BANJARMASINPOST.CO.ID, PARINGIN- Dua kecamatan di Kabupaten Balangan, yakni Kecamatan Batumandi dan Lampihong, kini menjadi fokus perhatian utama dan mendapat intervensi ketat penanganan bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Pasalnya, ada beberapa lokasi yang didominasi lahan gambut serta di sekitarnya terdapat fasilitas publik dan pemukiman penduduk. Lantas wilayah itu menjadi kawasan tergolong rawan Karhutla.
Sebagai upaya untuk menunjang percepatan pemadaman, BPBD Kabupaten Balangan mendistribusikan empat set mesin pompa air alkon untuk disiagakan langsung di pos-pos terdepan dua kecamatan tersebut yakni di Koramil dan Polsek setempat yang bisa dimanfaatkan oleh jajaran TNI dan Polri di lapangan.
Peminjaman empat set mesin alkon ini diserahkan langsung oleh Kepala Pelaksana BPBD Balangan, H Rahmi kepada anggota TNI dan Polri di Sekretariat BPBD Balangan, Jumat (4/9/2026).
Baca juga: Polisi Buka Suara Terkait Kecelakaan Maut Pemotor Asal Balangan di Satui, Bantah Isu Tabrak Lari
Baca juga: Polisi Ungkap Oknum Guru PPPK di Tanahbumbu Kalsel Cabuli Siswinya 30 Kali, Ada Dilakukan di Mobil
H Rahmi, menjelaskan bahwa keempat set mesin alkon tersebut dipinjamkan dan didistribusikan langsung ke Koramil dan Polsek di Batumandi serta Koramil dan Polsek di Lampihong.
Masing-masing intansi menerima satu set mesin yang memiliki jangkauan penyemprotan radius hingga 20 meter. Langkah ini ujarnya diambil untuk mempercepat daya jangkau penanganan di dua wilayah rawan tersebut.
Rahmi menerangkan pada Kecamatan Lampihong titik rawan yang dijaga, dipantau, dan diintervensi berada di kawasan Trans Lajar Papuyuan, Desa Kandang Jaya, serta Desa Batu Merah.
"Di Trans Lajar Papuyuan terdapat pemukiman dan fasilitas publik yang wajib dijaga ketat dari ancaman api," ujarnya.
Sementara di Kecamatan Batumandi, Karhutla marak terjadi di kawasan Tapau, Desa Mantimin karena hamparan lahan gambutnya yang tebal. Bahkan, hari ini kata Rahmi, titik rawan bertambah ke Desa Mampari.
Ia juga tidak memungkiri adanya kendala geografis yang dihadapi tim di lapangan dalam proses pemadaman di kedua wilayah tersebut.
Pertama yakni kondisi akses jalan ada, namun sumber air tidak ada. Kemudian kondisi akses jalan tidak ada namun sumber air tersedia.
"Jika akses tidak ada tapi air ada, kami menerapkan dua cara penanganan dan strategi pemadaman. Strateginya adalah dengan counter attack serta manuver dan penyekatan," ungkap Rahmi.
Ia pun berharap dengan semakin bertambahnya alat untuk penanganan Karhutla dan bisa digunakan oleh TNI serta Polri, maka respons dan penanganan awal terhadap potensi kemunculan titik api di kedua kecamatan rawan Karhutla dapat dilakukan jauh lebih cepat sebelum api meluas.
(banjarmasinpost.co.id/isti rohayanti)