POSBELITUNG.CO, SIDOARJO – Dugaan keracunan massal setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terus bertambah. Hingga Rabu (2/9/2026) siang, jumlah korban tercatat mencapai 566 orang.
Korban berasal dari Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, serta siswa dari 19 sekolah lainnya.
Makanan yang dikonsumsi para penerima manfaat tersebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin.
Ketua Yayasan Ponpes Manba’ul Hikam Tanggulangin, Abdul Wachid Harun, mengatakan sekitar 1.000 santri jenjang SMP hingga SMA di pesantren tersebut menerima dan mengonsumsi paket MBG. Namun, reaksi yang dialami setiap santri berbeda.
Sebanyak 431 santri sempat dievakuasi ke rumah sakit setelah mengalami keluhan kesehatan.
“Hari ini yang dievakuasi ke rumah sakit 431. Ya kondisi kekuatan fisik masing-masing santri beda-beda,” kata Abdul Wachid, Rabu.
Ia menegaskan SPPG Kalitengah bukan dikelola oleh pihak pesantren. Ponpes, kata dia, hanya berstatus sebagai penerima manfaat program.
“Soal SPPG bukan ditangani pesantren, tapi dari beliau, dari Kalitengah. Dan kami hanya menerima manfaat saja. Tidak benar kalau SPPG itu ada di pondok, tidak benar ya,” ujarnya.
Keluhan mulai dilaporkan ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS) sekitar pukul 16.20 WIB.
Santri mengalami pusing, mual, sakit perut, dan lemas setelah menyantap makanan.
Ketua Asrama Putra, Ferdiansyah, mengatakan laporan datang dari sejumlah unit pendidikan di lingkungan pesantren.
“Mulai mual ini ketika pelajaran jam pertama setelah ba’da Ashar, sekitar jam 16.00 WIB. Baru terdeteksi kami mulai 16.20 WIB. Sudah banyak yang melapor ke UKS masing-masing unit, MA, MTs,” katanya.
Sejumlah santri kemudian dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans.
Perawatan tersebar di sejumlah fasilitas kesehatan, antara lain RS Notopuro, RS Delta Surya, RS Islam Siti Hajar, RS Pusura, RSU Aisyiyah St Fatimah Tulangan, RS Pusdik Bhayangkara, dan RS Arafah Anwar Medika.
Di tengah penanganan korban, beredar informasi di media sosial yang menyebut 12 santri meninggal dunia akibat keracunan MBG. Informasi tersebut dipastikan tidak benar.
Ferdiansyah menegaskan pihak pesantren telah mengecek kondisi santri di sejumlah rumah sakit.
“Yang mengabarkan ada meninggal itu hoaks. Kami sudah cek di semua rumah sakit,” tegasnya.
Bupati Sidoarjo Subandi juga memastikan tidak ada korban meninggal.
Hal serupa disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jatim, Emil Elestianto Dardak.
“Tolong juga tadi ada kabar mohon maaf meninggal, itu tidak betul. Tidak ada yang meninggal,” kata Emil.
Sebagian santri yang kondisinya membaik telah diperbolehkan pulang.
Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional SPPG Tanggulangin selama 30 hari.
Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana mengatakan penghentian dilakukan dalam kategori berat.
BGN juga mengusulkan kepala SPPG tersebut dicopot dan diganti.
“Kami juga melakukan suspend berat, dengan kategori berat, selama 30 hari terhadap SPPG Sidoarjo, Tanggulangin,” ujar Ketut.
Berdasarkan data investigasi BGN, sebanyak 512 orang tercatat terdampak dugaan keracunan.
Dari jumlah itu, 80 orang masih menjalani rawat inap, 312 orang telah diperbolehkan pulang, sedangkan 120 lainnya masih menjalani observasi.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Sidoarjo mencatat 88 korban masih dirawat di rumah sakit dan sekitar 470 lainnya telah dipulangkan atau menjalani rawat jalan.
Ketut mengatakan investigasi dan pemeriksaan laboratorium masih berlangsung untuk memastikan penyebab kejadian.
“Hasilnya nanti akan kita umumkan apa yang menyebabkan terjadinya keracunan,” katanya.
BGN menyatakan keselamatan penerima manfaat menjadi prioritas.
Penanganan dilakukan bersama Dinas Kesehatan dan pihak terkait hingga seluruh korban dinyatakan pulih.
Dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) turut dilaporkan dari Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Selasa (1/9/2026).
Sebanyak 334 warga di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mengalami gejala gangguan kesehatan.
Mayoritas korban merupakan pelajar, tetapi penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) lainnya, termasuk ibu menyusui dan anak, juga dilaporkan terdampak.
Camat Palupuh Nong Rianto Dt. Maruhun mengatakan ratusan korban tersebar di tiga nagari, yakni Nan Limo, Pasia Laweh, dan Koto Rantang.
Mereka mengalami keluhan berupa demam, pusing, mual, muntah hingga diare.
“Nagari yang terdampak di Palupuh, Nagari Nan Limo, Pasia Laweh, dan Koto Rantang. Totalnya 334 orang,” ujar Nong, Rabu (2/9/2026).
Meski sebagian korban sebelumnya mengonsumsi makanan MBG, pemerintah kecamatan belum memastikan hubungan antara makanan tersebut dan gangguan kesehatan yang terjadi.
“Kita belum bisa memastikan karena mengonsumsi MBG, tapi 334 orang data yang kita himpun memang keracunan sejak kemarin,” katanya.
Dari 334 korban, sebanyak 274 merupakan siswa sekolah dasar dan 19 guru SD.
Selain itu, 40 siswa serta dua guru SMPN 1 Palupuh turut mengalami keluhan.
Para korban mendapat penanganan di Puskesmas Palupuh dan sejumlah rumah sakit di Bukittinggi.
Kepala SDN 08 Nan Limo, Jonnedi, mengatakan keluhan pada siswanya mulai muncul Selasa sekitar pukul 10.00 WIB.
Sebelumnya, mereka mengonsumsi menu MBG pada Senin (31/8/2026).
Pada hari pertama, 21 siswa mengalami gejala. Jumlah tersebut meningkat menjadi 54 siswa pada Rabu.
Meski demikian, tidak ada siswa yang harus menjalani rawat inap.
“Kemarin ada 21 siswa, hari ini menjadi 54 orang,” ujar Jonnedi.
Telur Puyuh dan Tempe
Di Nagari Koto Rantang, dugaan keracunan juga dialami penerima MBG di luar sekolah.
Wali Nagari Koto Rantang Novri Agus Parta Wijaya mengatakan jumlah korban sementara telah mencapai lebih dari 100 orang.
“Menu terakhir yang disantap oleh siswa, ibu menyusui dan anak bayi adalah telur puyuh dan tempe. Menunya sama, baik di sekolah atau posyandu,” katanya.
Keluhan berupa pusing, mual, dan muntah membuat warga mendatangi Puskesmas Koto Rantang.
Pasien dengan kondisi lebih berat kemudian dirujuk ke rumah sakit di Bukittinggi.
“Sejak kemarin hingga hari ini, antrean di puskesmas sangat banyak dan panjang, petugas kesehatan kewalahan karena melayani pasien. Makanya yang parah dilarikan ke rumah sakit di Bukittinggi,” ujar Novri.
Pemerintah kecamatan masih melakukan pendataan dan pemantauan.
Hingga Rabu, belum ada kesimpulan mengenai penyebab gangguan kesehatan tersebut.
Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan apakah kejadian berkaitan dengan konsumsi MBG atau faktor lain.
(Kompas.com/TribunPadang.com)