TRIBUNPRIANGAN.COM – Seperti yang kita ketahui bersama, Gunung Anak Krakatau mengalami rangkaian erupsi intensif sejak Jumat 4 September 2026 pukul 22.03.
Bahkan kini, dampak erupsi tersebut pun sampai menjangkau wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.
Bahkan diketahui, jika sebaran abu vulkanik tersebut pun hingga menutup sementara Operasional Bandara Internasional Husein Sastranegara di Kota Bandung pada Minggu 6 September 2026.
Banyak warga yang mengeluhkan terganggunya aktivitas terkait adanya abu vulkanik tersebut seperti lantai teras, kendaraan hingga dedaunan tertutup abu yang bertekstur licin serta kasar.
Lantas, apa saja dampak adanya abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau? Berikut ini dia sederet dampaknya.
Baca juga: Abu Vulkanik Erupsi Gunung Anak Krakatau Kepung Bandung Raya, Walkot Farhan Imbau Begini
Baca juga: Waspada Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau! BPBD Ciamis Imbau Warga Lindungi Diri
Dampak Sebaran Abu Vulkanik
1. Gangguan pernapasan
Abu vulkanik dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman hingga sesak, terutama pada kelompok rentan. BNPB menyebut dampak abu dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah.
2. Mata dan kulit mengalami iritasi
Baca juga: Wali Kota Tasikmalaya Belum Terapkan Kebijakan Khusus Terkait Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
3. Kualitas udara menurun
Abu yang terbawa angin dapat meningkatkan konsentrasi partikulat di udara dan membuat kondisi lingkungan berkabut atau berdebu.
4. Penerbangan terganggu
Ini menjadi salah satu dampak paling besar. Sebaran abu di ruang udara menyebabkan sejumlah bandara harus menghentikan atau membatasi operasional demi keselamatan penerbangan. Pada 6 September, sejumlah bandara termasuk Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II dan Budiarto terdampak.
5. Risiko terhadap mesin pesawat
Abu vulkanik berbahaya bagi pesawat karena dapat masuk ke mesin dan sistem pesawat. Karena itu, wilayah udara dengan konsentrasi abu perlu dihindari.
Baca juga: Update Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Masih Ada di Jabar hingga Bengkulu
6. Sekolah dan aktivitas pendidikan terganggu
Di sejumlah wilayah terdampak, kegiatan belajar mengajar dialihkan menjadi pembelajaran jarak jauh sebagai langkah mengurangi paparan abu kepada siswa.
7. Aktivitas masyarakat berkurang
Warga di wilayah yang mengalami hujan atau paparan abu diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan perlindungan seperti masker.
8. Aktivitas nelayan dan perairan terganggu
Sebaran material vulkanik juga berdampak terhadap aktivitas masyarakat di sekitar perairan Selat Sunda. Aktivitas penangkapan ikan sempat dihentikan di sejumlah wilayah karena kondisi yang tidak aman.
Baca juga: Antisipasi Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, BPBD Ciamis Gerak Lintas Sektor
9. Jarak pandang dapat berkurang
Konsentrasi abu yang tinggi di udara dapat mengganggu visibilitas, sehingga meningkatkan risiko bagi pengguna jalan maupun aktivitas penerbangan.
10. Kendaraan dan peralatan dapat terdampak
Abu yang masuk ke mesin, filter, atau komponen kendaraan dapat menyebabkan gangguan apabila paparan berlangsung terus-menerus. Karena itu, kendaraan yang terkena abu perlu dibersihkan dengan cara yang tepat.
Baca juga: Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Masih Kepung Jabar - Jakarta
11. Aktivitas ekonomi ikut terdampak
Ketika penerbangan, sekolah, perikanan, dan mobilitas masyarakat terganggu, kegiatan perdagangan, perjalanan, dan usaha di wilayah terdampak juga berpotensi mengalami penurunan.
12. Sebaran abu meluas ke sejumlah wilayah
BMKG pada 6 September mengidentifikasi klaster sebaran abu yang mencakup Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.