Liputan6.com, Jakarta - The Power of Small Acts berangkat dari gagasan sederhana: kebaikan sekecil apa pun dapat menemukan arti ketika dilakukan bersama. Sebuah pemberian, ruang yang dibuat lebih aman, atau keputusan menyisihkan sedikit dari apa yang dimiliki mungkin tampak sepele.
Namun, ketika tindakan-tindakan kecil itu bertemu, perlahan terbentuk kekuatan yang mampu membawa perubahan lebih jauh. Bagi UNIQLO, salah satu cara menghadirkan kekuatan tersebut adalah dengan menjadikan aktivitas sehari-hari sebagai bagian dari aksi sosial.
Pelanggan yang datang berbelanja, misalnya, dapat ikut berkontribusi melalui program yang menghubungkan transaksi dengan donasi.
"Setiap hari, ada berapa juta pelanggan yang datang ke 78 toko kita di seluruh Indonesia. So, how can we actually leverage that? Itu sebenarnya adalah resource buat kita, it's actually power," kata Corporate Affairs Director UNIQLO Indonesia, Irma Yunita, dalam salah satu sesi diskusi di IdeaFest 2026, Jakarta, Jumat, 4 September 2026.
Gagasan tersebut salah satunya diwujudkan melalui program "Satu untuk Seribu" yang dijalankan pihaknya bersama Kitabisa. Setiap transaksi pelanggan selama 1–31 Agustus 2026 dikonversikan menjadi donasi Rp 1.000.
Dana yang terkumpul kemudian diwujudkan menjadi bantuan bagi 1.000 guru honorer di berbagai wilayah Indonesia. Bagi Irma, keterlibatan pelanggan menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.
Aktivitas yang sudah menjadi rutinitas sehari-hari dapat menjadi pintu masuk untuk melakukan sesuatu yang lebih berarti. Dengan jumlah pelanggan yang besar, kontribusi individual yang terlihat kecil dapat dikumpulkan menjadi dukungan yang memiliki jangkauan lebih luas.

Kekuatan yang sama juga dibawa melalui Peace for All, proyek amal global UNIQLO yang menghadirkan koleksi kaus dengan pesan perdamaian. Seluruh keuntungan dari penjualan produk tersebut dikembalikan untuk berbagai inisiatif kemanusiaan dan perdamaian.
Hingga Juni 2026, program ini telah menjual lebih dari 11,1 juta kaus secara global dengan kontribusi mencapai USD 20,6 juta. Di Indonesia, kolaborasi bersama Save the Children turut mendukung program yang berfokus pada terciptanya lingkungan yang lebih aman dan inklusif bagi anak-anak.
Sebanyak 16 sekolah di Yogyakarta dan Bandung turut merasakan dukungan tersebut, mulai dari penguatan kapasitas hingga pembenahan fasilitas sekolah.
Bagi Project Manager Peace for All dari Save the Children Indonesia, Mary Sutedja, menciptakan ruang yang lebih baik bagi anak membutuhkan perhatian yang menyeluruh dan tidak berhenti pada satu bentuk bantuan.

Bencana dapat mengubah kehidupan anak secara drastis, termasuk mengganggu sekolah yang menjadi ruang belajar, bermain, dan bersosialisasi. Pemulihan pun membutuhkan waktu panjang karena keluarga, pendidikan, kesehatan mental, dan perlindungan anak tetap membutuhkan perhatian setelah situasi kembali normal.
"Kalau misalnya untuk recovery, kita itu lebih dari satu tahun (setelah bencana)," tutur Mary.
Tantangan bagi anak juga hadir di lingkungan perkotaan, seperti bullying dan kesehatan mental. Save the Children menerapkan pendekatan whole school dengan melibatkan anak, guru, dan orangtua untuk membangun lingkungan yang lebih aman.
Perubahan terlihat ketika anak lebih berani menyuarakan kekerasan, sementara guru semakin memahami cara mendampingi mereka. Upaya tersebut juga mencakup perbaikan fasilitas, termasuk toilet sekolah yang aman dan layak.
Renovasi di sejumlah sekolah Yogyakarta dan Bandung menjadi langkah sederhana yang dapat memberi rasa aman bagi anak setiap hari. "Kalau toiletnya bagus, traffic-nya tinggi, ramai, jadi tidak memberi ruang untuk bullying terjadi," Irma menambahkan.

Di sisi lain, Co-founder Kitabisa, Vikra Ijas, melihat semangat gotong royong sebagai fondasi penting agar kontribusi kecil dapat menemukan kekuatannya ketika dilakukan bersama.
"Sering kali kita merasa apa yang kita lakukan terlalu kecil untuk membawa perubahan, padahal semangat gotong royong mengajarkan bahwa ketika banyak orang mengambil bagian, kontribusi sederhana dapat bertumbuh menjadi dampak yang jauh lebih besar. Tidak ada kontribusi yang terlalu kecil ketika kita bergerak bersama," ujarnya.
Bagi Vikra, gotong royong bukan sekadar nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Semangat tersebut dapat diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk kontribusi yang dekat dengan keseharian. Seseorang tidak harus selalu memberikan sesuatu dalam jumlah besar untuk mengambil bagian dalam perubahan.