Sukidi Ungkap Bahaya Politics of Division, Sebut Pembelahan Bisa Picu Politik Ketakutan di RI
Tribun-video September 06, 2026 10:42 PM

Pemikir Kebinekaan, Sukidi, menilai salah satu ciri fasisme adalah politik pembelahan atau politics of division.

Menurut Sukidi pada , politik ini bekerja dengan cara membagi masyarakat menjadi dua kelompok, yaitu 'kita' dan 'mereka'.

Ia menyatakan, mereka yang dimaksud ialah 'Londo Ireng' dan antek asing. 

Hal itu disampaikan dalam tayangan video di Instagram @rekamdoc pada Minggu (6/9)

Ia menyebut, dalam konteks politik, kelompok 'mereka' kerap diberikan stigma buruk, sementara kelompok 'kita' dianggap sebagai pihak yang berada di sisi kekuasaan.

Menurutnya, politik pembelahan tidak hanya terjadi pada masa pemerintahan Adolf Hitler. 

Namun, juga dapat muncul di negara demokrasi, termasuk Amerika Serikat pada era Donald Trump.

Sukidi menilai pola serupa juga dapat terjadi di Indonesia. 

Yakni, saat masyarakat dibenturkan antara kelompok yang mendukung kekuasaan dan kelompok yang memiliki pandangan berbeda atau bersikap kritis.

Ia mengatakan, kelompok yang berbeda pandangan dengan kekuasaan berpotensi mendapatkan stigma, intimidasi, hingga tekanan.

Menurut Sukidi, kondisi tersebut dapat menciptakan politik ketakutan. 

Sehingga masyarakat menjadi takut untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah.

Ia memperingatkan, politik pembelahan seperti ini dapat terus bekerja dan memengaruhi kehidupan politik dalam beberapa tahun ke depan.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.