TRIBUNJOGJA.COM, SIDOARJO - Lagi dan lagi, anak sekolah mengalami gejala keracunan setelah menyantap menu dari program makan bergizi gratis (MBG).
Di awal pekan ini, setidaknya ada tiga kasus dugaan keracunan akibat MBG yang muncul di tiga kabupaten.
Yakni, di Sidoarjo (jawa Timur), Agam (Sumatra Barat), serta Sleman (DI Yogyakarta).
Sekitar 800 siswa di tiga wilayah itu jadi korban.
Di Sidoarjo, lebih dari 500 santri dan santriwati di Pondok Pesantren Manba’ul Hikam Putat Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur diduga keracunan MBG pada Selasa (1/9/2026).
Bahkan, pada Rabu (2/9/2026), dilaporkan jumlahnya bertambah jadi 566 orang, karena ada tambahan pasien pelajar dari 19 sekolah lain yang mengalami keluhan kesehatan dan dirujuk ke rumah sakit.
Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, Lakhsmie Herawati Yuwantina, mengatakan, korban yang saat ini masih menjalani perawatan medis di rumah sakit berjumlah 88 orang.
Santri yang semula dirawat di posko ponpes, baru saja dirujuk ke sejumlah rumah sakit terdekat.
“Yang kemarin kita pertahankan untuk di masjid sebagai (posko) lapangan, itu ternyata memang harus kami evakuasi ke rumah sakit kurang lebih ada 35,” jelasnya, dilansir dari Kompas.com, Rabu (2/9/2026).
1.000 santri
Peristiwa keracunan MBG ini bermula saat makanan dari dapur MBG Kalitengah, Tanggulangin, Selasa (1/9/2026), tiba di pesantren sekitar pukul 11.30 WIB.
Menu MBG yang dihadirkan pihak SPPG hari itu berupa berupa telur orak arik, tempe bumbu bali, tumis buncit baby corn, dan apel.
Sebanyak 1.000 santri dan santriwati tingkat SMP/MTs hingga SMA/MA kemudian mengonsumsi menu tersebut secara bersamaan pada pukul 13.00 WIB.
Setelahnya, para santri mengeluhkan kepala pusing, mual-mual hingga lemas setelah waktu maghrib.
Mayoritas santri dan santriwati langsung dirujuk ke sejumlah rumah sakit terdekat.
Seorang santri, Ahsan menceritakan bahwa gejala keracunan MBG baru mulai dirasakan para santri beberapa jam setelah makan siang.
"Gejalanya mulai habis asar. Ada yang bolak-balik ke kamar mandi, mengeluh perutnya sakit. Ada yang ke UKS juga," kata Ahsan.
Ketua Asrama Putra Ponpes Manba'ul Hikam, Ferdiansyah, mengonfirmasi bahwa laporan mengenai santri yang mengalami mual-mual mulai marak saat pelajaran jam pertama usai salat asar.
"Mulai mual ini ketika pelajaran jam pertama setelah ba'da Ashar, sekitar jam 16.00 WIB. Baru terdeteksi kami mulai 16.20 WIB. Sudah banyak yang melapor ke UKS masing-masing unit, MA, MTs," kata Ferdiansyah.
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Manba’ul Hikam Tanggulangin, KH. Abdul Wachid Harun membantah pernyataan yang menyebutkan menu MBG yang disantap santri dan santriwati diolah oleh dapur ponpes.
Menu tersebut menurutnya didapatkan dari SPPG Kalitengah Tanggulangin yang saat ini sudah dibekukan operasionalnya.
“Soal SPPG bukan ditangani pesantren, tapi dari beliau, dari Kalitengah. Dan kami hanya menerima manfaat saja. Tidak benar kalau SPPG itu ada di pondok, tidak benar ya,” kata Abdul Wachid, Rabu (2/9/2026).
Dirawat lagi
Sebanyak 22 santri juga terpaksa kembali ke rumah sakit, karena mengalami diare dan mual-mual lagi, meski sebelumnya sempat dinyatakan sehat dan diperbolehkan pulang.
Humas RSUD R.T. Notopuro, Rizqi Maulana, mengungkapkan bahwa berdasarkan data terakhir total ada 380 korban yang dirawat di rumah sakit sejak Selasa (1/9/2026) hingga Rabu pukul 16.20 WIB.
Dari jumlah tersebut, 353 santri sudah dipulangkan, lima santri masih harus menjalani rawat jalan, dan tambahan 22 santri lainnya yang kembali datang karena mengalami gejala yang sama.
“Tadi 22 orang yang datang itu mulai sekitar diatas jam 14.00 WIB sampai sekarang ini,” kata Rizqi.
Rizqi memastikan bahwa seluruh korban yang kembali datang dan dirawat pada Rabu merupakan santri Ponpes Manba’ul Hikam.
Meski begitu, ada 15 korban keracunan MBG yang dilarikan ke RSUD Notopuro kemarin, Selasa dari SMP Tribhakti Tanggulangin.
Tetapi hanya memerlukan perawatan ringan akibat dehidrasi.
Sementara itu, lima santri yang masih dirawat inap karena keluhan diare, sehingga membutuhkan penanganan dokter lebih lanjut.
“Ada juga tadi sekitar 30 pasien yang datang di awal kami lakukan observasi kemudian dikasih obat langsung sembuh dan langsung diperbolehkan pulang," ujar Rizqi.
Dia memperkirakan penanganan pasien dengan gejala ringan menggunakan obat membutuhkan dua sampai tiga jam agar efeknya benar-benar terasa.
Rizqi menjelaskan, rata-rata pasien dugaan keracunan MBG didiagnosis karena dehidrasi akibat banyak cairan tubuh yang terus-menerus keluar.
Dia memastikan bahwa RSUD Notopuro akan terus bersiaga apabila ada tambahan korban dugaan keracunan MBG yang masih berdatangan.
2.800 porsi
Gubernur Jawa Timur yang juga menjabat sebagai Kepala Satgas MBG Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengonfirmasi bahwa kasus keracunan MBG ini tidak hanya terjadi di Ponpes Manba'ul Hikam, tetapi juga meluas ke sejumlah sekolah lain yang menerima pasokan dari dapur penyedia yang sama.
Dampak dugaan keracunan terjadi pada siswa di 19 lembaga pendidikan atau sekolah.
Emil mengatakan SPPG Kalitengah mendistribusikan 2.800 porsi MBG ke 19 lembaga pendidikan di Sidoarjo.
“Ada 19 lembaga yang terdampak, salah satunya Ponpes Manba'ul Hikam,” kata Emil Dardak, dilansir dari Kompas.com, Rabu (2/9/2026).
Emil belum menyebutkan pasti nama-nama lembaga pendidikan yang menerima MBG dari SPPG Kalitengah.
Pada hari itu, SPPG Kalitengah hanya mendistribusikan ke sekolah swasta.
“Ada SMA swasta, ada juga SMP, SD swasta juga ya. TK pun juga ada, tapi kebetulan enggak ada yang negeri, kebetulan swasta,” ujarnya.
Emil dan BGN Koordinator Regional Jatim juga memastikan SPPG Kalitengah telah diberhentikan sementara operasionalnya.
Sampel makanan telah diuji laboratorium.
Kepala SPPG Kalitengah, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, Rafli Ridho, melontarkan permohonan maaf atas insiden ini.
Rafli membeberkan, proses pengolahan menu dimulai sejak pukul 05.30 WIB dan makanan disalurkan ke lembaga-lembaga penerima pukul 11.00 WIB.
Ia menegaskan bahwa secara teknis, hidangan pasokan dapur layanan gizi tersebut memiliki batas ketahanan yang terbatas, yakni makanan matang hanya tahan hingga 4 jam.
Sesuai Prosedur Operasional Standar (SOP), sebelum dikonsumsi siswa, makanan harus melewati uji penilaian kualitas (organoleptik) oleh penanggung jawab (PIC) masing-masing sekolah.
"Jadi setiap ke sekolahan itu ada uji yang nantinya itu dicicipi oleh PIC pihak sekolah. Nah, setelah saya tanya, katanya aman, enggak ada masalah dimakanan itu. Tapi kenapa kok keracunan lah itu yang saya tidak tahu," ungkap Rafli.
Sakit perut
Di Agam, Sumatra Barat, sebanyak 237 siswa dan guru di Kecamatan Palupuh, juga mengalami keracunan setelah menyantap MBG.
Jumlah tersebut merupakan data sementara yang dihimpun dari Puskesmas Palupuh dan 13 puskesmas pembantu (pustu) di sekitar Kecamatan Palupuh.
Jumlah korban masih memungkinkan bertambah karena ada warga yang diduga mengalami gejala, tetapi memilih berobat sendiri.
Sebab, ada 2.618 penerima manfaat MBG di Palupuh. Para korban mengalami sejumlah keluhan, seperti sakit perut, mual-mual, dan pusing.
Keluhan tersebut muncul setelah mereka menyantap menu MBG pada Selasa (1/9).
Sekretaris Daerah Agam mengatakan, dugaan awal mengarah pada makanan MBG. "Semua yang mengeluh mengonsumsi MBG kemarin," kata Sekda Agam, Mhd. Luthfi AR, Rabu (2/9).
Ia mengatakan, pemerintah daerah masih melakukan pendalaman untuk memastikan penyebab kejadian tersebut.
Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti dugaan keracunan massal.
Korban berasal dari sejumlah jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA.
Beberapa guru juga mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan tersebut.
Di antaranya ada SDN 08 Nan Limo, SMPN 1, dan SMPN 2 Palupuh.
Dari ratusan orang yang mengalami keluhan, dua siswa harus dirujuk ke rumah sakit di Kota Bukittinggi.
Keduanya masing-masing dirujuk ke RSUD Bukittinggi dan Rumah Sakit TNI AD Tingkat IV Bukittinggi.
Sekda Agam menjelaskan, makanan MBG yang dikonsumsi para korban berasal dari satu-satunya dapur SPPG di wilayah Palupuh, berlokasi di Nagari Pasia Laweh.
Pemkab Agam untuk sementara menghentikan penyaluran MBG di wilayah tersebut, sambil menunggu hasil evaluasi dan koordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN).
Telur
Dari informasi awal, menu MBG yang menjadi perhatian dalam kejadian tersebut adalah telur.
Namun, pemerintah belum memastikan telur sebagai penyebab dugaan keracunan. Kepala SPPG Palupuh, Wahyu Saputra, mengatakan menu MBG yang dibagikan kepada siswa pada Selasa (1/9/2026) terdiri dari telur puyuh, timun, tomat, dan selada.
Wahyu mengaku terkejut dengan munculnya keluhan dari siswa pada Rabu (2/9/2026).
Menurut Wahyu, tidak ada laporan terkait dugaan keracunan pada hari pembagian MBG. Pihak SPPG baru mengetahui adanya keluhan dari siswa pada Rabu.
"Kami juga kaget dengan kejadian hari ini. Saat pembagian MBG, tidak ada laporan keracunan," kata Wahyu.
Saat ini, pihak SPPG Palupuh berkoordinasi dengan perwakilan BGN.
Mereka juga masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan.
Sementara itu, Koordinator Wilayah Program MBG untuk Kabupaten Agam, Aryo, mengatakan belum dapat memberikan penjelasan secara rinci mengenai kejadian tersebut.
Ia mengatakan masih mengumpulkan data dan informasi dari sejumlah pihak terkait.
Aryo juga mengaku telah berkoordinasi dengan Koordinator Program Gizi (KPPG) di Riau terkait kejadian tersebut. (kpc)