SURYA.CO.ID, SURABAYA – Erupsi Gunung Anak Krakatau bukan hanya menyemburkan material vulkanik dari kawahnya. Aktivitas gunung api di Selat Sunda (di antara Puala Jawa dan Sumatera) itu juga mengganggu perjalanan ratusan ribu orang, memaksa maskapai membatalkan penerbangan, dan membuat sejumlah perjalanan harus ditempuh melalui jalur darat dan laut.
Dampak tersebut terasa hingga Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (6/9/2026). Sejumlah penerbangan dari Terminal 1 (T1) Juanda tercatat berstatus “Cancel Due to Volcano” atau dibatalkan akibat aktivitas gunung berapi.
Pantauan wartawan Surya.co.id (Tribun Network) di papan informasi keberangkatan sekitar pukul 10.15 WIB menunjukkan sejumlah penerbangan menuju berbagai kota harus dibatalkan. Di antaranya Garuda Indonesia GA-327 tujuan Jakarta, Lion Air JT-706 tujuan Makassar, dan Wings Air IW-1805 tujuan Sampit.
Penerbangan Lion Air JT-697 tujuan Jakarta juga belum dapat dipastikan keberangkatannya karena berstatus “Delay UFN Due to Volcano”.
Sejumlah penerbangan yang dijadwalkan lebih pagi turut terdampak, seperti Batik Air ID-7510 tujuan Palangkaraya, Super Air Jet IU-674 tujuan Jakarta, Lion Air JT-693 tujuan Jakarta, Citilink QG-739 tujuan Denpasar, serta Garuda Indonesia GA-342 tujuan Jakarta.
Gangguan penerbangan di Juanda merupakan bagian dari efek domino erupsi Gunung Anak Krakatau. Sebaran abu vulkanik membuat sejumlah bandara melakukan penyesuaian operasional, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma.
Baca juga: Maskapai Citilink Minta Maaf dan Tawarkan Reschedule dan Refund Bagi Penumpang Imbas Anak Krakatau
General Manager Bandara Internasional Juanda Muhammad Tohir menyebut, berdasarkan kondisi operasional pada Minggu pagi, terdapat 36 penerbangan yang mengalami penyesuaian.
Sebanyak 34 penerbangan dibatalkan, sedangkan dua penerbangan mengalami penyesuaian jadwal atau berstatus delay/standby.
Dua penerbangan yang masih berstatus standby merupakan penerbangan Lion Air dengan rute Jakarta–Surabaya.
Untuk membantu penumpang yang terdampak, pengelola Bandara Juanda mengaktifkan layanan pemulihan dengan menyediakan makanan ringan dan minuman. Petugas keamanan bandara, terminal inspector, dan customer service juga disiagakan untuk memberikan informasi kepada penumpang.
Penumpang diminta terus memeriksa status penerbangan melalui kanal resmi maskapai atau menghubungi Contact Center Angkasa Pura Indonesia di 172.
Bagi penumpang, pembatalan penerbangan bukan sekadar perubahan jadwal. Ada pekerjaan, keluarga, biaya penginapan, hingga perjalanan lanjutan yang ikut dipertaruhkan.
Muhammad Zainul Fuad, warga Lumajang, Jawa Timur, misalnya, harus membatalkan penerbangannya menuju Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Ia seharusnya terbang dari Juanda pada pukul 15.00 WIB menggunakan NAM Air.
Baca juga: Daftar 42 Jadwal Penerbangan di Bandara Juanda Batal, Terdampak Erupsi Gunung Anak Krakatau
Ironisnya, ia baru mengetahui penerbangannya dibatalkan setelah tiba di bandara.
“Waktu berangkat dari rumah tidak ada notifikasi sama sekali. Sampai di sini baru tahu kalau pesawat dari Jakarta dibatalkan. Kata pihak NAM Air, refund-nya 100 persen,” ujarnya pada SURYA.CO.ID.
Zainul kemudian memilih membatalkan perjalanan dan mencari penerbangan lain, terutama penerbangan pagi, karena pada Senin (7/9/2026) sudah harus kembali bekerja.
Situasi serupa dialami Dewi Kartika, penumpang asal Kediri, Jawa Timur, yang hendak menuju Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Ia harus kembali bekerja di perkebunan sawit pada Senin.
Dewi memilih membatalkan penerbangan setelah mendapat informasi bahwa penerbangan berikutnya pun belum bisa dipastikan. Ia bahkan mempertimbangkan mencari penginapan untuk menunggu perkembangan kondisi penerbangan.
Kisah para penumpang tersebut menunjukkan bagaimana sebuah erupsi gunung api yang terjadi jauh dari bandara dapat menjalar menjadi persoalan sehari-hari: pekerjaan tertunda, perjalanan terputus, biaya bertambah, dan kepastian menjadi sesuatu yang sulit didapat.
Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub), erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu, 6 September 2026 telah berdampak pada sekitar 150.000 penumpang pesawat dan 764 penerbangan yang mengalami pembatalan maupun penundaan penerbangan.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan bahwa ratusan ribu penumpang tersebut terdampak akibat penutupan sementara enam bandara guna mengantisipasi sebaran abu vulkanik.
Dampak erupsi juga dirasakan tim Persebaya Surabaya.
Setelah bermain melawan Bhayangkara Presisi Lampung FC di Stadion PKOR Sumpah Pemuda, Lampung, Sabtu (5/9/2026), tim Persebaya harus kembali ke Surabaya melalui jalur darat dan laut karena terganggunya penerbangan.
Tim bertolak dari hotel pada Minggu pagi menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung, untuk menyeberang ke Merak, Banten. Dari Merak, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat menuju Surabaya.
Kapten Persebaya, Francisco Rivera, menyebut perjalanan tersebut menjadi pengalaman baru bagi tim.
"Akhirnya kami bisa mengerti bahwa para suporter juga melakukan perjalanan yang sama seperti ini untuk mendukung kami," tambah pemain asal Meksiko itu.
"Kami berharap semuanya baik-baik saja dan kami bisa secepat mungkin bisa sampai di Surabaya," pungkas Rivera.
Perjalanan panjang itu juga berpotensi memengaruhi persiapan Persebaya menghadapi laga berikutnya, yakni menjamu PSIM Yogyakarta di Stadion Gelora Bung Tomo pada Minggu (13/9/2026).
Di balik persoalan transportasi, 'tangis' Anak Krakatau juga membawa risiko kesehatan.
Pakar kebencanaan sekaligus anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap abu vulkanik sebagai debu biasa.
Karena itu, masyarakat di wilayah yang terdampak sebaran abu dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus keluar rumah, penggunaan masker dengan kemampuan filtrasi tinggi seperti N95 atau KN95, serta kacamata pelindung, lebih dianjurkan dibandingkan masker kain biasa.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat sejak Jumat (4/9/2026) malam. Erupsi berlangsung menerus dan disertai suara gemuruh serta semburan lava pijar atau lava fountain.
Pada Minggu pagi, Badan Geologi kembali mencatat erupsi susulan. Aktivitas vulkanik masih terpantau, sementara suara dentuman dan gemuruh dilaporkan terdengar di sejumlah wilayah Banten, Lampung, hingga Jawa Barat.
Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, dan pengunjung diminta tidak mendekati kawasan gunung api dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.
Meski aktivitas Anak Krakatau meningkat, Badan Geologi menyatakan kondisi gunung saat ini tidak menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Pertanyaan lain muncul setelah suara dentuman terdengar di Bandung Raya dan sejumlah wilayah Jawa Barat.
Pakar Vulkanologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Mirzam Abdurrachman, mengatakan kemunculan dentuman hampir bersamaan dengan erupsi Anak Krakatau belum cukup untuk memastikan bahwa keduanya memiliki hubungan sebab-akibat.
"Salah satu fenomena yang dapat dikaji adalah acoustic shadow zone atau zona bayangan suara," katanya dilansir Surya.co.id dari situs resmi ITB.
Kondisi atmosfer, termasuk perubahan temperatur serta arah dan kecepatan angin pada ketinggian tertentu, dapat membelokkan gelombang suara. Akibatnya, suara bisa tidak terdengar di wilayah yang lebih dekat tetapi justru terdengar kembali di wilayah yang lebih jauh.
Namun, fenomena tersebut baru merupakan salah satu hipotesis.
Untuk memastikan sumber dentuman, diperlukan pencocokan waktu erupsi dan waktu kedatangan suara, kondisi atmosfer, karakteristik sinyal, serta data dari berbagai lokasi.
Artinya, masyarakat sebaiknya tidak terburu-buru menarik kesimpulan hanya berdasarkan suara yang terdengar. (*)