TRIBUNPONTIANAK.CO.ID KUBURAYA — Bencana kabut asap yang melanda wilayah Kalimantan Barat kembali melumpuhkan sebagian aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Supadio, Kamis (3/9/2026).
Pekatnya asap yang membatasi jarak pandang memaksa otoritas dan maskapai untuk menunda hingga membatalkan sejumlah jadwal keberangkatan sejak pagi hingga sore hari.
Berdasarkan pantauan layar informasi keberangkatan hingga pukul 15:36 WIB, seluruh jadwal penerbangan maskapai Wings Air rute Pontianak-Ketapang resmi dibatalkan (cancelled).
Tiga penerbangan yang gagal diberangkatkan tersebut meliputi nomor penerbangan IW 1346 yang sejatinya dijadwalkan berangkat pukul 12:40 WIB, disusul penerbangan IW 1340 pada pukul 14:10 WIB, dan penerbangan IW 1344 pada pukul 15:00 WIB.
Selain pembatalan rute Ketapang, setidaknya empat penerbangan dari tiga maskapai berbeda mengalami keterlambatan (delay) berjam-jam dari jadwal aslinya. Penundaan ini menimpa penerbangan pagi Lion Air JT 837 tujuan Surabaya (jadwal 10:00 WIB) dan Batik Air ID 6229 tujuan Jakarta (jadwal 10:10 WIB). Keterlambatan juga merembet pada jadwal siang, yakni Lion Air JT 955 tujuan Batam (jadwal 11:55 WIB) serta Super Air Jet IU 681 tujuan Jakarta (jadwal 13:20 WIB).
Kondisi yang berulang ini dibenarkan oleh Ferry Irawan (50), seorang supir taksi bandara yang sehari-hari mencari penumpang di area Supadio.
“Ini sudah menjadi pemandangan lumrah bang, apalagi musim kabut asap begini,” ungkap Ferry saat mengamati padatnya area luar terminal.
Ia menceritakan bahwa pekatnya kabut sangat berisiko bagi keselamatan sehingga pesawat kesulitan mendarat.
Gangguan jarak pandang ini membuat jadwal rotasi pesawat menjadi berantakan dan berdampak pada penumpukan pergerakan penumpang di bandara hingga malam hari.
Baca juga: Menhut Raja Juli Antoni Pantau Langsung Karhutla Kubu Raya, Pendinginan Dimassifkan
“Bahkan beberapa hari ini banyak maskapai yang penerbangannya ketunda sampai jam setengah sebelas malam ya bang. Seperti yang dari Surabaya kemarin. Karena mau nggak mau kabut asapnya kan tebal ya bang, jadi mereka susah mendarat,” jelasnya.
Tertundanya kedatangan dan keberangkatan pesawat hingga larut malam ini secara langsung mengubah ritme kerja para penyedia jasa transportasi darat di bandara. Ferry dan rekan-rekan supir taksi lainnya terpaksa memperpanjang jam kerja mereka demi mengantisipasi lonjakan penumpang yang baru bisa tiba setelah landasan dinyatakan aman dari kepungan asap.
“Pengaruh ya ini pasti bagi kami yang supir taksi bandara, jadi kami harus lebih ekstra nariknya sampai malam ya bang. Karena malam itu tiba-tiba karena delay ini bisa melonjak penumpangnya,” pungkas Ferry.
Bandar Udara Internasional Supadio (IATA: PNK, ICAO: WIOO), sebelumnya Bandar Udara Sungai Durian, adalah sebuah bandar udara internasional yang terletak di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Indonesia.
Jaraknya dari Kota Pontianak adalah 17 km sebelah selatan.
Bandara ini dikelola oleh PT Angkasa Pura II. Luas Bandar Udara Internasional Supadio adalah 528 hektar.
Nama bandara ini diambil dari Letnan Kolonel Supadio, seorang perwira TNI AU yang bertugas di Pangkowilud II Banjarmasin, yang membawahi Pangkalan Udara Sungai Durian (nama bandara sebelumnya).
Letnan Kolonel Supadio tewas dalam kecelakaan pesawat dengan Kolonel (PNB) Nurtanio Pringgoadisuryo di Bandung pada tahun 1966.
Area bandara dan landasan pacu juga digunakan bersama dengan Pangkalan Udara Supadio Tipe B pangkalan udara TNI-AU (Angkatan Udara Indonesia).
Itu berfungsi sebagai basis Skuadron Udara 1 Angkatan Udara Indonesia, yang terdiri dari armada 18 Hawk 109/209. (*)