Cerpen - Kitong yang Tidak Ada Kepala
Oleh: Aster Bili Bora
Sastrawan tinggal di Tambolaka, Sumba Barat Daya, NTT
POS-KUPANG.COM - Halaman rumah Gabi dipenuhi hawa mengeluh yang kian pekat. Hari itu halaman yang biasanya sepi mendadak riuh. Gabi berkumpul bersama Margareta, Milla, Dengo, Daniel, Mirna, Aris, Kailo, dan beberapa warga kampung lainnya.
Di tengah-tengah mereka, duduk Ama Nandes, Ama Lukas, dan Ama Todo. Tiga orang terakhir ini adalah sosok yang sering dikupas namnya sambil kupas bawang dalam pesta keluarga.
Mereka adalah orang-orang yang berhasil keluar dari lingkaran setan kemiskinan karena berani memangkas biaya ritual adat demi pendidikan anak-anak mereka.
"Ama Nandes tidak mengerti!” Mata Daniel melotot seakan mau terkam mangsa. “Mengabaikan budaya leluhur akan sial tujuh turunan. Siapa yang mau?”
Margareta menimpali sambil mengusap air mata dengan ujung kain tenunnya yang kusam. "Lihat Milla, Mirna, lihat Aris! Anak-anak mereka sudah dropout.
Kailo bahkan harus menggadaikan tanah warisannya. Kami semua hancur, tapi kami tidak punya pilihan! Lebih baik anak tidak sekolah daripada leluhur murka dan meratakan kampung ini dengan kutuk."
Baca juga: Cerpen: Balasan untuk Dama
Dengo yang sejak tadi menahan geram, mengalihkan amarahnya kepada orang-orang di luar kampung. Ia mulai menyoroti pemerintah yang dianggap menutup mata terhadap penderitaan rakyat.
"Ini semua karena pemerintah tidak ada nurani! Percuma kita pilih bupati, gubernur, bahkan presiden kemarin. Sia-sia suara kita semua!" teriak Dengo yang langsung disambut anggukan setuju dari Gabi dan Kailo.
"Terutama anggota legislatif itu!" potong Gabi dengan nada sinis. "Percuma pilih anggota dewan. Sia-sia suara kita. Setelah dapat kursi, tidak pusing rakyat. Mereka lebih taat kepada partai daripada kita rakyat yang menderita."
Ama Lukas dan Ama Todo hanya saling berpandangan, menghela napas berat melihat kebutaan logika yang terstruktur rapi di depan mata mereka.
Kelompok yang menolak berubah ini selalu memiliki kambing hitam yang siap disalahkan: jika bukan karena takut kutukan leluhur, maka pemerintah dan para pejabatlah yang dituduh sebagai dalang kemiskinan mereka.
Melihat Ama Nandes dan kawan-kawannya hanya menatap mereka dengan pandangan dingin penuh cela, Sovia tiba-tiba merangsek maju. Sovia adalah seorang ibu rumah tangga yang penampilannya sudah memprihatinkan—bajunya lusuh, wajahnya kusam, dan kerjanya setiap hari minta garam tetangga. Namun, di balik kemiskinannya yang akut, fanatismenya terhadap tradisi justru paling menyala.
Dengan mata melotot dan tangan menunjuk-nunjuk, Sovia menantang Ama Nandes.
Baca juga: Cerpen: Dakura Kere
"Kalian beri kuliah seolah-olah cara hidup kalian yang paling benar!" suara Sovia melengking, memutus argumen logika yang hendak dibangun Ama Lukas. "Apakah orang yang sudah berubah tidak ada lagi yang miskin? Ternyata mereka lebih banyak yang miskin daripada kami yang disebut kolot dan taat tradisi!"
Ama Nandes bergeser duduknya. Sebagai orang yang dari awal menyadari kehancuran akibat fanatisme adat yang keliru, ketenangannya kini berubah menjadi kejengkelan yang mendalam. Rasa iba melihat kemiskinan Sovia dan kawan-kawannya seketika mengkristal menjadi kemarahan yang amat sangat.
Di matanya, mereka ini seperti kepiting di dalam ember: ketika ada satu yang hampir berhasil memanjat keluar menuju kesejahteraan, kepiting yang lain akan menjepitnya dan menariknya kembali jatuh ke dasar lumpur kemiskinan yang sama.
Ama Nandes melangkah maju, berdiri tepat di depan Sovia dan kelompoknya. Auranya begitu menekan hingga sorak-sorai pembelaan dari Gabi dan kawan-kawan mendadak senyap.
"Sovia! Buka matamu lebar-lebar!" bentak Ama Nandes, suaranya berat dan bergetar menahan dongkol. "Orang yang berubah dan gagal di luar sana adalah mereka yang malas atau belum beruntung. Tapi mereka jatuh karena berjuang! Sedangkan kalian? Kalian miskin karena kalian sendiri yang mengundang kemiskinan itu masuk ke dalam rumah!"
Ama Nandes menunjuk ke arah Milla, Mirna, dan Aris yang duduk tertunduk di sudut halaman. "Anak-anak kalian semua sudah dropout dari sekolah. Kailo bahkan harus menggadaikan tanah warisannya hanya untuk membeli kerbau demi gengsi. Kalian menyalahkan bupati, gubernur, presiden, hingga anggota dewan? Benar, politisi banyak yang ingkar janji. Tapi apakah bupati yang menyuruh kalian berutang ratusan juta demi budaya kalian? Apakah anggota dewan yang memaksa kalian membantai ternak dalam penguburan hingga anak-anakmu tidak bisa bayar uang sekolah?"
Sovia mencoba membuka mulut untuk menyela, namun Ama Nandes langsung memotongnya dengan tatapan yang menghujam.
Baca juga: Cerpen - Dunia Kelam Dewi
“Jangan salahkan orang dan pihak tertentu yang tidak salah!" ucap Ama Nandes dengan nada ketus yang telak. Ia menunjuk kepalanya sendiri dengan jari telunjuk, memberikan penekanan yang menusuk ulu hati, sebelum melangkah pergi diikuti oleh Ama Lukas dan Ama Todo.
“Kitong yang tidak ada kepala!”
Punggung Ama Nandes dan teman-temannya perlahan menghilang di balik tikungan jalan. Di halaman rumah Gabi, rasa malu karena dikuliti logikanya segera berganti menjadi desiran amarah dan dendam. Mental kepiting mereka bergolak; mereka tidak tahan melihat ada orang yang hidupnya lebih baik dan lebih waras. Jika mereka harus menderita, maka semua orang harus ikut menderita.
Aris, salah satu pemuda yang sudah putus sekolah dan kini hidup luntang-lantang, meludah ke tanah. Bukannya menyesali masa depannya yang suram, ia justru maju ke tengah lingkaran dengan wajah memerah, dan karang cerita bernada fitnah untuk menghibur harga dirinya yang terluka.
"Omong kosong saja! Kita tahu seperti apa hidupnya. Sama saja tidak ada isi pantat!"
Mendengar pernyataan Aris, orang yang satu dusun dengan Ama Nandes, Sovia langsung menepuk tangan dengan girang, merasa mendapat angin segar untuk membenarkan posisinya. Tubuhnya yang kurus dan pakaiannya yang kumal bergoyang penuh kedengkian.
"Betul sekali!" sahut Sovia dengan suara melengking memecah udara sore. "Orang yang bergaya hebat, belum tahu rasa. Nanti pencuri gerebek dan habiskan hartanya, baru pintarnya selesai!"
Baca juga: Cerpen: Boneka Pink Muda
Mereka semua tertawa terbahak-bahak di atas ramalan buruk yang mereka karang sendiri. Di dalam kepala mereka yang sempit, kemiskinan terasa menjadi lebih "terhormat" jika orang lain yang sukses dipaksa jatuh miskin juga.
***
Waktu pun berlalu, dan waktu adalah hakim yang paling adil dalam menguji pilihan hidup. Kehidupan Ama Nandes, Ama Lukas, dan Ama Todo berjalan merangkak naik secara pasti.
Mereka tumbuh kian maju, mapan, dan sangat dihormati. Rumah mereka tidak megah karena pamer adat, tetapi kokoh mencerminkan ketenangan.
Pendidikan anak-anak melesat tinggi; ada yang menyandang gelar sarjana, ada yang magister, ada yang sukses membuka usaha mandiri. Lebih dari sekadar pencapaian materi, anak-anak dari kelompok ini bertumbuh dengan etika moral yang luhur.
Tidak ada satu pun yang nakal, berbicara kasar, atau bergaya tipu-tipu dengan meminjam nama besar orang lain. Mereka hidup jujur, menghargai keringat sendiri, dan jauh dari tabiat mencuri. Hidup mereka bersih, sebersih cara berpikir orang tua mereka.
Sebaliknya, awan hitam pekat justru menggantung di atas atap rumah kelompok Gabi dan kawan-kawan yang memilih bertahan dalam benteng tradisi.
Akar dari segala kejahatan adalah kemiskinan struktural yang mereka undang sendiri lewat utang ritual. Karena perut lapar dan masa depan gelap, moralitas mereka runtuh berkeping-keping.
Kampung yang dulunya damai berubah menjadi sarang kejahatan. Pemuda-pemuda, termasuk Aris, kini tidak tahu malu—kerja mereka setiap hari mengkritik orang lain tanpa dasar, memelihara mental penipu untuk mendapatkan uang, bahkan nekat mencuri ternak milik kerabat sendiri demi menutupi utang. Kasus pelecehan seksual pun mulai merebak di sudut-sudut kampung yang gelap.
Baca juga: Cerpen: Helikopter Pak Gubernur
Hingga akhirnya, sebuah kebejatan yang teramat biadab membongkar habis kebusukan moral di kelompok itu. Daniel, laki-laki yang tempo hari paling keras mengatasnamakan Alkitab untuk membela adat, terpaksa merelakan istrinya jadi TKW di Hongkong. Kepergian itu murni karena rumah tangga mereka sudah sekarat, hancur digilas utang adat yang menumpuk.
Di rumah reotnya, Daniel tinggal bersama Loru anak kandungnya yang masih remaja. Kemiskinan yang mematikan hati nurani dan rasa frustrasi yang panjang membuat Daniel gelap mata. Di bawah ancaman dan kuasa kegelapan pikirannya, Daniel bersetubuh dengan Loru hingga gadis malang itu berbadan dua.
Tragedi belum selesai. Loru yang dalam keadaan hamil besar luntang-lantung tanpa arah. Kelompok Gabi, Sovia, Margareta, dan kawan-kawannya yang dulu tunjuk jago solider atas nama adat, tiba-tiba memalingkan muka. Mereka ketakutan, menutup pintu rapat-rapat, dan mengusir gadis malang itu karena dianggap membawa sial besar dalam keluarga.
Namun, di tengah kepungan manusia yang tidak berhati nurani, pintu rumah Ama Todo justru terbuka lebar. Ama Todo—orang yang dari awal paling dibenci, dimusuhi, dan difitnah oleh Daniel—melangkah maju tanpa dendam. Dengan etika moral dan ketulusan hati yang lahir dari kejernihan berpikir, Ama Todo merengkuh Loru, anak gadis musuhnya itu. Gadis hamil itu dititip dan dirawat di rumahnya dengan layak, diberi makan, dan dilindungi dari tatapan penuh penghakiman warga desa.
Dari halaman rumahnya, Ama Todo menatap ke arah halaman rumah Gabi yang kini sunyi, tak ada lagi tawa riuh sumpah serapah di sana. Hanya ada penyesalan semu dari orang-orang yang merasa paling hebat dengan tameng demi budaya leluhur.
Ama Todo menarik napas dalam-dalam, menatap langit malam seraya membatin kata-kata sahabatnya, Ama Nandes. Air mata menetes di sudut matanya melihat kebebalan yang mengorbankan darah daging sendiri. Betul, betul sekali.. kita orang yang tidak ada kepala.
Tambolaka, 3 September 2026. (*)