TRIBUNPADANG.COM - Masyarakat Sumatera Barat tentu sudah tidak asing dengan sebutan seperti Piaman Laweh, Bumi Sikerei, Luhak Nan Tuo, serta Ranah Lansek Manih.
Julukan-julukan itu sudah dikenal sejak lama dan hingga kini masih dipakai untuk menyebut berbagai kabupaten di Sumatera Barat
Namun, tidak semua orang mengetahui bagaimana sebutan itu muncul.
Beberapa di antaranya bahkan masih tercantum dalam slogan, moto, maupun publikasi resmi pemerintah daerah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari website resmi pemerintah daerah, berikut rangkuman julukan 12 kabupaten di Sumatera Barat.
Baca juga: Bukan Padang, Daerah Pendapatan Pekerja Informal Tertinggi di Sumbar Ada di Kota Kelahiran Polwan
Kabupaten Padang Pariaman beribu kota di Parit Malintang dikenal dengan julukan Piaman Laweh.
Sebutan ini diartikan sebagai "Pariaman yang luas" karena pada masa lalu wilayah Padang Pariaman jauh lebih besar dibandingkan sekarang.
Sebelum ada pemekaran, wilayah Padang Pariaman membentang hingga ke sejumlah daerah di pesisir barat Sumatera.
Kawasan Kepulauan Mentawai, wilayah Tiku Tanjung Mutiara yang saat ini masuk Kabupaten Agam serta sebagian Kota Padang saat ini, dulu masuk wilayah Padang Pariaman.
Kabupaten Agam beribu kota di Lubuk Basung sering disebut juga dengan Luhak Agam atau Luhak Nan Tangah.
Disebut Luhak Nan Tangah karena Agam merupakan luhak yang terbentuk setelah Luhak Tanah Datar.
Selain Tanah Datar dan Lima Puluh Kota, Agam juga merupakan bagian dari Luhak Nan Tigo, yakni tiga wilayah yang dalam tambo Minangkabau dipercaya sebagai asal perkembangan masyarakat Minangkabau.
Di kalangan masyarakat Agam juga dikenal ungkapan "buminyo angek, aianyo karuah, ikannyo lia."
Ungkapan ini menggambarkan masyarakat Agam yang dikenal memiliki semangat tinggi, hidup di tengah keberagaman, serta terbiasa menghadapi berbagai tantangan.
Baca juga: 8 Air Terjun di Padang Pariaman, Dekat Permukiman hingga Tersembunyi Dalam Hutan
Kabupaten Dharmasraya yang beribu kota di Pulau Punjung dikenal dengan julukan Ranah Cati Nan Tigo.
Julukan tersebut berasal dari sejarah Dharmasraya yang pernah menjadi bagian dari kawasan Kerajaan Melayu.
Kata ranah berarti kampung halaman, sedangkan Cati Nan Tigo menjadi lambang adat, sejarah, dan budaya yang masih dijaga masyarakat.
Selain itu, Dharmasraya juga mempunyai motto “Tau Jo Nan Ampek”.
Baik julukan maupun motto tersebut sama-sama melambangkn kehidupan masyarakat yang masih memegang adat dan nilai-nilai keagamaan.
Jika berbicara tentang Mentawai, banyak orang langsung mengenalnya sebagai Bumi Sikerei.
Julukan itu diambil dari nama Sikerei, tokoh adat yang dihormati masyarakat Mentawai.
Seorang Sikerei bukan hanya mengobati orang sakit dengan ramuan tradisional, tetapi juga memimpin upacara adat dan menjaga tradisi yang masih diwariskan sampai sekarang.
Ibu kota Kabupaten Kepulauan Mentawai berada di Tuapejat. Mentawai juga sering disebut Surga Selancar Dunia.
Ombak di kepulauan ini sudah lama dikenal para peselancar mancanegara.
Tak heran jika setiap tahun banyak wisatawan datang ke Mentawai untuk berselancar sekaligus menikmati kehidupan masyarakat adat yang masih terjaga.
Luhak Limo Puluah merupakan julukan Kabupaten Lima Puluh Kota yang beribu kota di Sarilamak.
Dalam tambo Minangkabau diceritakan, nama itu berasal dari 50 rombongan masyarakat dari Pariangan yang datang membuka permukiman baru di kaki Gunung Sago.
Dari sanalah kemudian berkembang wilayah yang sekarang menjadi Kabupaten Lima Puluh Kota.
Kabupaten Pesisir Selatan yang beribu kota di Painan memiliki julukan Negeri Sejuta Pesona.
Julukan ini digunakan oleh pemerintah daerah untuk memperkenalkan potensi wisata yang tersebar di berbagai kawasan.
Tujuan wisata yang paling banyak dikunjungi seperti Pantai Carocok Painan, Kawasan Mandeh, Pulau Cingkuak, hingga deretan pulau kecil lainnya.
Selain wisata alam, Pesisir Selatan juga memiliki kesenian Rabab Pasisie yang masih terus dilestarikan oleh masyarakat.
Di bagian selatan Sumatera Barat terdapat Kabupaten Solok Selatan dengan ibu kota Padang Aro.
Daerah ini memiliki julukan Sarantau Sasurambi yang mencerminkan kebersamaan masyarakatnya.
Solok Selatan juga dikenal sebagai Nagari Saribu Rumah Gadang karena masih memiliki ratusan rumah gadang yang berdiri di kawasan adat.
Selain itu, ada juga sebutan Heart of Minangkabau yang menggambarkan kuatnya adat dan budaya yang masih dijaga oleh masyarakat setempat.
Tanah Datar merupakan salah satu daerah yang memiliki peran penting dalam sejarah Minangkabau.
Kabupaten yang beribu kota di Batusangkar ini menyandang julukan Luhak Nan Tuo karena dipercaya sebagai wilayah tertua di Minangkabau.
Selain Agam dan Lima Puluh Kota, Tanah Datar juga menjadi bagian dari Luhak Nan Tigo.
Banyak peninggalan sejarah masih bisa dijumpai di daerah ini.
Ada Istano Basa Pagaruyung, Nagari Pariangan yang diyakini sebagai kampung asal orang Minangkabau, hingga tradisi Pacu Jawi yang masih bertahan.
Kabupaten Pasaman beribu kota di Lubuk Sikaping. Meskipun tidak memiliki julukan resmi, daerah ini aering disebut Negeri Khatulistiwa karena Kecamatan Bonjol dilalui garis khatulistiwa atau garis lintang 0 derajat.
Bonjol juga dikenal sebagai tempat kelahiran Pahlawan Nasional Tuanku Imam Bonjol.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Pasaman menggunakan motto Saiyo yang bermakna seia atau setuju bersama dalam membangun daerah dan kehidupan masyarakat.
Kabupaten Pasaman Barat beribu kota di Simpang Empat, menggunakan julukan Bumi Tuah Basamo.
Dalam bahasa Minangkabau, Tuah Basamo berarti keberuntungan atau kebaikan yang diraih bersama.
Sebutan tersebut diartikan sebagai semangat kebersamaan dan musyawarah yang menjadi pedoman dalam membangun daerah.
Selain itu, sebagian masyarakat juga mengenal Pasaman Barat dengan sebutan Negeri Petro Dolar.
Julukan tersebut diberikan karena daerah tersebut memiliki perkebunan kelapa sawit yang luas dan menjadi salah satu penopang perekonomian masyarakat.
Kabupaten Sijunjung yang beribu kota di Muaro Sijunjung lebih dikenal dengan julukan Ranah Lansek Manih.
Julukan tersebut dipercaya berasal dari buah lansek yang dahulu banyak tumbuh di Sijunjung.
Lansek dari daerah ini dikenal memiliki rasa yang manis dan pernah menjadi hasil kebun yang diperdagangkan ke berbagai daerah.
Oleh karena itulah, nama Lansek Manih kemudian identik dengan Sijunjung dan tetap menjadi salah satu ciri khas kabupaten tersebut.
Kabupaten Solok dan Kota Solok menjadi daerah yang tidak bisa dipisahkan dengan julukan Kota Bareh atau Kota Beras.
Solok (Baik kabupaten maupun kota) memang melekat sebagai daerah penghasil beras berkualitas premium yang sudah dikenal sejak dulu.
Sebagai lumbung beras dan lumbung padi, komoditas Bareh Solok memiliki ragam jenis.
Paling terkenal adalah Anak Daro dan Sokan yang sangat diminati oleh masyarakat di Sumbar.
Dulu, wilayah Kota Solok, Kabupaten Solok dan Kabupaten Solok Selatan satu kesatuan.
Masa penjajahan Belanda, nama Solok digunakan sebagai nama unit administrasi setingkat kabupaten dengan nama Afdeeling Solok. (MG/Fujiatul Witri)