Bandara Juwata Tarakan Kebut Persiapan Penerbangan Internasional, Ada Rute Berau-Tarakan-Tawau
Adhinata Kusuma September 04, 2026 05:50 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Bandara Juwata Tarakan, Kalimantan Utara  terus mematangkan berbagai kebutuhan untuk menyambut kembali operasional penerbangan penumpang internasional berjadwal.

Kesiapan tersebut menjadi perhatian utama setelah Bandara Juwata yang beralamat di Karang Anyar Pantai, Kecamatan Tarakan Barat, Kota Tarakan, kembali ditetapkan sebagai bandara internasional melalui peraturan menteri yang baru.

Kepala UPBU Bandara Udara Juwata Tarakan, Bambang Hartato melalui Kabid Teknim dan Operasi Fahrudin Rahmad mengungkapkan, salah satu rencana penerbangan yang tengah dipersiapkan yakni rute Berau-Tarakan-Tawau.

Penerbangan internasional ini rencanaya dilayani Wings Air menggunakan pesawat ATR 72. 

Penerbangan tersebut direncanakan memiliki frekuensi awal tiga kali dalam sepekan.

Rencana penerbangan perdana di bandara yang berjarak sekira 3 hingga 3,5 kilometer dari pusat Kota Tarakan ini, sebelumnya ditargetkan pada 1 September 2026.

Namun hingga kini masih tertunda karena proses perizinan rute belum rampung.

"Kondisi itu membuat persiapan di Bandara Juwata terus dikebut. Sejumlah aspek dibahas, mulai dari fasilitas penumpang, keamanan penerbangan, hingga kesiapan Customs, Immigration and Quarantine (CIQ)," beber Fahrudin.

Fasilitas Ruang Imigrasi 

Pada sisi keberangkatan, alur penumpang penerbangan internasional akan diarahkan mulai dari proses check-in, pemeriksaan keamanan atau Security Check Point (SCP), pemeriksaan imigrasi, ruang tunggu internasional hingga boarding gate.

"Kesiapan fasilitas imigrasi turut menjadi bagian yang dibahas secara khusus," lanjutnya.

Ruang pemeriksaan akan disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan, termasuk pengadaan atau penyesuaian meja untuk mendukung sistem face recognition dengan standar ketinggian 160 sentimeter.

Sementara itu, ruang kantor imigrasi berukuran 3x6 meter direncanakan dibagi menjadi tiga sekat.

Masing-masing digunakan untuk Ruang Secondary Inspection, Passenger Analysis Unit atau analisis face recognition, serta ruang aduan.

"Penataan tersebut diperlukan untuk memastikan proses pemeriksaan berjalan efektif sekaligus mengantisipasi kepadatan penumpang," urai Fahrudin.

Terlebih,  lanjutnya, potensi antrean dinilai dapat meningkat ketika terdapat rombongan penumpang yang datang atau berangkat dalam waktu bersamaan.

Dari sisi keamanan penerbangan, Bandara Juwata juga perlu menyiapkan ruang pemeriksaan khusus SCP.

Tak hanya itu, keberadaan X-Ray cadangan menjadi salah satu kebutuhan penting untuk mengantisipasi apabila perangkat X-Ray utama mengalami gangguan.

"X-Ray cadangan direncanakan ditempatkan di Ruang Pemeriksaan Khusus atau di sebelah ruangan. Kemampuan petugas dalam melakukan pemeriksaan secara manual juga perlu dipastikan sebagai bagian dari mitigasi operasional," lanjutnya.

Pada area SCP, Bea Cukai dan Karantina juga perlu hadir untuk melakukan monitoring dan menjalankan fungsi sesuai kewenangannya.

Karena itu, dibutuhkan tambahan meja dan kursi untuk mendukung koordinasi petugas dengan keamanan penerbangan, terutama ketika ditemukan barang yang membutuhkan izin khusus atau harus menjalani pemeriksaan karantina.

"Penataan ruangan juga menjadi perhatian agar proses pemeriksaan tetap menjaga privasi penumpang serta tidak terganggu akses masyarakat umum," ungkapnya lagi.

Lebih lanjut ia mengungkapkan,  persiapan juga menyasar fasilitas pendukung di area keberangkatan. Untuk kapasitas ruang tunggu akan dievaluasi untuk memastikan mampu menampung penumpang penerbangan internasional. Sementara check-in counter 1 dan 2 direncanakan digunakan Wings Air.

'Kedua counter tersebut membutuhkan penambahan maupun perbaikan sejumlah peralatan pendukung," bebernya.

Jaringan Listrik, Wi-Fi dan LAN 

Ketersediaan listrik dan jaringan Wi-Fi maupun LAN juga harus dipastikan mencukupi karena sistem operasional penerbangan membutuhkan koneksi secara online.

Tidak hanya area keberangkatan, penataan area kedatangan internasional juga menjadi pekerjaan yang harus segera diselesaikan.

Penumpang yang telah turun dari pesawat maupun bus nantinya akan diarahkan terlebih dahulu melalui area transisi tertutup.

"Di area tersebut disiapkan fasilitas Visa on Arrival (VOA) serta area aklimatisasi atau pendinginan sebelum penumpang menjalani pemeriksaan suhu tubuh," lanjutnya.

Pemeriksaan suhu akan didukung thermal scanner yang dioperasikan petugas karantina kesehatan.

Apabila ditemukan penumpang dengan suhu tubuh di atas normal, penumpang tersebut akan diarahkan terlebih dahulu menuju ruang observasi karantina sebelum melanjutkan proses pemeriksaan berikutnya.

"Alur kedatangan selanjutnya diarahkan menuju area pengambilan bagasi dan pemeriksaan imigrasi," bebernya.

Ruang imigrasi juga harus mampu menunjang sejumlah fungsi, mulai dari penerimaan, layanan aduan umum, Secondary Inspection hingga detensi sementara.

Untuk pemeriksaan kepabeanan, Bea Cukai akan menjalankan pemeriksaan di area pengambilan bagasi. Fasilitas yang dibutuhkan mencakup meja, kursi, listrik, koneksi jaringan serta CCTV.

Sistem CCTV tersebut harus mampu merekam secara berkesinambungan sejak penumpang tiba hingga keluar dari area pabean.

"Posisi meja pemeriksaan juga akan ditata agar tidak terlalu dekat dengan pintu keluar," tambahnya.

Sementara penetapan kawasan pabean menjadi salah satu poin penting dalam persiapan operasional internasional.

Dalam pembahasan sementara, seluruh area airside disepakati untuk ditetapkan sebagai kawasan pabean.

Kemudian  pada sisi karantina kesehatan, tiga ruangan yang tersedia direncanakan digabung menjadi satu area yang lebih luas dengan memanfaatkan tirai portabel sebagai pembatas.

Kesiapan juga melibatkan Badan Karantina Pertanian, Perikanan, dan terkait lainnya untuk menangani produk pertanian maupun hewan yang dibawa melalui penerbangan internasional.

"Persoalan fasilitas pemeriksaan bagasi juga menjadi perhatian. Saat ini hanya tersedia satu X-Ray yang digunakan untuk bagasi tercatat domestik maupun internasional.Karena itu, bagasi internasional nantinya akan diberikan pita atau tanda khusus oleh pihak maskapai," ungkapmya.

Penandaan tersebut diperlukan agar ground handling dapat dengan mudah membedakan bagasi internasional dan domestik ketika masuk dalam sistem pemeriksaan X-Ray yang sama. Selain itu, fasilitas pendukung di area kedatangan juga akan ditata. Toilet dan kamar mandi harus berada di luar area clearance.

"Lalu untuk kaca  pada area kedatangan internasional perlu diberikan sandblast atau film privasi untuk menjaga batas antara area publik dan area pemeriksaan," jelasnya.

Seluruh kebutuhan tersebut selanjutnya akan ditindaklanjuti melalui tinjauan lapangan. Pihak terkait akan melakukan verifikasi kondisi fasilitas sekaligus pengukuran langsung untuk memastikan kebutuhan yang tercantum dalam pembahasan sesuai dengan kondisi di lapangan. Modifikasi maupun pengadaan meja dan sekat ruang imigrasi juga akan ditindaklanjuti.

"Begitu pula kesiapan ruang SCP, X-Ray cadangan, prosedur pemeriksaan manual, hingga penempatan petugas Bea Cukai, Karantina dan Avsec pada titik-titik yang membutuhkan pengawasan," teranfnya.

Fasilitas Bea Cukai berupa meja, kursi, jaringan listrik, koneksi jaringan dan CCTV juga menjadi bagian dari tindak lanjut.

Penataan area kedatangan untuk VOA, skrining suhu, imigrasi, pengambilan bagasi, Bea Cukai dan karantina akan dilakukan secara terpadu.

Tentunya kata Fahrudin, koordinasi antarinstansi akan terus dilakukan agar kebutuhan utama dapat dipenuhi dalam waktu sekitar satu hingga dua minggu, menyesuaikan proses perizinan rute penerbangan.

"Dengan demikian, persiapan Bandara Juwata tidak hanya diarahkan pada kelengkapan fisik fasilitas, tetapi juga memastikan persyaratan regulasi yang bersifat mandatori terpenuhi," harapnya.

Kemudian juga, mitigasi operasional terhadap fasilitas yang masih memiliki keterbatasan juga menjadi bagian dari persiapan.

"Rapat kemarin menyepakati perlunya koordinasi terpadu antara pengelola Bandara Juwata, Imigrasi, Bea Cukai, Karantina, Kesehatan, Avsec, maskapai serta pihak terkait lainnya," lanjutnya.

Hasil verifikasi lapangan dan tinjauan fasilitas selanjutnya menjadi dasar untuk menetapkan tindak lanjut percepatan kesiapan operasional penerbangan internasional di Bandara Juwata Tarakan.

"Untuk target penyelesaian persiapan tersebut dipatok dalam rentang satu hingga dua minggu, berjalan beriringan dengan proses perizinan rute penerbangan internasional," pungkasnya. (*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.