Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Yusmandin Idris | Bireuen
SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Sejumlah tambak di Desa Alue Kuta, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, masih tertimbun lumpur dan ditumbuhi semak belukar hingga sembilan bulan setelah banjir melanda wilayah tersebut.
Kondisi itu mendorong munculnya gagasan untuk memanfaatkan kembali lahan terdampak bencana dengan mengalihfungsikan sebagian area tambak menjadi lahan persawahan.
Keuchik Alue Kuta, Habibullah, mengatakan gagasan tersebut muncul karena sejumlah tambak hingga kini masih terbengkalai akibat tertimbun material lumpur.
“Karena masih terbengkalai dan penuh lumpur, mulai muncul gagasan pemanfaatan kembali sejumlah ruang dan lahan yang terdampak bencana agar dapat memberikan manfaat baru bagi masyarakat,” kata Habibullah kepada Serambinews.com, Rabu (2/9/2026).
Menurutnya, lahan terdampak banjir tidak semestinya hanya dipandang sebagai sisa kerusakan bencana.
Lahan tersebut masih memiliki potensi untuk dipulihkan dan dikembangkan sehingga dapat kembali memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Salah satu opsi yang didorong adalah mengkaji kemungkinan pengalihan fungsi tambak yang telah tertimbun lumpur menjadi lahan persawahan.
Gagasan tersebut diharapkan dapat mengembalikan produktivitas lahan sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat di kawasan tersebut.
Namun, Habibullah menegaskan perubahan fungsi lahan harus dilakukan secara terencana.
Sejumlah aspek perlu dikaji, antara lain kondisi tanah, kualitas material timbunan, sistem pengairan, elevasi lahan, serta kelayakan teknis dan lingkungan.
Ia mengatakan pemulihan pascabanjir tidak hanya sebatas membersihkan material sisa bencana, tetapi juga harus diarahkan untuk membuka kembali ruang ekonomi masyarakat yang sempat terhenti.
Habibullah berharap perangkat gampong bersama masyarakat dapat mengedepankan semangat gotong royong dalam proses pemulihan lahan terdampak banjir.
Jika hasil kajian menunjukkan lahan tersebut layak dijadikan sawah, pemanfaatannya dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan membangun kembali sumber penghidupan warga.
“Transformasi lahan harus dilakukan secara terencana agar investasi masyarakat tidak berakhir sia-sia,” katanya.
Karena itu, pemetaan kondisi lahan, pengujian tanah, perencanaan irigasi, serta kajian teknis menjadi tahapan penting sebelum pengalihan fungsi tambak dilakukan.(*)
Baca juga: Excavator Bantuan KKP Segera Dioperasikan untuk Normalisasi Tambak di Bireuen
Baca juga: Tambak Terdampak Banjir di Bireuen Masih Luas, Belum Sanggup Dibersihkan