Enam Mahasiswa Terluka Akibat Ricuh Unjuk Rasa di Simpang Gramedia
Hari Susmayanti September 03, 2026 07:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA  - Aksi unjuk rasa mahasiswa dari berbagai kampus di DIY yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sipil berakhir ricuh. 

Massa aksi terlibat bentrok dengan kelompok masyarakat saat aksi di Simpang Empat Gramedia, Selasa (1/9/2026) kemarin. 

Tercatat ada sedikitnya lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) dan satu mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang terluka dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Massa Aksi Damai Cik Di Tiro mendesak tindakan kekerasan kepada pengunjuk rasa di Simpang Empat Gramedia diusut tuntas. 

Perwakilan massa aksi dalam keterangan persnya menerangkan mereka menyuarakan aspirasi secara damai, tanpa membawa senjata tajam maupun benda berbahaya, serta berkomitmen menjaga keselamatan publik dan fasilitas umum. 

Aksi berjalan secara kondusif sejak pukul 16.00 WIB. 

Massa aksi juga secara aktif dan koorperatif membukakan jalan bagi berbagai ambulans yang berlalu lalang dari arah selatan. 

“Situasi mulai terdistraksi sebelum pukul 20.00 WIB ketika kelompok ormas preman melakukan provokasi mendasar yang memicu percekcokan hingga sempat memukul mundur massa,” katanya dikutip, Rabu (2/9/2026).

Kemudian, terjadi kesepakatan bahwa massa aksi bersedia membubarkan diri dan bergerak mundur dengan pengawalan aparat kepolisian, setelah kelompok masyarakat membubarkan diri terlebih dahulu. 

Namun, sekitar pukul 22.00, saat sebuah ambulans melintas dan memecah barisan mahasiswa.

“Momen terpecahnya barisan itu dimanfaatkan oleh kelompok ormas preman untuk melakukan penyerangan secara brutal dan membabi buta. Dalam peristiwa ini, aparat kepolisian yang seharusnya bertugas mengayomi dan mengawal keselamatan massa justru turut berkontribusi melakukan kekerasan fisik saat mendesak dan memukul mundur massa ke arah UGM,” ujarnya.

Mereka menyebut, kelompok masyarakat melemparkan botol air, batu, kayu mercon, tongkat baseball, hingga senjata tajam berupa karambit. 

Kelompok itu juga disebut menyemprotkan semprotan merica langsung ke mata, mendorong, menendang, memukul, hingga menyeret peserta aksi yang sudah jatuh ke tanah.

“Bahkan, ketika massa aksi telah berhasil menyelamatkan diri hingga mendekati wilayah kampus UGM, ormas preman tersebut tetap melanjutkan tindakan represifnya dengan melemparkan benda berbahaya berupa batu ke arah dalam gerbang kampus UGM,” jelasnya.

Rangkaian kekerasan tersebut menimbulkan banyak korban dari massa aksi, bahkan beberapa harus dilarikan ke rumah sakit. 

Perwakilan massa aksi mengatakan, ada enam mahasiswa jadi korban, termasuk seorang jurnalis perempuan dari pers mahasiswa yang mengalami bocor kepala akibat dipukul menggunakan kaleng di bagian pelipis.

Pihaknya mengecam keras seluruh bentuk represivitas dan pengabaian hak-hak warga negara. 

“Atas kejadian ini, kami menuntut usut tuntas seluruh tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap massa aksi. Kami juga menegaskan untuk tetap berdiri teguh pada tuntutan utama kami, yaitu turunkan rezim Prabowo-Gibran dan tarik mundur kolonialisme Indonesia dari wilayah periferi jajahannya di luar Pulau Jawa,” pungkasnya.

Lemparan batu 

Rektor UNY, Prof. Dr. Sumaryanto, M.Kes., AIFO, mengungkapkan, seorang mahasiswa Fakultas Teknik UNY yang menjadi relawan P3K saat aksi berlangsung, turut terkena lemparan batu. 

Kala itu, mahasiswa tersebut hendak membantu mahasiswi yang jatuh dan terinjak-injak.

“Pada saat yang bersamaan ada batu mengenai kepala, kemudian lama-lama keluar darah dari kepala,” katanya, Rabu (2/9/2026).

Pascakejadian, mahasiswa UNY itu dibawa ke Rumah Sakit Panti Rapih untuk mendapat penanganan dan menerima tiga jahitan di bagian kepala. 

Ia memastikan kondisi mahasiswanya mulai membaik dan pihak kampur akan menanggung biaya pengobatan tersebut.

Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna, S.Sos., M.Si, mengatakan, akibat kericuhan itu, dua mahasiswa mengalami trauma dan sesak napas, satu mahasiswa mengalami luka robek di dahi.

Selain itu, satu mahasiswa mengalami robek di bibir, dan satu mahasiswa mengalami luka memar pelipis, perut, dan kepala belakang.

“Ada enam mahasiswa yang terluka, lima mahasiswa UGM dan satu mahasiswa UNY. Kalau keterangan dari mahasiswa ada yang kena anteman (hantaman). Dan kalau kita lihat memang beberapa mungkin ada yang kena pukul, ya mungkin ada yang kena tendang, dan juga kena siku dan sebagainya,” ujarnya, Rabu.

Provokasi

Ia menerangkan awalnya aksi berlangsung damai dan kondusif. 

Massa aksi mulai berdatangan sekitar pukul 16.30. 

Namun sekitar pukul 19.00, menurutnya ada bentuk-bentuk provokasi oleh kelompok masyarakat tertentu, sehingga situasi memanas. 

“Sekitar jam 22.00 teman-teman mahasiswa dipukul mundur oleh kelompok-kelompok masyarakat dan ironisnya dengan berbagai bentuk kekerasan yang tidak sepantasnya terjadi. Yang ini karena adik-adik (mahasiswa) tidak anarkis, tidak ribut dan sebagainya, tapi kemudian dipukul mundur dengan tindakan-tindakan yang anarkis,” terangnya.

Massa aksi juga sempat terkena semprotan merica. 

Ketua Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM, Mesa, menurutnya pun sempat terkena semprotan merica, namun kondisinya relatif baik.

Pihak UGM pun berkomitmen untuk melindungi mahasiswa termasuk mempertimbangkan jalur hukum. 

Saat ini, para mahasiswa yang terluka tengah mengumpulkan data-data yang diperlukan. 

Kabid Humas Polda DIY, Kombes Pol Iksan, mengatakan aksi yang berlangsung sejak Selasa sore sekitar jam 16.30 WIB mulanya berlangsung kondusif. 

"Adapun terkait dinamika di lapangan, kami sampaikan bahwa sempat terjadi kesalahpahaman antara warga dengan massa peserta aksi terkait penutupan jalan dan aksi yang dilaksanakan sampai malam hari yang dianggap oleh warga mengganggu aktivitas mereka,” katanya, melalui keterangan resmi, Selasa malam (1/9/2026).

Dalam kesalahpahaman tersebut, terjadi situasi saling dorong yang menyebabkan peserta aksi panik dan sempat terjatuh sehingga mengalami luka ringan. 

Peserta itu langsung dievakuasi menggunakan ambulans UGM menuju RS Panti Rapih, kemudian diperbolehkan pulang malam itu juga. 

Iksan menyebut ada personel Polresta Yogya yang turut cedera akibat terkena cairan merica (pepper spray). (maw/hda)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.