepercayaan masing-masing ya ngalap berkah dari air tersebut," ujar Raden Suparja.
Menurutnya, sebagian masyarakat mengambil air dari balong karena memiliki harapan tertentu.
Mulai dari berharap sawah menjadi subur hingga menjadikannya bagian dari ikhtiar ketika ada anggota keluarga yang sedang sakit.
"Karena mereka-mereka ingin sawahnya subur, terus biasanya ada yang lagi sakit juga untuk obat," ucapnya.
Sejumlah warga bahkan telah membawa botol plastik kosong.
Botol-botol tersebut disodorkan dari balik pagar bata merah untuk diisi air yang diambil dari balong.
Panitia kemudian mengambil air menggunakan timba atau wadah dan menuangkannya ke botol milik warga yang mengantre.
Setelah prosesi pengangkatan selesai, kayu dibawa menuju ruang penjamasan.
Kayu kemudian ditutup menggunakan kain bermotif batik dan ditaburi kelopak bunga mawar merah.
Tokoh adat dan masyarakat berkumpul mengelilinginya sambil melaksanakan doa bersama.
*Malam Hari Kayu Dikembalikan ke Balong*
Meski telah diangkat setelah hampir setahun tenggelam, kayu tersebut tidak akan lama berada di luar balong.
Raden Suparja mengatakan kayu akan kembali dimasukkan ke dalam balong pada malam harinya, sekitar pukul 23.00 WIB.
"Dan nanti malam sama, jam 11 malam kita turunkan kembali dan prosesinya sama seperti itu," jelasnya.
Sebelum dikembalikan ke dalam air, kayu terlebih dahulu disemayamkan di depan rumah Mbah Kuwu.
Masyarakat kemudian memberikan bunga atau sekar dan melakukan ngarwah sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
"Karena masyarakat semuanya membawa ini adalah buyutnya, cikal bakalnya, asal-usulnya. Jadi semuanya menghargai dan menghormati dengan memberikan sekar dan ngarwah, ngarwah luhur," katanya.
*Kisah Buyut Kayu Perbatang Pangeran Mancur Jaya*
Raden Suparja menyebut benda tersebut memiliki nama Buyut Kayu Perbatang Pangeran Mancur Jaya.
Masyarakat zaman dahulu juga menyebutnya sebagai Buyut Kayu Mati.
"Kayu tersebut disebutnya Buyut Kayu Perbatang Pangeran Mancur Jaya atau zaman dulu disebutnya Buyut Kayu Mati," ujarnya.
Menurut cerita yang diwariskan secara turun-temurun, kayu tersebut berkaitan dengan kisah Pangeran Cakrabuana dan Pangeran Mancur Jaya.
Raden Suparja menuturkan, kayu tersebut disebut sebagai peninggalan Mbah Kuwu Cirebon Pangeran Cakrabuana.
"Kayu tersebut dulu peninggalan Mbah Kuwu Cirebon Pangeran Cakrabuana. Ya, setelah itu zamannya Pangeran Mancur Jaya ditemukan kembali dan mengetukkan ke tanah sehingga keluar mata air," ucapnya.
Cerita tersebut juga dikaitkan dengan asal-usul nama "Tuk".
Dalam tradisi tutur masyarakat, Pangeran Mancur Jaya disebut pernah menghentakkan kayu ke tanah hingga kemudian keluar mata air.
Bunyi air yang keluar disebut terdengar seperti "tuk".
Mata air tersebut kemudian ditampung menjadi balong yang kini dikenal sebagai Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya.
Kisah tersebut merupakan bagian dari tradisi tutur masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
*Bertahan Sejak 1965*
Menurut Raden Suparja, tradisi pengangkatan kayu tersebut telah dilaksanakan setiap tahun sejak 1965.
Pelaksanaannya dilakukan setiap tanggal 19 Mulud atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai Sangalase.
"Jadi tradisi di bulan ini kita laksanakan setiap tahun sekali. Ini dari tahun '65 sampai sekarang. Jadi kita laksanakan setiap tanggal 19 Mulud, kita adakan acara seperti ini," jelasnya.
Masyarakat dari Desa Kertawinangun maupun dari luar daerah ikut berpartisipasi dalam tradisi tersebut.
Pada pelaksanaan tahun ini, sejumlah pejabat dan perwakilan Kementerian Kebudayaan turut hadir menyaksikan rangkaian tradisi.
"Alhamdulillah sekarang, pada tahun ini, itu para pejabat-pejabat tinggi, perwakilan kementerian, dari Kebudayaan, semuanya hadir untuk menyaksikan acara sakral yang kita laksanakan seperti ini," katanya.
*17 Pusaka Turut Diarak*
Pengangkatan Buyut Kayu Perbatang bukan satu-satunya rangkaian dalam tradisi Muludan Tuk.
Pada puncak Panjang Jimat Ider-Ideran Malam Pelal Muludan, sekitar 17 pusaka turut diarak mengelilingi kawasan desa.
Beberapa di antaranya yakni Si Kober, Trisula, Golok Warangan, hingga Pendil Sewu.
Rangkaian acara juga diisi dengan doa dan tahlil bersama, Festival Ogoh-Ogoh, pentas seni budaya, serta bazar UMKM.
Tradisi tersebut menjadi pertemuan antara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan kekayaan budaya lokal Cirebon.
Bagi masyarakat, Ider-Ideran bukan hanya sebuah arak-arakan.
Di dalamnya terdapat cerita tentang leluhur, pusaka, sumber air, balong, serta tradisi yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Setiap tahun, siklus yang sama kembali terjadi.
Kayu Buyut Kayu Perbatang berada di dalam balong selama hampir setahun.
Ketika 19 Mulud tiba, kayu tersebut kembali diangkat, dimandikan, disemayamkan, kemudian pada malam harinya dikembalikan ke dalam air.
Begitulah tradisi tersebut terus berlangsung.
Di tengah perubahan zaman, kayu yang tenggelam selama berbulan-bulan itu kembali menjadi pusat perhatian ketika waktunya tiba.
Bukan hanya karena bentuknya sebagai benda pusaka, tetapi karena di balik kayu tersebut tersimpan cerita tentang leluhur, kepercayaan, sejarah tutur, sumber air, dan identitas budaya masyarakat Cirebon.
Dan seperti pesan Kementerian Kebudayaan, tradisi tersebut diharapkan tidak berhenti pada ritual tahunan, tetapi juga mampu menjaga nilai, pengetahuan, konservasi, serta kehidupan ekonomi masyarakat yang ada di sekitarnya.