Karhutla di Tarakan tak Cukup Hanya Dipadamkan, Akademisi UBT Wahyu Agang Dorong Pengelolaan Lanskap
Amiruddin September 06, 2026 07:14 PM

 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN - Kebakaran hutan dan lahan ( karhutla ) yang terjadi di Kalimantan tak terkecuali di Kota Tarakan turut disikapi akademisi Universitas Borneo Tarakan.

Dosen (Lektor) Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan (UBT), Mohammad Wahyu Agang, melihat persoalan karhutla tak sekadar pemadaman api, tetapi bagaimana mengelola kondisi lanskap agar api tidak mudah muncul dan menyebar.

Dalam perspektif kehutanan kata Mohammad Agang, kebakaran terjadi ketika bertemu tiga unsur penting.

Tiga unsur tersebut yakni bahan yang dapat terbakar, kondisi lingkungan yang mendukung dan  sumber penyulut. 

Ia kemudian menyinggung ketika berbicara El Nino, terutama bekerja pada unsur kondisi lingkungan. 

 

KARHUTLA BATU BARA - Wali Kota Tarakan, Khairul meninjau lokasi Jl Amal Lama, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, Senin (24/8/2026). Jalan tersebut sudah berlubang nyaris sampai setengah badan jalan akibat kebakaran hutan dan lahan yang mengandung batu bara.
KARHUTLA BATU BARA - Wali Kota Tarakan, Khairul meninjau lokasi Jl Amal Lama, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, Senin (24/8/2026). Jalan tersebut sudah berlubang nyaris sampai setengah badan jalan akibat kebakaran hutan dan lahan yang mengandung batu bara. (TribunKaltara.com/Andi Pausiah)

 

Baca juga: BMKG: Tarakan Dapat Kiriman Asap Karhutla, Jarak Pandang Sempat Turun 1 Km

Ketika periode kering berlangsung lebih panjang, kadar air vegetasi menurun, serasah dan semak menjadi semakin kering, sehingga bahan bakar di permukaan menjadi lebih mudah terbakar.

Namun dalam hal ini kata Mohammad, perlu diluruskan bahwa El Nino tidak menyalakan api.

El Nino memperbesar risikonya. 

Api tetap membutuhkan sumber penyulut, tetapi dalam lanskap yang semakin kering, api kecil bisa jauh lebih cepat berkembang.

Karena itu lanjutnya, pendekatan jangan hanya fire fighting atau mengejar api setelah muncul. Dalam pengelolaan kehutanan, yang lebih penting adalah mengurangi risiko pada tingkat lanskap.

"Kita perlu mengetahui kawasan mana yang mempunyai akumulasi vegetasi kering tinggi, riwayat kebakaran berulang, akses sulit, sumber air terbatas, serta berdekatan dengan permukiman atau aktivitas masyarakat," beber Mohammad Wahyu Agang di Tarakan, Minggu (6/9/2026).

Lebih lanjut ia menjelaskan, untuk Kota Tarakan, karakter kebakarannya tidak selalu sama dengan kebakaran hutan di wilayah pedalaman Kalimantan.

Kota Tarakan memiliki kombinasi kawasan berhutan, semak, lahan terbuka, kawasan peri-urban dan aktivitas manusia.

Karena itu, penanganannya harus berbasis karakter tapak, bukan satu resep untuk seluruh wilayah.

"Pada kawasan yang berulang kali terbakar, misalnya, pertanyaannya jangan hanya “bagaimana memadamkan api berikutnya?”, tetapi juga “mengapa kawasan ini terus menyediakan kondisi yang memungkinkan api kembali terjadi?”

Di situ pengelolaan vegetasi, akses, sumber air, sekat pengendalian kebakaran dan keterlibatan masyarakat menjadi penting," beber Mohammad Wahyu Agang.

Kemudian selanjutnya, teknologi hotspot, citra satelit dan drone tentu sangat membantu.

Tetapi menurutnya, teknologi bukan tujuan. 

Teknologi harus membuat manusia lebih cepat mengenali perubahan kondisi lanskap dan bertindak ketika api masih kecil.

Ia melanjutkan lagi, masyarakat juga tidak boleh ditempatkan hanya sebagai sumber risiko.

Dalam kehutanan modern, masyarakat justru merupakan bagian penting dari pengelolaan lanskap.

"Karena itu petani dan masyarakat sekitar kawasan rawan perlu dilibatkan dalam deteksi dini, patroli, pengelolaan vegetasi dan alternatif pengelolaan lahan tanpa bakar yang secara ekonomi memang dapat mereka lakukan," bebernya.

Sehingga lanjutnya, kembali membahas menghadapi El Nino, perlu bergeser dari pola “mengejar api” menuju “mengelola lanskap dan risiko kebakaran”.

"El Nino tidak bisa kita hentikan, tetapi kita bisa menentukan apakah lanskap kita dibiarkan semakin mudah terbakar atau dikelola agar lebih tahan terhadap kebakaran," tegasnya.

Selanjutnya ia juga menjelaskan persoalan kasus karhutla karena batu bara.

Ia memberikan pandangan bahwa batu bara di bawah tanah tak bisa langsung disimpulkan sebagai penyebab kebakaran lahan. 

"Bisa jadi hubungan keduanya lebih kompleks.

Kebakaran permukaan dapat berinteraksi dengan singkapan atau lapisan batubara, kemudian ketika batu bara sudah membara, kebakaran itu berubah menjadi persoalan bawah tanah yang jauh lebih sulit ditangani," terangnya.

Secara ilmiah, batubara memang dapat mengalami pemanasan melalui proses oksidasi ketika bertemu oksigen dalam kondisi tertentu.

Tetapi untuk memastikan apakah kejadian spesifik di Tarakan berasal dari pembakaran spontan, terpicu kebakaran permukaan, atau kombinasi keduanya, tetap diperlukan kajian geologi dan pertambangan di lokasi. 

"Jadi kita jangan terlalu cepat menyimpulkan mekanismenya.

Yang jelas, ketika api sudah masuk ke lapisan batubara, persoalannya berbeda dengan kebakaran semak biasa," lanjut Mohammad Wahyu Agang

Ia menambahkan, ketika api sudah masuk ke lapisan batu bara, api dapat bertahan di bawah permukaan, menyebar melalui lapisan tertentu, dan pembakaran material dapat meninggalkan rongga. 

Karena itu bahayanya bukan hanya asap dan api, tetapi juga potensi penurunan atau amblasnya permukaan tanah dan kerusakan infrastruktur.

"Jadi menurut saya, kasus Pantai Amal seharusnya mulai diperlakukan bukan semata-mata sebagai isu karhutla, tetapi sebagai bahaya geo-ekologis: persoalan geologi bawah tanah yang berinteraksi dengan vegetasi, cuaca, penggunaan lahan dan infrastruktur di permukaan," bebernya lagi.

Kemudian lanjutnya, jika perspektif ini digunakan, tindakan jangka panjangnya juga berubah.

Menurutnya tidak cukup hanya memadamkan titik yang sedang terbakar. 

Tarakan perlu mengetahui di mana lapisan atau singkapan batu bara dangkal berada, mana yang pernah terbakar, mana yang berada dekat jalan, permukiman, kampus dan fasilitas publik, serta bagaimana kondisi bawah tanahnya.

"Dengan kata lain, kita membutuhkan peta risiko kebakaran batubara bawah tanah, kemudian peta tersebut digunakan dalam penataan ruang, pembangunan jalan, mitigasi karhutla dan perlindungan masyarakat.

Jangan sampai  terus memperbaiki apa yang terjadi di atas permukaan, tetapi tidak pernah benar-benar memahami apa yang sedang berlangsung di bawahnya," pungkas Mohammad Wahyu Agang

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.