Meskipun Turun Hujan Buatan, Wanita Adat Dayak Tetap Bagikan 2.000 Masker di Pontianak
Try Juliansyah September 05, 2026 11:44 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID PONTIANAK — Rintik hujan mulai membasahi aspal di kawasan Simpang Bundaran Digulis, Jl. Jenderal Ahmad Yani, Bansir Laut, Kec. Pontianak Tenggara, Kota Pontianak, Sabtu (4/9/2026). 

Namun, basahnya jalanan belum mampu menghalau pekatnya kabut asap yang masih menggenangi udara.

Pemandangan pepohonan yang memutih tertutup kabut menjadi saksi bisu buruknya kondisi lingkungan saat ini.

​Kondisi langit yang pekat ini selaras dengan pantauan kualitas udara Kota Pontianak pada pagi hari. Indeks Kualitas Udara (AQI) tercatat menyentuh level 752 dengan konsentrasi polutan mencapai 367,5 µg/m⊃3;—angka ekstrem yang masuk dalam kategori "Berbahaya".

​Di tengah kepungan kabut asap tersebut, sebuah aksi kepedulian tetap berdenyut.

Meski kota diguyur telah hujan buatan, para relawan dari Perhimpunan Perempuan Dayak (P2D) Kalimantan Barat tak sedikit pun beranjak dari pembatas jalan.

Mereka tetap bertahan membagikan masker kepada para pengendara, berupaya melindungi kesehatan warga yang terpaksa beraktivitas di bawah ancaman asap sisa polusi.

Pantauan di lapangan menunjukkan pemandangan yang menyentuh sekaligus membanggakan.

Baca juga: Pontianak Diguyur Hujan, BMKG Ungkap Peran Operasi Modifikasi Cuaca dalam Menekan Karhutla

Tampak para perempuan tangguh ini turun ke jalan mengenakan pakaian serba hitam yang dipadukan dengan identitas budaya kebanggaan mereka.

Beberapa di antaranya tampil bersahaja mengenakan ikat kepala manik-manik khas Dayak yang melingkar indah.

Sementara yang lain, tampak memadukan gaya kasual dengan balutan selendang tenun tradisional bermotif khas dayak yang diikatkan menyilang di pinggang mereka.

Para srikandi Adat tersebut tak segan berjalan membelah lautan kendaraan yang tengah berhenti di simpang lampu merah.

Dalam sebuah momen, terlihat seorang ibu dengan ikat kepala adatnya dengan sabar mengulurkan masker medis hijau kepada seorang pemuda pengendara motor matic merah yang langsung menyambutnya.

Di sudut lain, perempuan berselendang tenun berjalan cekatan namun tegap di sela-sela rapatnya antrean motor, memastikan tak ada satu pun pengendara yang rata-rata mengenakan jaket tebal dan helm terlewat dari pembagian masker ini.

Dengan sigap, tangan-tangan mereka terus menjulurkan masker kepada masyarakat. Kepulan asap knalpot berpadu dengan sisa kabut tak menyurutkan niat para wanita adat ini untuk mendistribusikan tak kurang dari 2.000 helai masker kepada mereka yang masih harus bernapas di luar ruangan.

Dalam aksi solidaritas di tengah sisa kabut kota tersebut, P2D Kalbar menggandeng Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat sebagai penyedia ribuan masker tersebut, sekaligus membawa energi pemuda untuk berhadapan langsung dengan realitas jalanan.

Ketua Umum P2D Kalbar, Dra. Fransiska Edhitawaty Soeryamassoeka, yang memimpin langsung di lapangan, menuturkan bahwa kolaborasi ini adalah bentuk tanggung jawab sosial lintas generasi di tengah krisis udara.

"Kami bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat yang memfasilitasi penyediaan 2.000 masker ini. Tentu kami tidak bergerak sendiri, dalam aksi ini kami dari P2D Kalbar juga mengajak Bujang Dara Gawai Dayak 2026. Mereka adalah representatif anak muda Kalimantan Barat, agar mereka ikut serta turun langsung merasakan kondisi masyarakat kita di jalan," ujar Fransiska di sela-sela deru mesin kendaraan.

Satu per satu pengendara roda dua, pengemudi ojek daring, hingga warga biasa menerima uluran masker tersebut.

Pandangan mata Fransiska menyapu kondisi simpang jalan yang ramai, menyadari betapa rentannya kelompok masyarakat pekerja harian yang tak memiliki pilihan selain menghirup udara luar.

"Kami melihat pengguna jalan ini sangat beragam kelas sosialnya dan benar-benar terdampak. Banyak tukang ojek yang harus terus membelah jalanan, mahasiswa, ibu-ibu yang berjualan, hingga acek-acek (orang tua) yang fisiknya rentan. Mereka inilah yang memang sangat membutuhkan perlindungan ekstra dari masker ini saat beraktivitas," paparnya.

Gerimis hasil modifikasi cuaca yang mengguyur sebagian wilayah Pontianak memang membawa sedikit kelegaan secara kasat mata.

"Meskipun Kota Pontianak hari ini menyambut guyuran hujan buatan, rintik air ini tidak menyurutkan sedikit pun semangat kami untuk berbagi. Ini adalah mutlak langkah preventif atau pencegahan dari dalam diri. Bencana asap ini kita tidak pernah tahu akan berlangsung sampai kapan dan kapan angin membawa asap itu kembali padat. Masker adalah pertahanan pertama yang kini tak boleh lepas," pungkas Fransiska tegas.

Melalui aksi turun ke jalan dengan balutan atribut adat di tengah rintik hujan ini, para wanita P2D Kalbar mengirimkan pesan kuat yaitu kepedulian terhadap kesehatan dan lestarinya nilai luhur budaya untuk saling menjaga tidak boleh luntur hanya karena hujan sementara.

Selama indeks kualitas udara belum sepenuhnya biru, kedisiplinan menjaga kesehatan harus tetap dijaga ketat.

Profil Singkat Perhimpunan Perempuan Dayak Kalbar

Perhimpunan Perempuan Dayak (P2D) Kalimantan Barat merupakan organisasi yang menjadi wadah bagi perempuan Dayak untuk memperkuat peran perempuan dalam kehidupan sosial, budaya dan pembangunan daerah.

Berdasarkan keterangan Ketua DPD P2D Kalbar, Fransiska Editawaty Soeryamassoeka, organisasi ini telah berdiri sejak 1996 dan merupakan organisasi sayap dari Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Barat.

Identitas organisasi

Nama: Perhimpunan Perempuan Dayak (P2D)

Wilayah: Kalimantan Barat

Organisasi: DPD P2D Kalimantan Barat

Ketua: Fransiska Editawaty Soeryamassoeka

Berdiri: 1996

Afiliasi kelembagaan: Organisasi sayap DAD Kalimantan Barat

Basis kegiatan: pemberdayaan perempuan, sosial kemasyarakatan, adat dan budaya Dayak. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.