TRIBUNJOGJA.COM - Gelar akademik dan latar belakang pendidikan rupanya bukan mutlak bagi Nur Rohmad dalam berkarya.
Di Omah Kreatif DONGAJI, ia justru menemukan keunikannya lewat persimpangan disiplin ilmu yang terkesan 'terbalik'.
Lahir dengan tradisi seni yang kuat, ia justru menempuh jalur silang dengan mempelajari ilmu membatik di Sekolah Menengah Industri Kerajinan Jepara yang identik dengan ukiran.
Setelah itu, ia mengambil jurusan Kriya Kayu saat melanjutkan studi di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Pengalaman lintas disiplin inilah yang pada akhirnya membentuk ruang karyanya yang kreatif.
Semuanya berawal dari sebuah kontrakan berisi delapan pemuda asal Jepara yang menamai diri mereka Rumah Kartini.
Seiring berjalannya waktu dan berbagai dinamika idealisme, para anggotanya memilih jalan masing-masing.
Menyisakan Nur Rohmad yang bertahan di Yogyakarta.
Pada tahun 2011 hingga 2012, ia merintis ulang ruang karyanya menjadi sebuah laboratorium kriya mandiri.
Ia memilih nama baru yang membawa spirit pembelajaran yang kental.
"Dongaji itu artinya belajar," tegas Nur Rohmad.
Konsep ruang terbuka diusung agar siapa saja yang datang dapat berdiskusi dan menggali ilmu tanpa batasan sekat formal.
Baca juga: Belum Merdeka dari Asap, Warga Malaysia Desak Indonesia Buka Data Konsensi dan Lokasi Karhutla
Dari Limbah Kertas Menjadi Inovasi Cap Batik
Inovasi yang paling terlihat dari Omah Kreatif DONGAJI adalah penciptaan alat cap batik yang berbeda dengan alat konvensional.
Cap umumnya terbuat dari tembaga yang membutuhkan proses pembuatan lama dan biaya tinggi.
Terdesak oleh kebutuhan pesanan yang harus cepat dan murah, Nur Rohmad melihat potensi dari material yang diabaikan di sekitarnya.
Dengan pendekatan teknologi tepat guna, ia mulai bereksperimen.
"Limbah kertas kemasan saya bikin jadi cap," ungkapnya.
Ia mendaur ulang bungkus rokok, kertas dupleks, dan bungkus makanan ringan menjadi alat cap yang presisi.
Proses pembuatan cap kertas ini sangat revolusioner dalam hal waktu dan biaya.
Cap tembaga membutuhkan proses berminggu-minggu untuk selesai produksi.
Di tangan Nur Rohmad, cap dari limbah kertas ini bisa selesai hanya dalam satu jam hingga maksimal dua hari.
Biayanya pun sangat terjangkau, mematok harga paling tinggi sekitar Rp300.000.
Meski berbahan dasar kertas, ketajaman garis (cecek) yang dihasilkan tidak kalah dari tembaga, meski karakternya sedikit bergerigi menyerupai gergaji.
Inovasi ini menyebar luas dan menarik perhatian internasional.
Ruang kerjanya kerap dikunjungi seniman dari Prancis, Barcelona, hingga Jepang yang secara khusus datang untuk mempelajari metode cetak alternatif tersebut.
Nur Rohmad kini memproduksi cap kertas tidak hanya untuk digunakan sendiri, tetapi juga melayani pesanan dari seluruh Indonesia, sekaligus memberikan solusi bagi perajin batik yang tidak memiliki modal besar.
Filosofi Weton dan Dedikasi 'Sedekah Kreatif'
Lebih dari sekadar memproduksi batik, Omah Kreatif DONGAJI adalah pusat pengabdian masyarakat.
Nur Rohmad menjadikan keterampilannya sebagai instrumen berbagi.
Sejak awal mendirikan studio, ia secara rutin terjun ke desa-desa untuk mengajar tanpa memungut biaya.
Pengabdian pertamanya dilakukan di Selopamioro.
Prinsip ini ia pegang teguh sebagai bentuk tanggung jawab seniman terhadap lingkungannya.
"Saya sebut sodakoh kreatif," jelas Nur Rohmad ketika menjelaskan prinsip mengajar gratisnya tersebut.
Jejak pelatihannya kini membentang jauh melampaui Yogyakarta.
Ia telah membagikan ilmu cap kertasnya ke berbagai daerah seperti Purbalingga, Dharmasraya di Sumatera Barat, Kalimantan, Papua, bahkan hingga ke Sri Lanka.
Di tempat-tempat tersebut, ia tidak hanya mengajarkan teknik, tetapi juga cara merumuskan motif yang berangkat dari identitas lokal masing-masing daerah.
Karya-karya pribadi Nur Rohmad mengakar kuat pada laku kebudayaan Jawa.
Selama lima tahun terakhir, ia merumuskan motif batik yang dihitung murni berdasarkan Weton dan kalender Jawa.
Fenomena modern diterjemahkan ke atas kain melalui eksplorasi ilmu titen, Pranata Mangsa, hingga konsep Sengkalan Memet Lombo.
Salah satunya saat ia merespons masa pandemi Covid-19 melalui corak batik.
Lewat Omah Kreatif DONGAJI, Nur Rohmad menunjukkan bagaimana inovasi sederhana, kepedulian lingkungan, dan aksi sosial dapat menyatu untuk terus memberi manfaat bagi banyak orang.
(MG Fauzan Ardana)

