Upah Sehari Rp 30 Ribu, Penjaga Warung di Lumajang Masuk Desil 6-10 DTSEN
Pipit Maulidya September 05, 2026 11:05 PM

 

SURYA.co.id, LUMAJANG - Sahrul Aminuddin, warga Kelurahan Tompokersan, Kecamatan/Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, terkejut mengetahui dirinya masuk desil 6-10 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Hal tersebut terungkap ketika Tribun Jatim Network menelusuri nomor induk kependudukan (NIK) Sahrul melalui aplikasi Cek Bansos Kementerian Sosial.

Padahal, pria berusia 29 tahun tersebut hanya memiliki pendapatan sekitar Rp 30 ribu sehari dari upah menjaga warung pada malam hari.

Sahrul saat ini tinggal menumpang di rumah budenya di Jalan Hasanuddin, Lumajang.

Ia juga hanya memiliki satu sepeda motor butut berupa Suzuki Bravo keluaran 1995 yang dibeli bekas tanpa BPKB seharga Rp 800 ribu. Kendaraan tersebut digunakan sebagai transportasi menuju warung tempatnya bekerja.

"Baru tahu setelah sampen (kamu) cek, kaget juga masuk desil 6-10. Kaget juga saya," ujar Sahrul saat diwawancarai Tribun Jatim Network, Sabtu (5/9/2026).

Bekerja dari Malam hingga Pagi

Dalam kesehariannya, Sahrul mengaku membantu berjualan dan menjaga warung dagangan kaki lima milik kakaknya mulai pukul 20.00 hingga 04.00 waktu setempat.

Setelah itu, ia membantu persiapan memasak di warung makan milik Bu Mispin di Jalan Gajah Mada Lumajang mulai pukul 04.00 hingga 08.00 waktu setempat.

Sahrul mengaku mendapatkan upah dari pekerjaan tersebut tidak pasti.

"Pendapatan dari jaga warung tidak mesti, kadang Rp 30 ribu kadang Rp 40 ribu. Cuma dikasih makan. Tapi kalau bantu jaga warung mas, kalau rame kadang dikasih tapi kalau sepi ya tidak papak tidak dikasih," ulas Sahrul.

Tinggal di Rumah Bude

Ketika kedua orang tuanya masih hidup, Sahrul tinggal di rumah kontrakan di Jalan Cut Nyak Dien Lumajang dengan harga sewa Rp 600 ribu per tahun sejak 1996.

Namun setelah orang tuanya meninggal dunia, Sahrul mengaku menumpang di rumah budenya di Jalan Sultan Hasanuddin Lumajang sejak 2023 hingga sekarang.

"Ada rumah budeku yang kosong, jadi tak tempati. Jadi numpang di rumah bude. Kalau rumahnya tembok dan kramikkan," bebernya.

Sahrul mengaku tidak pernah didata oleh petugas kelurahan atau tukang sensus. Ia juga belum pernah diberi tahu mengenai desil oleh RT setempat.

"Baru kali ini saya tahu, sebelumnya saya tidak pernah tahu soal desil. Saya punya 8 saudara, yang belum nikah dua. Saya dan kakak saya, kebetulan saya saya anak terakhir," katanya.

Sahrul tercatat masuk dalam desil 6-10 pada DTSEN, meski berdasarkan pengakuannya, pendapatan dari pekerjaan menjaga warung hanya sekitar Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu dan tidak selalu diterima setiap hari.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.