Kualitas Udara Bengkulu Kembali Sempat Tidak Sehat di Pagi Hari, Masyarakat Diimbau Pakai masker
Ricky Jenihansen September 05, 2026 05:54 PM

 

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Kualitas udara di Bengkulu kembali sempat berada dalam kategori tidak sehat pada pagi hari, Sabtu (5/9/2026).

Berdasarkan data pemantauan konsentrasi partikulat PM2,5 BMKG, penurunan kualitas udara terjadi pada pukul 07.00 WIB dan 08.00 WIB.

Pada pukul 07.00 WIB, konsentrasi PM2,5 tercatat sekitar 75 µg/m⊃3; dan meningkat menjadi sekitar 80 µg/m⊃3; pada pukul 08.00 WIB. Pada grafik BMKG, kedua periode tersebut ditandai dalam kategori tidak sehat.

Setelah pukul 08.00 WIB, konsentrasi PM2,5 berangsur menurun dan kembali masuk kategori sedang.

Pada pukul 09.00 WIB, konsentrasi PM2,5 tercatat sekitar 55 µg/m⊃3;, kemudian sekitar 44 µg/m⊃3; pada pukul 10.00 WIB.

Hingga pukul 14.00 WIB, konsentrasi PM2,5 di Bengkulu tercatat 31 µg/m⊃3; dengan kategori sedang.

Pengukuran konsentrasi PM2,5 menggunakan metode penyinaran sinar beta atau Beta Attenuation Monitoring dengan satuan mikrogram per meter kubik (µg/m⊃3;).

Asap dari Provinsi Tetangga Berpeluang Terbawa ke Bengkulu

Sebelumnya, Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Bengkulu, Luhur Tri Uji Prayitno, mengatakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah provinsi tetangga, seperti Riau dan Sumatera Selatan, berpotensi memengaruhi kualitas udara di Provinsi Bengkulu.

Kondisi tersebut dipengaruhi pola pergerakan angin yang masih didominasi angin timuran, yakni bergerak dari arah timur dan tenggara.

"Kalau melihat pola angin, angin masih angin timuran, dari timur dan tenggara. Kalau melihat semuanya bergerak ke arah utara, tentunya ada peluang asap terbawa angin dari provinsi tetangga," kata Luhur saat diwawancarai wartawan di Aula Merah Putih, Kantor Gubernur Bengkulu, Selasa (1/9/2026).

Indikasi adanya pengaruh asap dari luar wilayah Bengkulu, lanjut Luhur, juga terlihat dari hasil pemantauan partikulat udara, terutama PM2,5.

BMKG memantau konsentrasi PM2,5 atau partikulat berukuran 2,5 mikrometer menggunakan alat pemantauan kualitas udara.

Berdasarkan hasil pemantauan saat itu, kualitas udara di Kota Bengkulu mengalami penurunan pada pagi hari.

Bahkan, sekitar pukul 06.00 hingga 07.00 WIB, kualitas udara sempat berada dalam kategori sangat tidak sehat.

Kondisi tersebut kemudian berangsur membaik ketika memasuki siang hingga sore hari.

"Di pagi hari, sekitar pukul 06.00 sampai 07.00, kualitas udara di Bengkulu menurun dan mencapai kategori sangat tidak sehat. Kemudian pada pukul 10.00 hingga sore hari kualitas udara kembali membaik," jelasnya.

Tidak Sejalan dengan Jumlah Hotspot di Bengkulu

Luhur menjelaskan, penurunan kualitas udara tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan jumlah titik panas atau hotspot yang terpantau di wilayah Bengkulu.

Menurutnya, kondisi itu menjadi salah satu indikasi bahwa penurunan kualitas udara di Kota Bengkulu pada pagi hari kemungkinan tidak hanya dipengaruhi sumber asap dari wilayah Bengkulu.

"Kalau dibandingkan dengan jumlah titik api di wilayah kita, sebenarnya tidak sesuai. Artinya, asap yang berada di wilayah Bengkulu kemungkinan bukan hanya berasal dari wilayah Bengkulu," ujarnya.

Meski demikian, Luhur tidak menyebut secara spesifik wilayah mana yang menjadi sumber asap yang masuk ke Bengkulu.

Kondisi tersebut berpotensi membuat konsentrasi partikulat di udara meningkat.

"Kemungkinan bisa bercampur dengan asap dari daerah lain dan kemudian terakumulasi," katanya.

Hotspot Belum Tentu Karhutla

Di tengah meningkatnya potensi karhutla pada musim kemarau, BMKG terus memantau perkembangan titik panas atau hotspot di wilayah Bengkulu.

Luhur mengatakan data hotspot diperbarui sebanyak dua kali dalam sehari.

Pembaruan pertama dilakukan pada pagi hari dengan periode pemantauan mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 07.00 WIB hari berikutnya.

Selanjutnya, data kembali diperbarui pada sore hari.

Dalam pembaruan terakhir, BMKG masih menemukan sejumlah titik panas yang terdeteksi di wilayah Bengkulu.

Namun, Luhur menegaskan keberadaan hotspot belum dapat langsung disimpulkan sebagai kebakaran hutan dan lahan.

Setiap titik panas memiliki tingkat kepercayaan atau confidence tertentu.

Karena itu, diperlukan pengecekan lebih lanjut untuk memastikan kondisi di lapangan.

"Hotspot itu melihat tingkat kepercayaan. Nanti harus dilakukan pengecekan untuk memastikan apakah memang api atau bisa juga berasal dari seng maupun orang yang membakar sampah," jelasnya.

Warga Diminta Waspada, Terutama Pagi Hari

Terkait kualitas udara yang sempat masuk kategori sangat tidak sehat, BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di luar ruangan.

Masyarakat disarankan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah, terutama saat kualitas udara sedang mengalami penurunan.

Luhur juga meminta masyarakat lebih memperhatikan kondisi udara pada pagi hari.

Sebab, berdasarkan hasil pemantauan BMKG, kualitas udara cenderung lebih buruk sekitar pukul 06.00 hingga 07.00 WIB.

Sementara memasuki siang hingga sore hari, kualitas udara cenderung membaik seiring perubahan kondisi angin dan atmosfer.

"Lebih baik menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan," imbaunya.

Masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan udara yang tidak sehat dapat berkonsultasi dengan Dinas Kesehatan.

Terutama apabila kondisi kualitas udara buruk berlangsung selama beberapa hari dan meningkatkan paparan partikulat kepada masyarakat.

BMKG memastikan pemantauan terhadap kualitas udara, pola angin, dan titik panas di Bengkulu serta wilayah sekitarnya akan terus dilakukan.

Langkah tersebut dilakukan untuk memberikan informasi dini kepada masyarakat mengenai potensi dampak karhutla, termasuk kemungkinan masuknya asap dari wilayah provinsi tetangga.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.