Fakta Ada Gerimis Saat Kemarau di Beberapa Wilayah di HSS Kalsel, Terjadi Sekitar Lima Belas Menit
Edi Nugroho September 06, 2026 10:50 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Hujan gerimis sempat mengguyur wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) sore tadi.

Sebelum gerimis langit di wilayah HSS sempat terpantau cukup gelap dan sedikit angin hingga akhirnya di laporan beberapa titik turun hujan gerimis, Sabtu (5/9/2026).

Salah satu warga Desa Gambah Dalam, Kecamatan Kandangan, Syahrawardi, menyebutkan gerimis terjadi selama 15 menit.

“Memang tidak lama tapi setidaknya membasahi saat ini. Tadi informasinya di wilayah Hamak Utara, Kecamatan Telaga Langsat juga gerimis,” katanya, sore tadi.

Baca juga: Semarak di Lapangan Murjani Banjarbaru, Modifikator Adu Skill Meriahkan Honda Modif Contest 2026

Baca juga: Petani Batola Akui Terbatasnya Bibit Padi, Tak Bisa Maksimal Berocok Tanam

Terpisah Camat Telaga Langsat, Riduan mengakui memang terjadi gerimis di wilayah Kecamatan Padang Batung. Namun, kondisinya tidak deras.

“Hanya gerimis tapi langit memang agak mendung,” bebernya.

Salah satu warga Kandangan, Ahim berharap hujan segera terjadi di wilayah HSS dan Kalimantan Selatan agar tidak terjadi lagi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta kabut asap menghilang.

Berdasarkan pantauan Media Sosial (!Medsos) warganet menyebutkan beberapa wilayah yang gerimis dari Rantauan, Gambah Luar, Taniran Selatan, Bambam Utara, Amawang Kiri. Namun, wilayah Kandangan Kota terpantau tidak ada gerimis.

Sementara, Karhutla masih terjadi di beberapa titik di berbagai kecamatan, sehingga menyebabkan kabut asap. Hari ini Karhutla dilaporkan terjadi di Karang Rati, Desa Bangkau , Kecamatan Kandangan dan wilayah Kalumpang.

Diselimuti Kabut Asap

Pada awal September 2026, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi cuaca di Kalimantan Selatan pada Minggu (6/9/2026).

Berdasarkan pantauan BMKG waspada adanya potensi kabut asap di seluruh wilayah Kalimanyan Selatan yakni di Banjarmasin, Barito Kuala, Hulu Sungai Tengah, Banjarbaru, Banjar, Tapin, Tanah Laut, Tabalong, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Balangan, Tanah Bumbu, dan Kotabaru kabut berasap.

Hingga kini belum ada potensi hujan baik intensitas ringan hingga disertai petir di wilayah Kalimantan Selatan.

Peringatan Banjir Rob

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengingatkan potensi banjir rob di wilayah Kalimantan Selatan, pada awal September 2026.

Banjir rob yang terjadi diperkirakan akan berdampak pada wilayah Pesisir Perairan Kotabaru.

Dilansir melalui unggahan akun Instagram @cuacakalsel, Minggu (6/9/2026), BMKG mengimbau warga Kalsel agar selalu mewaspadai kenaikan air sungai.

Adapun penyebab dari banjir ROB yang terjadi lantaran adanya fenomena Perigee (jarak terdekat Bumi – Bulan) pada tanggal 7 September 2026 berpotensi meningkatkan ketinggian pasang air laut maksimum.

Berdasarkan pantauan data water level dan prediksi pasang surut, banjir pesisir (rob) berpotensi terjadi di pesisir wilayah Kalimantan Selatan. 

Masyarakat pesisir pantai diimbau agar selalu waspada untuk mengantisipasi dampak pasang maksimum air laut dan fenomena banjir pesisir (rob).

Pasang maksimum berpotensi terjadi di 

wilayah Perairan Kotabaru pada tanggal 

7 September hingga 11 September 2026 pukul 01.00 - 06.00 WITA dengan ketinggian maksimum mencapai 2.7 m.

Wilayah berpotensi terdampak:

Pesisir Banjarmasin dan Tanah Laut.

Sumber info pasang surut: PUSHIDROS TNI AL.

Hal ini berdampak pada terganggunya aktivitas keseharian masyarakat dan transportasi di sekitar pelabuhan dan pesisir, seperti kegiatan bongkar muat di pelabuhan, aktivitas di pemukiman pesisir, serta perikanan darat.

Hujan di Tengah Kemarau

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan mengenai fenomena masih turunnya hujan di sejumlah wilayah meskipun Indonesia telah memasuki periode musim kemarau.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, status musim kemarau tidak berarti hilangnya curah hujan sepenuhnya, melainkan adanya penurunan intensitas berdasarkan kriteria klimatologi tertentu.

"Sebenarnya musim kemarau itu bukan tidak ada hujan sama sekali Bapak Ibu sekalian, tetapi selama satu dasarian, satu dasarian itu 10 hari, itu curah hujan kurang dari 50 mm dan itu berlangsung selama tiga dasarian berturut-turut," ujarnya dalam rapat koordinasi di Kementerian Dalam Negeri, Senin (29/6/2026).

Secara teknis, BMKG juga menggunakan ukuran bulanan untuk menetapkan status musim di suatu wilayah.

Jika dalam satu bulan akumulasi curah hujan tetap berada di bawah 150 mm, maka kondisi tersebut secara sederhana sudah masuk dalam kategori kemarau meskipun masih terdapat hari-hari hujan.

"Secara sederhana dalam satu bulan itu hujan kurang dari 150 mm itu disebut kemarau," jelasnya.

Variasi kondisi cuaca

Faisal menambahkan, kondisi cuaca di Indonesia sangat bervariasi karena terbagi dalam 699 zona musim yang dipengaruhi oleh kondisi geografis dan geomorfologis tiap daerah.

Terdapat wilayah yang disebut "zona satu musim" seperti di bagian barat Sumatera, utara Kalimantan, dan sebagian Papua yang tetap memiliki curah hujan tinggi sepanjang tahun.

"Ini misalnya di Kota Bogor itu, itu zona satu musim Bapak Ibu sekalian. Kota Bogor tidak mengenal musim kemarau, ini misalnya contoh ya," ucap Faisal.

Baca juga: BMKG: El Nino Bakal Berlangsung Mulai Juni 2026 hingga Mei 2027

Namun demikian, masyarakat tetap diminta waspada mengingat tahun 2026 ini terdapat fenomena El Nino kuat dengan peluang 98 persen yang akan membuat musim kemarau terasa lebih kering dari biasanya, terutama di wilayah selatan khatulistiwa.

Puncak musim kemarau sendiri diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus hingga September mendatang.

(Banjarmasinpost.co.id/Adiyat Ikhsan/danti ayu sekarini/kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.