TRIBUNNEWS.COM - Pemuda Dayak menyoroti kondisi udara di sejumlah wilayah Kalimantan yang dinilai mencemaskan di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Beberapa titik api disebut masih menyala, sehingga berpotensi memperburuk kualitas udara dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Berdasarkan data yang dipaparkan oleh Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, tercatat ada 157 titik api di enam provinsi prioritas penanganan Karhutla hingga Rabu (2/9/2026).
Berton menjelaskan, ada 19 titik di Riau, 7 titik di Jambi, 21 titik di Sumatera Selatan, 29 titik di Kalimantan Selatan, 50 titik di Kalimantan Tengah, dan 31 titik di Kalimantan Barat.
Sementara itu, menurut Ketua Umum Pemuda Dayak, Srilinus Lino, titik-titik api masih ditemukan di bumi Kalimantan.
"Hampir 2 minggu terakhir ini memang kita sudah melakukan berbagai aktivitas karena memang kita melihat situasi Karhutla ini memang sangat mencemaskan begitu."
"Apalagi sampai hari ini masih banyak titik-titik api yang kemudian masih menjalar ya, kemudian masih dalam proses penanganan pemadaman," ucapnya dalam Program Overview yang dipandu host Gilang dan Garudea dari Studio Tribunnews, Karanganyar, Jawa Tengah, Rabu (2/9/2026).
Baca juga: IABI Sepakat Masyarakat Adat Kalimantan Bukan Penyebab Utama Karhutla: Sebut Pembukaan Perkebunan
Dalam penanganan Karhutla ini, Pemuda Dayak turut memberikan dukungan kepada relawan pemadam.
"Nah, kebetulan untuk pemuda Dayak sendiri kita fokus kepada support sistem dari teman-teman relawan yang memang dalam apa namanya fokusnya ke pemadaman begitu."
"Dan juga pemuda Dayak sendiri kemarin kita kolaborasi dengan beberapa stakeholder termasuk rumah sakit swasta yang ada di Kota Pontianak untuk melakukan pengecekan kesehatan gratis," lanjutnya.
Lino menambahkan, pihaknya juga sedang mendistribusikan bantuan sembako, air bersih, dan material lain seperti masker, dengan fokus di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat.
Lebih lanjut, Lino menyampaikan kondisi terkini kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.
Disampaikan Lino, situasi udara saat ini mencemaskan. Bahkan, kelompok rentan seperti balita serta lansia turut terdampak.
"Kalau secara kondisi per hari ini (Rabu), memang situasi udaranya sangat mencemaskan ya. sangat mencemaskan. Bahkan memang sudah kategorial sangat berbahaya karena memang jeribu itu sudah sudah muncul."
"Kemudian yang kasihan ini kan anak-anak balita, kemudian apa namanya lasia dan sebagainya," jelasnya.
Dengan begitu, penggunaan masker diperlukan saat berada di lapangan karena kabut asap pekat.
"Bahkan kita yang usia kami juga ketika di lapangan itu tidak bisa harus menggunakan masker karena memang jerebu ini sangat luar biasa dan jarak pandang itu kalau untuk di wilayah yang titik terakhir kami kunjungi ini kurang lebih 200 m itu," kata Lino.
Di samping itu, Lino menyebut, beberapa titik api masih menyala dan dalam proses pemadaman.
Diketahui, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, ada 157 titik api di enam provinsi prioritas penanganan karhutla hingga Rabu kemarin.
Jumlah tersebut, tercatat meningkat dari data yang dilaporkan sehari sebelumnya yakni 136 titik api.
1. Kalimantan Barat
Luas lahan terbakar: ± 511,27 ha
Luas yang dipadamkan: ± 135,58 ha
Kualitas udara: Berbahaya
Jarak pandang: < 1>
2. Kalimantan Tengah
Luas lahan terbakar: ± 77,35 ha
Luas yang dipadamkan: ± 48,32 ha
Kualitas udara: Sangat tidak sehat
Jarak pandang: 3 Km
3. Kalimantan Selatan
Luas lahan terbakar: ± 348,09 ha
Luas yang dipadamkan: ± 80,10 ha
Kualitas udara: Sedang - Tidak sehat
Jarak pandang: > 10 Km
4. Riau
Luas lahan terbakar: ± 98 ha
Luas yang dipadamkan: ± 19,5 ha
Kualitas udara: Sedang - Tidak sehat
Jarak pandang: > 9 Km
5. Jambi
Luas lahan terbakar: ± 12,8 ha
Luas yang dipadamkan: ± 18 ha
Kualitas udara: Tidak sehat
Jarak pandang: 7 Km
6. Sumatera Selatan
Luas lahan terbakar: ± 92,50 ha
Luas yang dipadamkan: ± 24,78 ha
Kualitas udara: Tidak sehat
Jarak pandang: < 3>
Hingga kini, petugas masih melakukan upaya pemadaman melalui operasi modifikasi cuaca, water bombing, maupun pemadaman di darat di sejumlah provinsi prioritas itu.
Baca juga: Gubernur Jambi Ultimatum Bupati/Wali Kota: Lamban Tangani Karhutla, Siap-Siap SP1
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengimbau masyarakat terutama di wilayah terdampak karhutla untuk menggunakan masker, apalagi ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Serta tidak melakukan tindakan-tindakan yang berpotensi menimbulkan kebakaran.
Selain itu, masyarakat diminta tidak membuang sampah sembarangan dan tidak membakar sampah secara sembarangan, serta memastikan puntung rokok untuk dimatikan sebelum dibuang ke tempat yang sudah ditentukan.
"Selain itu, warga yang melakukan camping atau wisata, memastikan api unggun atau api memasak atau saat menggunakan api untuk dipadamkan sebelum meninggalkan daerah tersebut," kata Berton saat konferensi pers secara hybrid, Rabu.
Ia juga berharap masyarakat segera melaporkan temuan titik api, potensi kebakaran, maupun kondisi darurat lainnya kepada BNPB melalui 117, BPBD terdekat, atau instansi terkait.
Pemerintah daerah pun diimbau untuk melaksanakan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2026 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan.
"Inti utama adalah dilarang untuk membuka lahan secara membakar. Waspadai senantiasa potensi kebakaran di lokasi Tempat Pemrosesan Akhir sampah (TPA) dan pemerintah diminta untuk mendinginkan TPA ketika TPA tersebut sudah ada kebakaran atau berpotensi kebakaran," terangnya.
Baca juga: IABI Sepakat Masyarakat Adat Kalimantan Bukan Penyebab Utama Karhutla: Sebut Pembukaan Perkebunan
Di tengah maraknya karhutla serta kabut asap, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sejumlah wilayah Kalimantan Timur menunjukkan tren peningkatan.
ISPA adalah infeksi yang menyerang saluran pernapasan, seperti hidung, tenggorokan, hingga paru-paru.
ISPA dapat disebabkan oleh virus, bakteri, maupun paparan polusi dan asap yang mengiritasi saluran pernapasan, gejalanya antara lain batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam, dan sesak napas.
Lonjakan kasus paling tinggi terjadi di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), yang mencatat 9.075 kasus selama Agustus 2026.
Wilayah Kukar berjarak sekitar 30–40 kilometer dari Kota Samarinda, dengan waktu perjalanan melalui jalur darat berkisar 1–1,5 jam, bergantung pada lokasi tujuan dan kondisi lalu lintas
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, Ismi Mufiddah, mengatakan peningkatan kasus ISPA mulai terlihat sejak Juni 2026.
Pada Juni tercatat 3.703 kasus, kemudian meningkat menjadi 7.172 kasus pada Juli dan kembali melonjak menjadi 9.075 kasus sepanjang Agustus.
“Memang ada peningkatan kasus ISPA yang cukup signifikan. Kalau kita lihat dari Juni itu kemarin 3.703 dari data kita, kemudian mulai meningkat di bulan Juli 7.172, kemudian dari 1 sampai 31 Agustus kemarin ada 9.075,” kata Ismi, Rabu (2/9/2026), dilansir TribunKaltim.com.
Kasus ISPA tercatat di seluruh kecamatan di Kukar, dengan jumlah yang bervariasi.
(Tribunnews.com/Suci Bangun DS, Gita Irawan, TribunKaltim.com)