Laporan Wartawan TribunBekasi Muhammad Azzam
TRIBUNBEKASI.COM, KARAWANG---- Abu vulkanis Gunung Anak Krakatau mulai dilaporkan berdampak ke wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada Minggu (6/9/2026) dini hari.
Warga Perumahan di Cengkong, Kecamatan Purwasari mengeluhkan kendaraan yang tertutup debu.
Selain itu juga lantai rumah yang berdebu dan saat diusap menggunakan tangan, debu itu berwarna kecokelatan.
"Iya tadi pagi pas mau keluar rumah buka gerbang jam 7 pagi, lantai terasnya kasar kayak ada pasir," kata Ica (33) warga Perumahan di Desa Cengkong Karawang pada Minggu (6/9/2026).
Tak hanya dilantai, ia melihat mobilnya yang berwarna putih juga penuh debu. Padahal, mobilnya baru saja dicuci.
"Mobil juga ada debunya, baru di cuci mobilnya. Sama teras lantai juga padahal baru disapu," kata dia.
Dia juga langsung membersihkan lantai dan mobilnya kembali dari paparan debu yang diduga abu vulkanik.
Dirinya juga meminta ada penjelasan pihak terkait di Karawang, apakah benar terjadi paparan abu vulkanik sampai dengan karawang.
"Kita juga perlu penjelasan, itu tuh abu vulkanik atau bukan. Kalau benar berarti kita perlu waspada," kata dia.
Kejadian adanya diduga abu vulkanik itu juga dilaporkan oleh warga Kepuh, Karawang Barat.
Lalu, berdasarkan laporan aplikasi cuaca di ponsel, suhu di Karawang mencapai 29 derajat dan ada tulisan Abu Vulkanik.
Selain Karawang, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau mencapai sebagian wilayah Jakarta, termasuk Jakarta Selatan.
Masyarakat pun diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik.
Halbtersebut disampaikan Wali Kota Jakarta Selatan, Syafrin Liputo melalui unggahan akun Instagram @syafrin.liputo pada Minggu (6/9/2026).
Dalam unggahan itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul informasi mengenai sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
“AYO GUNAKAN MASKER SAAT BERAKTIFITAS DI LUAR RUANGAN,” demikian imbauan yang disampaikan Syafrin, dalam unggahan tersebut
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mencatat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau telah mencapai sebagian wilayah Jakarta.
BMKG mencatat sebaran abu vulkanik Anak Krakatau sampai ke sebagian wilayah Jakarta berdasarkan analisis citra Himawari-9 pukul 04.00 WIB.
Abu vulkanik terpantau di sejumlah daerah, antara lain Bogor, Jakarta Selatan, Sukabumi hingga Bandung.
Laporan mengenai keberadaan abu tersebut juga bermunculan dari warga melalui media sosial, seiring masih berlangsungnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada Sabtu (5/9/2026) malam.
Baca juga: Anak Krakatau Erupsi, Warga Bekasi Keluhkan Debu Lebih Pekat Minggu Pagi
Berdasarkan keterangan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin yang membawa material erupsi ke wilayah yang lebih luas.
Dalam pemantauan tersebut, terdapat dua pola utama sebaran abu vulkanik. Sebaran pertama berada pada ketinggian sekitar 20.000 kaki dan bergerak ke arah tenggara hingga selatan dari Gunung Anak Krakatau.
Arah sebaran ini mencakup wilayah Banten dan Jawa Barat serta perairan di sekitarnya.
Sementara itu, sebaran kedua terpantau pada ketinggian sekitar 50.000 kaki.
Abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut Gunung Anak Krakatau dan berpotensi mencakup sebagian wilayah Lampung, Banten, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Selat Sunda hingga Samudera Hindia.
Kondisi tersebut menyebabkan abu vulkanik tidak hanya berada di sekitar Gunung Anak Krakatau, tetapi dapat terbawa angin hingga wilayah yang berjarak ratusan kilometer dari sumber erupsi.
Laporan warga mengenai abu vulkanik yang muncul di Bogor, Jakarta Selatan, Sukabumi hingga Bandung turut menunjukkan bahwa material erupsi telah menyebar cukup jauh.
Namun, intensitas dan ketebalan abu di setiap wilayah dapat berbeda bergantung pada arah angin, ketinggian material vulkanik, serta kondisi atmosfer.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau sendiri mengalami peningkatan sejak Jumat (4/9/2026) malam.
Erupsi menerus tercatat sekitar pukul 23.07 WIB dan disertai kemunculan lava fountain atau lontaran lava pijar dari kawah aktif.
Aktivitas tersebut juga menyebabkan sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda, termasuk Lampung, terdampak abu vulkanik.
Material erupsi yang terlontar ke atmosfer kemudian terbawa angin dan menyebar ke sejumlah wilayah.
Gunung Anak Krakatau saat ini masih berstatus Level II atau Waspada.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya erupsi dan tidak mendekati kawasan kawah aktif.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
Imbauan tersebut penting untuk mencegah masyarakat terpapar langsung potensi lontaran material vulkanik maupun bahaya lain yang dapat muncul selama aktivitas erupsi berlangsung.
Sebaran abu vulkanik juga perlu diwaspadai oleh masyarakat di wilayah yang terdampak.
Abu vulkanik dapat mengganggu jarak pandang dan kualitas udara serta berpotensi mengganggu kesehatan, terutama apabila terhirup dalam jumlah banyak.
Masyarakat di daerah yang mengalami hujan abu disarankan menggunakan masker dan pelindung mata serta mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi abu cukup pekat.
Perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan arah sebaran abu vulkanik masih perlu dipantau karena kondisi dapat berubah mengikuti aktivitas erupsi dan dinamika angin di atmosfer.(MAZ)