Sebelum Bentrokan Dua Kelompok di Polokarto Sukoharjo Pecah, Warga Lihat Ada Konvoi
Ryantono Puji Santoso September 07, 2026 02:30 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Suasana mencekam terjadi di Desa Mranggen, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, setelah aksi konvoi yang membawa bendera berujung pada bentrokan antarkelompok hingga massa masuk ke perkampungan warga.

Berdasarkan kesaksian warga yang enggan disebutkan namanya, rangkaian kejadian tersebut bermula pada Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 23.00 WIB.

Saat itu, warga melihat adanya konvoi yang membawa bendera melintas di kawasan tersebut.

Namun, warga mengaku tidak mengetahui identitas maupun kelompok yang melakukan konvoi tersebut.

Pada Minggu (6/9/2026) sekitar pukul 22.30 WIB, konvoi kembali terlihat melintas di kawasan tersebut.

Tak lama berselang, sekitar pukul 00.00 WIB, terjadi tawuran pertama.

Menurut warga, salah satu kelompok kemudian mundur ke arah selatan.

Situasi kembali memanas sekitar pukul 01.00 WIB.

Kelompok yang sebelumnya mundur ke arah selatan kembali ke lokasi dan tawuran kembali terjadi.

"Polisi dan personel TNI yang berada tidak jauh dari lokasi kemudian datang untuk mengamankan situasi," kata warga tersebut, Senin (7/9/2026). 

Salah satu massa kembali mundur ke arah selatan setelah aparat tiba di lokasi.

Sekitar pukul 02.00 WIB, jumlah aparat yang datang ke lokasi semakin banyak. Mereka kemudian berupaya melakukan negosiasi dengan massa yang terlibat tawuran.

Namun, situasi justru semakin memanas.

BATU BEKAS LEMPARAN. Batu bata yang dipakai kelompok bentrok di Polokarto, Sukoharjo pada Senin (7/9/2026) dini hari. Belum diketahui apa persoalan yang memicu bentrok tersebut. (TribunSolo.com/Anang Maruf Bagus Yuniar)
BATU BEKAS LEMPARAN. Batu bata yang dipakai kelompok bentrok di Polokarto, Sukoharjo pada Senin (7/9/2026) dini hari. Belum diketahui apa persoalan yang memicu bentrok tersebut. (TribunSolo.com/Anang Maruf Bagus Yuniar) (TribunSolo.com/Anang Maruf Bagus Yuniar)

Masuk ke Perkampungan Warga

Massa mulai bertindak anarkis dan menyerang hingga masuk ke area perkampungan.

Puncak ketegangan tersebut membuat warga yang berada di rumah memilih bertahan di dalam dan mengamankan anggota keluarga mereka.

Sekitar pukul 02.45 WIB, warga menerima imbauan melalui grup RT.

Warga diminta berhati-hati karena aparat akan menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa yang terlibat tawuran.

Sekitar pukul 03.00 WIB, massa akhirnya berhasil dipukul mundur ke arah selatan.

Bentrokan tersebut meninggalkan sejumlah kerusakan di lingkungan warga.

Baca juga: Bentrokan 2 Kelompok Pecah Lagi di Polokarto Sukoharjo, Warga Sebut Bukan Pertama Kali Terjadi

Rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan akibat terkena lemparan batu, tembakan kembang api, hingga aksi anarkis massa yang terlibat tawuran.

"Mobil warga yang berada di garasi terbuka juga mengalami kerusakan, termasuk bagian kaca yang pecah," papar dia.

Selain itu, sejumlah peralatan konstruksi dilaporkan hilang.

Warga juga menyebut sekitar satu kubik hebel hilang dan diduga digunakan massa untuk saling melempar.

Namun, kerugian material bukan satu-satunya dampak yang dirasakan warga.

Peristiwa tersebut juga meninggalkan trauma, terutama bagi anak-anak yang berada di rumah ketika bentrokan berlangsung.

Warga tersebut menceritakan, anak sulungnya mulai terbangun ketika serangan kedua terjadi.

Anaknya kemudian menangis ketika gerbang samping rumah didobrak oleh orang tak dikenal.

Sementara itu, anak bungsunya hanya bisa terdiam.

Tubuhnya bahkan gemetar hebat karena ketakutan mendengar suara orang saling berteriak, rumah dilempari batu, hingga tembakan kembang api.

"Kami berharap situasi kembali kondusif dan kejadian serupa tidak kembali terjadi," papar dia. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.