BANGKAPOS.COM--Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami perubahan setelah erupsi menerus yang berlangsung sejak Sabtu (5/9/2026) tengah malam akhirnya berhenti pada Minggu (6/9/2026) dini hari.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan, berdasarkan pengamatan pada Minggu pukul 05.43 WIB, puncak Gunung Anak Krakatau tertutup kabut sehingga kondisi asap kawah tidak teramati.
Erupsi menerus sebelumnya tercatat berhenti pada pukul 00.04 WIB.
Meski aktivitas erupsi menerus telah berhenti, kondisi tersebut belum berarti dampak erupsi sepenuhnya berakhir.
Sebaran abu vulkanik masih menjadi perhatian karena material vulkanik yang telah terlepas ke atmosfer dapat terbawa angin hingga wilayah yang cukup jauh dari pusat erupsi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan hasil pemantauan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berdasarkan analisis pada Minggu (6/9/2026) pukul 02.00 WIB.
Dengan mengacu pada informasi aktivitas erupsi dari PVMBG dan Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin serta analisis RGB citra satelit Himawari-9, BMKG mengidentifikasi sedikitnya dua pola sebaran abu vulkanik.
Sebaran pertama berada pada ketinggian permukaan hingga 20.000 kaki.
Abu bergerak ke arah tenggara hingga selatan, mencakup sebagian wilayah Banten dan Jawa Barat serta perairan di sekitarnya.
Sementara itu, sebaran kedua berada pada ketinggian yang jauh lebih tinggi, yakni permukaan hingga 50.000 kaki.
Abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut dan mencakup sebagian wilayah Lampung, Banten, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Selat Sunda bagian selatan serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung dan Banten.
Kondisi ini membuat masyarakat di wilayah yang berada dalam jalur sebaran abu tetap perlu waspada meskipun erupsi menerus telah berhenti.
Baca juga: Erupsi Anak Krakatau Meluas, Abu Capai Jakarta, Bandara Soetta Ditutup, 33 Penerbangan Terdampak
Paparan dapat menyebabkan sejumlah keluhan, seperti batuk, iritasi tenggorokan, mata perih hingga gangguan pernapasan, terutama pada kelompok yang rentan.
Karena itu, masyarakat yang terdampak disarankan mengurangi aktivitas di luar rumah selama abu masih beterbangan.
Apabila tidak tersedia masker, masyarakat dapat menggunakan kain bersih untuk menutup hidung dan mulut sebagai perlindungan sementara.
Masyarakat juga sebaiknya segera mencari tempat terlindung ketika terjadi hujan abu dan tidak melakukan aktivitas di ruang terbuka selama kondisi tersebut berlangsung.
Dampak abu vulkanik tidak hanya perlu diantisipasi dari sisi pernapasan.
Abu yang jatuh dapat mencemari makanan dan sumber air yang dibiarkan terbuka.
Karena itu, tempat penampungan air, sumur, makanan dan minuman sebaiknya ditutup untuk mencegah masuknya abu.
Buah dan sayuran yang terkena paparan abu juga harus dicuci hingga bersih sebelum dikonsumsi.
Warga dianjurkan membersihkan rumah dan lingkungan dari abu secara hati-hati serta menjaga kebersihan tangan dan makanan.
Langkah sederhana tersebut penting untuk mencegah masalah kesehatan tambahan selama kondisi pascaerupsi.
Masyarakat yang telah terpapar abu vulkanik diminta tidak mengabaikan munculnya gangguan kesehatan.
Keluhan seperti batuk terus-menerus, sakit atau iritasi tenggorokan, mata terasa perih, maupun sesak napas perlu diperhatikan.
Jika gejala semakin berat atau mengganggu aktivitas, warga dianjurkan segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Kelompok yang memiliki penyakit kronis, khususnya yang berkaitan dengan saluran pernapasan, juga perlu memastikan obat rutin tetap tersedia dan dikonsumsi sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Berhentinya erupsi menerus pada Minggu dini hari menjadi perkembangan positif, tetapi kondisi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu tetap membutuhkan pemantauan.
Masyarakat dan wisatawan juga tetap harus mematuhi rekomendasi PVMBG terkait kawasan berbahaya di sekitar kawah aktif.
Informasi mengenai perkembangan aktivitas gunung api dan sebaran abu dapat berubah mengikuti kondisi erupsi dan arah angin.
Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak disarankan terus mengikuti informasi resmi dari PVMBG, BMKG, BNPB/BPBD serta pemerintah daerah.
Erupsi boleh berhenti, tetapi abu vulkanik masih dapat bergerak jauh. Karena itu, kewaspadaan masyarakat tidak boleh ikut berhenti.
Meski erupsi menerus Gunung Anak Krakatau sempat berhenti pada Minggu (6/9/2026) dini hari, sebaran abu vulkanik masih terpantau meluas ke sejumlah wilayah. Abu yang telah terlepas ke atmosfer terbawa angin dengan arah dan ketinggian berbeda.
Berdasarkan informasi PVMBG dan Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin serta analisis citra satelit Himawari-9, BMKG mengidentifikasi dua klaster utama sebaran abu vulkanik.
Klaster pertama berada dari permukaan hingga ketinggian sekitar 20.000 kaki. Sebaran abu bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat serta perairan di sekitarnya.
Klaster kedua memiliki jangkauan ketinggian lebih tinggi, yakni dari permukaan hingga sekitar 50.000 kaki. Abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, dengan cakupan meliputi sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung dan Banten.
Dengan pola tersebut, sebaran abu vulkanik tidak hanya berdampak pada wilayah yang berada dekat dengan Gunung Anak Krakatau, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan penerbangan di wilayah yang berada dalam jalur pergerakannya.
BMKG terus memantau pergerakan abu menggunakan citra satelit. Perubahan arah angin dapat membuat wilayah yang terdampak berubah sewaktu-waktu.
Masyarakat di wilayah yang terpapar abu vulkanik diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus bepergian, gunakan masker yang menutup hidung dan mulut dengan baik serta pelindung mata bila diperlukan.
Bagi masyarakat yang berada di jalur sebaran abu, informasi terbaru dari BMKG, PVMBG, BNPB/BPBD dan pemerintah daerah perlu menjadi rujukan utama.
1. Kurangi Aktivitas di Luar Rumah
Sebisa mungkin tetap berada di dalam rumah ketika abu vulkanik sedang beterbangan.
Keluar rumah sebaiknya hanya dilakukan jika benar-benar diperlukan.
2. Gunakan Masker saat Harus Keluar
Pastikan masker menutup hidung dan mulut dengan baik sehingga udara yang dihirup lebih terlindungi dari paparan debu vulkanik.
3. Tutup Hidung dan Mulut dengan Benar
Ketika tidak memiliki masker, hidung dan mulut dapat ditutup menggunakan kain bersih, seperti saputangan atau selendang.
Perlindungan ini dapat membantu mengurangi paparan langsung abu vulkanik, terutama saat harus berada di luar ruangan atau mencari tempat berteduh.
4. Hindari Beraktivitas di Tengah Hujan Abu
Saat abu vulkanik turun, segera cari tempat yang terlindung dan hindari berada di area terbuka.
Abu yang beterbangan dapat terhirup dalam jumlah lebih banyak ketika seseorang beraktivitas di luar ruangan, sehingga meningkatkan risiko iritasi pada saluran pernapasan dan tenggorokan.
5. Jaga Kebersihan Makanan dan Minuman
Abu vulkanik tidak hanya dapat mencemari udara, tetapi juga makanan dan sumber air yang terbuka.
Tutup sumur, tempat penampungan air, serta makanan agar tidak terkena abu.
6. Terapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Menjaga kebersihan selama kondisi darurat akibat erupsi juga penting untuk mempertahankan kondisi tubuh.
Bersihkan rumah dari abu dengan cara yang aman, jaga kebersihan tangan, serta pastikan makanan dan minuman yang dikonsumsi tetap bersih agar kesehatan tetap terjaga.
7. Segera Periksa jika Muncul Keluhan Pernapasan
Jangan mengabaikan keluhan seperti batuk yang terus-menerus, sakit atau iritasi tenggorokan, sesak napas, maupun gangguan pernapasan lainnya setelah terpapar abu vulkanik.
Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan, terutama jika keluhan semakin berat.
8. Tetap Konsumsi Obat bagi Penderita Penyakit Kronis
Orang yang memiliki penyakit kronis perlu memastikan obat rutin tetap dikonsumsi sesuai anjuran.
Kondisi erupsi, paparan abu, stres, dan perubahan aktivitas dapat memperburuk penyakit yang sudah ada, termasuk gangguan pada saluran pernapasan.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti/Bangkapos.com)