TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Festival Kopi Nusantara (FKN) ke-9 dan Tembakau di Kabupaten Bondowoso tidak hanya menjadi ruang promosi komoditas unggulan daerah. Selama delapan hari penyelenggaraan, festival tersebut mencatat transaksi ekonomi sekitar Rp 2 miliar.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Bondowoso, Molyadi, mengatakan nilai transaksi tersebut dihitung berdasarkan aktivitas jual beli yang dilakukan 122 pelaku UMKM di area bazar, termasuk stan kopi dan tembakau.
Rata-rata transaksi setiap stan berada di kisaran Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta per malam. Akumulasi transaksi tersebut berlangsung hingga malam penutupan FKN, Jumat (4/9/2026).
"Hasil hitungan dari tim selama delapan hari transaksi, baik di stan e-Connect maupun stan UMKM, kurang lebih sekitar Rp 2 miliar," ujar Molyadi.
Baca juga: Sabrang Letto Dorong Kopi Bondowoso Perkuat Ekosistem hingga Pasar Global
Menurut Molyadi, nilai transaksi tersebut menunjukkan bahwa FKN memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar festival. Kegiatan ini menjadi sarana bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan produk kopi dan tembakau khas Bondowoso kepada masyarakat.
Untuk memperkuat promosi dan edukasi mengenai komoditas tersebut, DPKP juga menghadirkan sejumlah kompetisi pendukung selama festival. Di antaranya lomba pemanfaatan limbah kopi, kompetisi meracik kopi, dan lomba rajang tembakau.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat mendorong pelaku usaha dan masyarakat untuk melihat kopi serta tembakau bukan hanya sebagai komoditas pertanian, tetapi juga sebagai produk yang memiliki nilai tambah ekonomi.
Baca juga: Limbah Kopi Disulap Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Festival Kopi Nusantara Bondowoso
Pengembangan komoditas kopi Bondowoso juga disiapkan untuk berlanjut setelah FKN berakhir. DPKP saat ini, dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tengah membidik kerja sama dengan International Labour Organization (ILO) dalam program pengembangan kopi di Bondowoso.
Kemitraan tersebut diarahkan untuk memperkuat rantai pasok kopi, meningkatkan kapasitas petani dan UMKM, serta mempercepat akses kopi Bondowoso ke pasar internasional melalui eksportir lokal.
Langkah lain yang sedang dijajaki adalah membuka peluang kunjungan pengusaha asal Kamerun, Afrika, ke Bondowoso. Puluhan pengusaha tersebut disebut berencana datang ke Indonesia dan diupayakan turut melihat secara langsung potensi agribisnis pertanian di Bondowoso.
"Iya, ada dua rencana terdekat," terangnya.
Wakil Bupati Bondowoso, As'ad Yahya Syafi'i, mengatakan FKN ke-9 menjadi momentum untuk kembali menguatkan semangat Bondowoso sebagai Republik Kopi.
Menurutnya, kopi arabika Ijen-Raung dan tembakau khas Bondowoso memiliki potensi untuk bersaing di pasar internasional.
"Kopi arabika Ijen-Raung dan tembakau berkualitas tinggi khas Bondowoso adalah mahakarya unggulan yang siap menembus pasar internasional dan berdaya saing global," tutur As'ad.
Ia berharap penguatan komoditas unggulan tersebut tidak berhenti pada peningkatan aktivitas perdagangan, tetapi memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan petani dan perekonomian masyarakat.
"Harapannya, kebangkitan ini memberikan manfaat bagi kesejahteraan petani, meningkatkan perekonomian masyarakat luas, serta mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD)," pungkasnya.
Penutupan FKN ke-9 juga dimeriahkan berbagai hiburan untuk masyarakat Bondowoso. Pertunjukan tersebut antara lain tari Molong Kopi dan hiburan musik reggae.