Laporan Wartawan TribunJatim.com, Benni Indo
TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Tumpukan buku memenuhi sebuah kios sederhana di kawasan Velodrome, Kota Malang, Minggu (6/9/2026) pagi.
Ruangan berukuran sekitar 2x5 meter itu nyaris tidak menyisakan ruang kosong.
Buku-buku bekas dan baru tersusun rapat, mulai dari novel, sejarah, motivasi, buku pelajaran, hingga bacaan tentang kebudayaan dan tokoh pewayangan.
Sebagian buku bahkan terbit puluhan tahun lalu.
Buku-buku keluaran era 1970-an dan 1980-an masih mudah ditemukan di sana.
Di tengah gempuran telepon pintar, e-book, dan toko buku daring, Amrullah Fakih tetap setia menjaga kios tersebut.
Ia telah berdagang buku sejak 1998. Lebih dari 25 tahun yang lalu. Sesekali orang datang, membungkuk di depan tumpukan buku untuk mencari judul yang mereka inginkan.
Lalu membacanya satu per satu. Ada pula yang datang membawa satu nama penulis dalam kepala. Dia cari-cari di antara ribuan tumpukan buku.
Pagi itu, misalnya, seorang pembeli menyela percakapan Amrullah dengan TribunJatim.com. Ia mencari buku karya Kuntowijoyo.
"Kuntowijoyo kalau tidak pesan tidak ada," jawab Amrullah kepada pembeli itu.
Baca juga: Pedagang Toko Buku di Trenggalek Semringah atas Kebijakan Pembebasan Retribusi, Operasional Ringan
Pemandangan seperti itulah yang membuat Amrullah bertahan.
Baginya, kedatangan pembeli menjadi penanda sederhana bahwa buku cetak belum benar-benar ditinggalkan.
Hatinya akan menjadi senang jika bisa memberikan buku yang dicari.
"Kadang kalau pembeli datang, otomatis kita, 'Oh, masih banyak toh yang baca buku.' Padahal persaingan sekarang ini kan enak lewat ponsel," kata Amrullah.
Kata Amrullah, banyak pelanggannya mencari buku-buku lama. Itu menjadi tantangan tersendiri bari Amrullah.
Pasalnya, ketersediaannya terbatas. Berbeda dengan buku-buku baru.
Berawal dari Jalan Sriwijaya
Perjalanan Amrullah bersama buku bukan baru dimulai kemarin sore. Cerita itu dimulai sejak keluarganya berjualan buku di Jalan Sriwijaya, depan Stasiun Malang.
Jualan buku itu sudah dilakukan sejak pertengahan tahun 1990-an, tepatnya 1994.
Amrullah kemudian menggantikan kakaknya dan mulai menekuni usaha tersebut sekitar tahun 1998. Tahun bergejolak di Indonesia saat itu.
Setelah lebih dari 10 tahun berada di Jalan Sriwijaya, pada 2010 toko buku itu berpindah ke kawasan Velodrome.
Sejak saat itulah Amrullah tetap setia menjaga toko bukunya yang berada di kios nomor 16.
Bercerita tentang sejarahnya di Jalan Sriwijaya, Amrullah mengatakan bahwa dahulu toko bukunya berlokasi berada di tengah kota.
Baca juga: Gebrakan Janus Coffee Batu, Renovasi Usung Konsep Library Cafe, Tempat Syahdu buat WFC dan Baca Buku
Orang mudah datang dan buku relatif mudah terjual. Kala itu, lawan pedagang buku praktis hanya sesama pedagang buku.
Berbeda seperti saat ini. Saat itu, internet belum menjadi pesaing. Orang-orang banyak datang ke toko untuk mencari buku.
“Kalau untuk berjualan buku, enaknya kan di Sriwijaya. Soalnya tengah kota. Kedua, otomatis buku semua laku,” kenangnya.
Masuk ke Dunia Digital
Keadaan berubah setelah internet tumbuh. Internet telah mendorong orang tidak harus datang ke kios untuk mendapatkan bacaan.
Buku elektronik dapat dibaca dari layar, sementara buku cetak bisa dicari melalui marketplace tanpa meninggalkan rumah.
Melihat kondisi tersebut, Amrullah justru memilih masuk ke arena yang semula menjadi pesaingnya.
Sejak setahun ini, ia belajar menggunakan media sosial dan marketplace. Untuk mempromosikan kiosnya di dunia digital.
Baca juga: Rekam Perjalanan Ulama Kota Santri, LTNNU Jombang Luncurkan Buku 21 Masyayikh NU Jombang
Strategi itu perlahan membawa orang dari layar ponsel menuju tumpukan buku di kiosnya. Amrullah juga mulai berbenah terhadap jenis-jenis buku yang ia jual.
Saat ini, banyak buku sastra yang menghiasi rak-rak bukunya. Promosi di internet telah mendorong orang datang ke kiosnya karena penasaran.
"Orang-orang itu banyak yang beli di marketplace, sekarang juga datang ke sini," ujarnya.
Bahkan, menurut Amrullah, setahun terakhir menjadi salah satu periode terbaik penjualannya selama berada di Velodrome. Dalam sehari, ia bisa menjual 20 buku mulai dari harga Rp 5.000,00.
Amrullah sangat sadar, untuk mempertahankan usahanya, harus ada inovasi jualan. Itulah yang membuatnya mengubah wajah dagangannya.
Jika dahulu kiosnya banyak diisi buku motivasi dan pelajaran, sekarang porsi novel diperbanyak.
Ia membaca kecenderungan pasar dan mencoba mengikuti bacaan yang sedang dicari generasi muda.
"Saya mengubah branding toko buku. Kan dulunya cuma buku-buku biasa-biasa. Sekarang mulai novel kesukaan anak-anak Gen Z," katanya.
Tetapi kejutan justru datang dari pembeli yang lebih dewasa. Beberapa hari terakhir, kata dia, sejumlah ibu-ibu juga datang mencari buku-buku lama. Mereka berburu bacaan yang pernah dikenal pada masa lalu, tetapi belum sempat dimiliki.
Harga buku pun beragam. Buku tipis bisa dibawa pulang mulai Rp5.000,00. Sementara beberapa buku sejarah dan tokoh pewayangan dapat berharga hingga Rp250.000,00.
Toko buku yang dikelola Amrullah buka sekitar pukul 13.00 hingga 17.00 WIB pada hari biasa. Pada Minggu, toko sudah buka pukul 09.00 WIB dan bertahan hingga sekitar pukul 15.00 WIB.
Bertahan karena Senang
Tahun ini, penjualan dari toko bisa mencapai 100 buku per pekannya. Jika digabungkan dengan penjualan online, jumlahnya bisa lebih banyak.
Tetapi angka itu belum berarti hidup dari buku telah menjadi mudah. Ketika ditanya apakah pendapatan berjualan buku cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, jawabannya pendek.
"Kalau untuk saat ini ya... masih kurang."
Amrullah memiliki tiga anak. Satu di antaranya telah lulus SMA dan bekerja. Dua anaknya masih duduk di SD dan SMA.
Karena itu, keluarga tersebut memiliki sumber penghasilan lain. Sang istri menjalankan usaha tempe dari rumah, sementara Amrullah berkonsentrasi mengurus buku.
Ada alasan lain yang membuat Amrullah tidak meninggalkan buku meski penghasilannya belum sepenuhnya mencukupi kebutuhan keluarga. Ia memang menyukai buku.
Tidak ada wasiat keluarga yang mengharuskannya mempertahankan kios. Tidak pula ada pesan khusus agar usaha itu diwariskan.
"Saya senang membaca. Hobi membaca, terus sekarang jualan buku, kok ada kepuasan tersendiri," tuturnya.
Karena itulah, satu pembeli yang datang pun memiliki arti. Masih ada orang yang memilih datang, menyentuh sampul, membalik halaman dan menemukan buku yang mungkin sudah bertahun-tahun mereka cari.
Amrullah kini berharap tempat para pedagang buku itu lebih banyak diperkenalkan. Menurutnya, dukungan yang paling dibutuhkan pedagang adalah promosi.
Menurut Amrullah, Pemkot Malang bisa membantu hal tersebut. Namun, sejauh ini belum dirasakan. Selama ini, promosi lebih banyak mereka lakukan sendiri melalui media sosial.
"Yang paling utama itu promosi. Promosi kurang. Kami itu promosi kurang," katanya.